10 daysforASEAN #4: BEBAS VISA? ASYIK!

20130830-073433.jpg

Aku menganalogikan negara-negara ASEAN seperti sebuah kompleks perumahan. Antara satu rumah dengan rumah lainnya adalah bertetangga. Lazimnya tetangga, pastinya hubungan baiklah yang ingin dijalin. Hubungan baik itu bisa dibentuk dengan saling berkunjung, menghadiahi oleh-oleh, memberikan makanan, mengunjungi ketika sakit dan lainnya. Lambat laun hubungan jadi akrab. Jika sebelumnya harus menelepon dulu sebelum bertandang, kini cukup mengetuk pintu tanpa perlu membuat janji dulu.

Begitu pula dengan negara-negara ASEAN. Satu sama lain adalah tetangga. Kerjasama bilateral dan regional dibangun untuk mempererat hubungan dan vice versa. Jadi, layaknya tetangga, sepatutnya saling memudahkan urusan tetangga lainnya jika ingin beranjangsana. Analoginya adalah kalau cukup masuk ke negeri jiran dengan paspor, untuk apa visa? Iya, kan? Toh, kita saling bertetangga.

Aku baru dua kali mengurus visa, ketika akan ke China. Dan, o-oh, urusan visa ini bikin jantung berdegup lebih kencang dari seharusnya. Berbagai dokumen harus disiapkan. Lalu, menunggu persetujuan dari kedutaan yang dituju. Iya kalau diterima, kalau ditolak? Waktu dan uang melayang. Mengajukan secara online pun bisa. Tapi, namanya online, ada saja errornya. Tetap saja bikin jantung berdebar-debar. Khawatir di tengah proses, jaringan internet mendadak lemot dan lain-lain.

Aku bisa mengerti jika sebuah negara menetapkan visa bagi orang asing yang hendak masuk ke negara mereka. Tapi, sesama negara ASEAN akan lebih baik jika boleh masuk tanpa visa. Jarak antara negeri ASEAN berdekatan. Berbagai kemiripan dalam bentuk fisik, bahasa, kuliner dan alam membuat kita bukan orang asing bagi satu sama lain. Jadi, alangkah tak efektif dan efisien jika antara warga negara ASEAN harus memiliki visa untuk sekadar bertamu ke tetangganya. Maka, kusambut baik peraturan bebas visa yang kini berlaku untuk seluruh negeri ASEAN, kecuali Myanmar.

Ada ada apa dengan Myanmar?

Yah, kembali lagi ke analogi di atas. Ibarat tetangga. Tak semua tetangga dalam kondisi bahagia. Mungkin ada tetangga yang tertutup. Ada tetangga yang tak harmonis, keributan dalam rumah terdengar hingga ke luar dan sebagainya.
Kumisalkan Myanmar seperti itu. Mereka tengah diuji oleh keadaan negeri yang belum stabil. Berbagai permasalahan membuat mereka berhati-hati terhadap bermacam pengaruh dari luar negeri. Jadi, sangat bisa dipahami jika mereka memberlakukan visa bagi para foreigner, meski foreigner tersebut adalah tetangganya sesama warga ASEAN.

Walau demikian aku menyimpan harapan agar Myanmar suatu ketika nanti membebaskan visa bagi warga negara ASEAN. Bukannya apa-apa, sebagai emak-emak, aku ingin bisa melawat ke negeri tetangga tanpa harus rempong. Cukup paspor, sedikit uang dan satu buntel pakaian untuk melancong ke Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei, Vietnam, Cambodia, Laos dan Myanmar. Asyik, kan?

***
Foto diunduh dari tautan ini.