[Xenofobia] Bagimu dan Bagiku

Aku tak punya hak pilih untuk menentukan rupa wujudku ketika dilahirkan di dunia. Aku tak memilih untuk dilahirkan dengan warna kulit hitam legam seperti aspal atau putih mulus laksana pualam. Sama sepertimu, kan?

Aku pun tak kuasa menetapkan asalku ketika dihadirkan ke dunia. Apakah aku lahir dari rahim seorang perempuan suku mayoritas ataukah ras minoritas. Sama denganmu, kan?

Aku juga tak berdaya memastikan bentuk keyakinanku kelak, sejak tangis pertamaku meledak di alam fana. Akankah aku berserah diri kepada-Nya dengan menyimpuhkan keningku dalam sujud atau mengalungkan rosario di leherku atau membakar dupa-dupa atau bahkan tak mengakui-Nya dalam hidupku?

Tapi, pada akhirnya aku menyadari ….

Aku tak bisa menukar warna kulit dan silsilahku.

Namun, aku bisa memilih keyakinanku.

Dan aku telah memilih.

Keyakinan yang akan dan harus kuanut sampai mati.

Apakah aku menukar keyakinanku? Tidak, tentu saja. Aku hanya mengubah sikap dan cara pandangku terhadap keyakinan yang telah melekat sejak aku lahir.

Sama sepertimu, kan?

(Kau menggeleng)

Oh, jangan!

Jangan katakan kau mempercayai keyakinan kau karena orang tuamu, karena nenek moyangmu!

Jangan katakan kau membebek pada mereka!

Jangan! Sebab itu hanya akan menjumudkan pikiran, menyempitkan cara pandang, memrovokasimu pada prasangka-prasangka, menghasutmu pada kebencian bahkan melahirkan antipati pada mereka yang tak sama dengan warna kulit, ras dan keyakinanmu.

Bukankah aku dan kau memiliki akal dan hati? Bagaimana jika kita gunakan kelebihan kita dibanding mahluk lain itu?

(Kau menanyaiku)

Oh, bukan!

Akal kita memiliki keterbatasan untuk mempelajari bermacam keyakinan yang berbeda. Lagipula hingga matahari terbit dari barat pun, perbedaan adalah niscaya. Mustahil membuat aku, kau dan semua manusia memiliki pemahaman yang seragam. Maksudku, bagaimana jika kita menata hati dan menggunakan akal untuk belajar menghargai corak kita yang tak sama?

Menata hati. Sebab ternyata, ilmu pengetahuan (saja) tanpa membuka dan menata hati tak akan membantu mengobati prasangka, benci dan antipati yang merupakan ‘borok’ hati. Penyakit yang hanya bisa diterapi dengan menciptakan hati yang seharum melati.

(Kau menggeleng lagi)

Baiklah. Aku tak mau dan tak akan memaksamu untuk mengakui apalagi menghormati pilihanku. Bagimu keyakinanmu, bagiku keyakinanku.

Aku telah memilih dan aku tahu konsekuensi pilihanku. Aku hanya harus melakukan hal bermanfaat padamu, pada manusia dan pada seluruh semesta. Aku pun telah diberitahu, seseorang yang memilih keyakinan sepertiku selamanya akan dianggap asing. Tidak hanya sekarang, melainkan sejak dulu. Sejak aku dan kau belum ada hingga nanti ketika aku dan kau kembali tak ada.


***


L jegeg, semoga dirimu memahami kicauanku ini :”>

Matursuksema sudah menyelenggarakan lomba menulis Xenofobia. Mengajak Fe yang jumud untuk berpikir. Jazakillah … .

[Xenofobia] Bali, Terlalu Indah untuk Dilewati

Xenofobia. Saya mengingat-ingat peristiwa yang membuat saya bersentuhan dengan kata ini. Sepanjang ingatan saya, tak pernah seseorang atau sekelompok orang memandang asing pada saya yang menyebabkan mereka membenci saya atau melecehkan saya karena keyakinan yang saya anut.

Tapi, sebentar ….

Ya Allah, ternyata telunjuk ini harus ditoyorkan ke kening saya sendiri yang tanpa saya sadari, dulu, pernah menyemai benih-benih xenophobia terhadap BALI!

Entah sejak kapan saya menerima cara pandang salah kaprah tentang Bali, saya tak ingat. Dalam memori masa kecil saya, pulau Bali tak pernah ada dalam kamus liburan keluarga besar. Bukan karena jarak pulau dewata yang jauh dari tempat tinggal saya masa kanak-kanak dulu. Sebab, saya anak kolong. Orang tua saya kerap ditugaskan ke berbagai pulau di Indonesia. Jadi, kalau sekedar jalan-jalan dari Jakarta atau Bandung ke Bali, pastinya bisa. Kenyataannya, tak ada yang namanya wisata ke Bali.

Nuansa Bali yang eksotis, adat istiadatnya dan masyarakatnya yang bersahaja hanya saya saksikan lewat media elektronik, majalah dan nguping-nguping pengalaman orang yang sudah pernah pelesir ke sana. Keindahan Bali yang telah tersohor ke pelosok dunia, tidak menggelitik rasa penasaran keluarga besar saya untuk berkunjung ke sana.

Obrolan, celetukan atau pendapat orang-orang tentang Bali, yang sempat terekam di benak kanak-kanak saya, mengendapkan satu asumsi berbahaya dalam diri saya yang terus terbawa hingga saya dewasa, bahwa Bali identik dengan:

Mistik

Angker

Banyak babi, susah cari makanan halal.

Turis-turisnya yang telanjang.

Pendeknya, segala hal tentang Bali adalah jelek dan tak pantas untuk seorang muslim. Padahal kami berteman dengan orang Bali. Sahabat sesepuh saya pun orang Bali. Dalam pemikiran saya yang sederhana: berteman dengan Balinese, yes. Tamasya ke Bali, no!

Febi kecil (saya maksudnya) menyimpan pemahaman keliru tentang Bali dalam memorinya selama bertahun- tahun. Tak pernah pula mencoba menglarifikasi informasi itu. Bodor-nya, meski berbagai hal yang berhubungan dengan Bali katanya tak sesuai untuk seorang muslim, saya di masa kecil hapal ucapan salam di acara rohani agama Hindu yang kerap ditayangkan TVRI jaman dahulu kala, yakni:

Om shanty shanty shanty om .

Berbilang tahun terlewati. Saya beranjak remaja, SMA lalu kuliah. Penilaian tentang Bali dan segala hal yang berhubungan dengannya tak berubah sampai saya menjejakkan kaki di Singapore. Negeri mungil yang jelas-jelas berpenduduk mayoritas nonmuslim, jelas-jelas babi dan semua produk yang mengandung babi mudah didapati di sini, jelas-jelas ramai turis dengan beraneka gaya penampilan (dari yang biasa hingga aneh tapi nyata) gampang dijumpai di sini. Tapi, mengapa tak ada cerita negatif yang sampai ke telinga saya tentang negeri ini?

Saya yang pada mulanya tergagap-gagap menjalani kehidupan di Singapore, perlahan menjadi terbiasa dan belajar menerima perbedaan yang terpampang di hadapan saya. Perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa dan perbedaan keyakinan. Saya belajar untuk tak terganggu dengan ragam perbedaan tersebut. Bagi saya, untuk saya keyakinan saya, untuk mereka keyakinan mereka. Namun, pemahaman ini tak serta merta melunturkan stereotip yang telah terlanjur melekat di hati saya tentang Bali. Hingga suatu hari, sekitar tiga tahun lalu, salah satu teman dekat di Singapore yang saya tahu keshalihan dirinya dan keluarganya cerita bahwa ia akan berlibur ke Bali. Saya kaget namun menyimpan keterkejutan dalam hati. Bagaimana mungkin ia yang shalihah dan berjilbab rapat akan jalan-jalan ke Bali?

Lihatlah, hingga tiga tahun lalu saya masih terbelenggu dengan pemikiran yang picik! Apa salahnya seorang muslimah shalihah dan keluarganya jalan-jalan ke Bali, ya kan?

Mendengar rencana liburan teman saya itu, perlahan saya jadi berpikir tentang Bali. Tentang keindahan alamnya yang selama ini hanya singgah di telinga saya. Tentang keunikan budayanya yang kerap saya saksikan dalam penggalan-penggalan iklan di layar kaca. Lalu, tanpa bisa saya hindari, muncul dorongan kuat dalam diri saya untuk mengunjungi Bali. Ya, saya yang dulu apriori pada Bali malah ingiiin sekali jalan-jalan ke Bali. Ndilalah, ketika keinginan itu terbetik, jalan untuk ke sana pun dimudahkan-Nya. Saya sekeluarga dapat tiket pesawat promo Singapore-Bali yang harganya cukup terjangkau untuk kantong kami saat itu. Tak perlu pikir dua kali, saya sekeluarga memutuskan berlibur ke Bali. Mencari banyak informasi tentang Bali. Menghubungi relasi untuk mendapatkan akomodasi yang murah meriah dan lucunya sangat ‘mBali’. Saya malah ingin bermalam di penginapan yang bentuk fisik dan desain interiornya justru sangat khas Bali. ‘Cita-cita’ itu kesampaian. Saya tinggal di penginapan Puri Dewata selama di Bali. Mama dan tante saya malah menyusul kami ke Bali.

Kami di depan gerbang hotel

Sempat terbetik pertanyaan tentang bagaimana mencari makanan halal selama di sana? Bagaimana dengan tempat wisata yang merupakan tempat sambahyang mereka? Ah, saya tak ingin mempersulit diri untuk mencari jawabannya. Toh, selama ini saya tinggal di Spore. Saya pasti bisa mengatasi ‘persoalan’ itu. Keyakinan yang membuat saya salut pada diri sendiri :D.

Ketika akhirnya kaki saya menginjak Bali, menjejak di pasir basah pantai Kuta, memandang hijau biru air laut pantai Pecatu, menghirup sejuk udara di Bedugul, menatap kuning keemasan tangkai-tangkai padi di Tegal Alang, saya tak mampu berkata-kata. Ya Allah, alangkah cantiknya. Alangkah cantiknya ….

Indahnya Bali ‘menyihir’ seluruh indera di tubuh saya, membuat saya takjub pada ke-MAHA-an-NYA sekaligus merutuki diri sendiri. Betap
a bodohnya saya selama ini, mau saja termakan omongan orang-orang di masa lalu tentang Bali yang begini dan begitu. Kenyataannya, selama saya di sana masih bisa menjumpai makanan halal, saya tak harus dan tak diharuskan untuk masuk pura, gaya turisnya serupa dengan yang biasa saya lihat di Singapore. Saya sempat makan di restoran halal di daerah Bedugul, pengemudi speed boat yang kami sewa untuk mengelilingi danau Beratan pun seorang muslim. Saya bahkan sempat bertemu dan bercakap-cakap sebentar dengan seorang muslimah yang asli orang Bali di mushala kecil di bandara Ngurah Rai. Ia bercerita bahwa masyarakat muslim dan masyarakat Hindu di Bali hidup berdampingan dengan damai. Bahkan pada masa lampau kerajaan Hindu melindungi kaum muslimin. Sungguh kabar yang baru saya ketahui. Saya jadi berandai-andai ….

Andai orang-orang di sekitar saya yang dulu turut andil menanamkan syakwasangka tentang Bali pada diri saya (tanpa mereka sadari) mengetahui kabar ini, andai mereka menapakkan kaki mereka di pulau ini, akankah mereka masih menyimpan prasangka buruk tentang Bali? Namun, salah saya juga. Seharusnya jangan memelihara prasangka. Sepatutnya, saya saring lagi informasi yang sampai kepada saya, saya telaah lagi kebenarannya sembari terus membersihkan hati. Sebab, prasangka adalah penyakit hati yang pastinya hanya bisa diobati dengan membersihkan hati.

Saya beruntung tak mengristalkan pemahaman salah tentang Bali sepanjang hidup saya. Dengan ijin-Nya, saya ingin menyambangi Bali lagi. Kedamaian roda hidup di Bali dan kecantikan alamnya adalah kekayaan yang terlalu indah untuk dilewati.

***

Meramaikan lomba yang diadakan oleh Lessy Jegeg 🙂

[Aku dan Kain Gendongan] Sebal-Sebal Suka

Aku bukan berasal dari Jawa. Ditelusuri dari atas hingga ke bawah silsilah pun, tak ada darah Jawa mengalir di tubuhku. Tapi, jarit yang merupakan warisan budaya Jawa justru tak asing di kehidupan keluargaku.

Sejak masih anak-anak hingga aku punya anak, mama tak pernah menggendong dengan kain lain kecuali jarit. Sebelum menikah, aku tak pernah ambil peduli pada sehelai batik panjang dengan aneka rupa motif itu. Bagiku, menggendong bayi atau balita dengan jarit merupakan pemandangan biasa. Aku tak tergerak sedikit pun untuk mempelajari cara menggunakannya. Hingga tiba masaku melahirkan dan mengasuh anak.

Menyesal memang selalu belakangan. Aku menyesal karena tidak sejak dulu belajar memakai jarit sebagai gendongan. Kalau saja aku mempelajarinya sejak lama, pasti sekarang sudah terampil mengenakannya. Ketidakluwesan ‘mengoperasikan alat’ ini bikin aku sebel-sebel suka dengan kain yang dijuluki jarit ini.

Jadi begini ceritanya ….

Aku melahirkan anak pertama di Bandung. Kelahiran anakku disambut gembira oleh orang tua dan keluarga besarku. Sejak beberapa bulan sebelum melahirkan, mamaku banyak membantu menyiapkan segala keperluan calon bayiku yang juga merupakan calon cucu pertamanya. Gurita, baju, popok untuk bedong, kaos tangan, kaos kaki, minyak telon, bedak, semuanya, deh. Tak ketinggalan jarit! Nenek dari suamiku bahkan menghadiahi bayiku tiga atau empat jarit! Ternyata, bagi orang Jawa, jarit memiliki nilai filosofi. Aku tidak paham filosofinya. Pastinya nenek suamiku memberikan jarit untuk tujuan yang baik.

Mulanya aku tak begitu peduli dengan keberadaan si jarit ini. Tapi, sejak bayiku pulang ke rumah, dirawat oleh mamaku (karena aku masih cupu, masih takut-takut merawat bayi) baru kusadari kalau si jarit sangat dekat dan bermanfaat untuk bayiku. Setiap pagi, usai bayiku dimandikan, dibedaki, disalinkan baju, dibersihkan kuping, ia pun digendong dengan jarit. Bayiku terbungkus gendongan jarit. Digoyang kanan kiri seraya dinyanyikan. Aku melihat bayiku nyaman sekali dalam buaian jarit. Meski tertutup jarit, bayiku tak kepanasan. Tahu sendiri suhu kota Bandung, kan? Duiiingiiiin. Bayiku pasti merasa hangat dalam dekapan jarit yang disampir di pundak mamaku.

Bisa dibilang, begitulah rutinitas bayiku setiap pagi. Beres dibersihkan, ditidurkan dalam gendongan jarit. Hari-harinya lekat dengan gendongan ini. Bahkan hampir tiap malam sebelum tidur. Pun ketika ia menangis! Setiap orang tua yang ada di rumahku (mama, tante, uwak) akan dengan senang hati menyambar jarit dan mulai menggendong bayiku. Bergoyang sambil bernyanyi, meredakan tangis anakku atau sengaja menidurkannya. Setiap orang, kecuali aku. Iya, aku yang ummi anakku malah tak pernah menggendong bayiku dengan jarit. Aku lebih sering menggendong langsung dengan tangan tanpa bantuan apapun.

Tentu saja aku senang dengan kesigapan para orang tua yang membantu mengasuh bayiku. Sebagai ibu baru, rasanya tenang banyak bala bantuan yang siaga menolongku. Namun, lama kelamaan ketenangan itu berubah menjadi kecemasan. Pasalnya, menurut analisaku yang sederhana, bayiku mulai terbiasa dengan gendongan jarit. Ia lebih lama tidur dalam gendongan daripada di atas kasurnya. Aku yang masih sering panik menghadapi tangis bayi semakin panik melihat anakku kerap rewel dan tidurnya hanya sebentar, kecuali dalam gendongan. Jika dulu aku senang dengan uluran tangan mereka untuk menggendong, lama kelamaan aku meradang. Aku tak suka jika anakku digendong. Aku merasa, si jarit yang tadinya alat penenang berbalik jadi boomerang. Hatiku semakin dongkol ketika salah seorang di antara mereka, sebut saja tanteku, malah berkata begini:

“Anak jangan kebiasaan digendong, nanti kamu yang susah. Apalagi di Singapore tidak ada yang bantu.”

Mendengarnya bukan membuatku sumringah, aku malah ingin mengomel-omel di hadapannya, tapi kutahan. Siapa juga yang sering gendong anakku? Kan kamu! Kesalku dalam hati.

Tampaknya, prediksi si tante benar adanya. Awal mula kembali ke Spore, setelah tiga bulan melahirkan menetap di Bandung, anakku acapkali rewel. Entah karena Singapore bercuaca panas, entah karena anakku biasa digendong, entah karena hatiku yang rusuh, anakku sering sekali menangis. Aku yang belum pengalaman mengurus bayi dilanda panik pangkat tujuh enam. Tentu saja aku tak lupa membawa si jarit ke Singapore. Tapi, aku tak pernah memakainya untuk menggendong karena aku tak bisa. Lagi pula, digendong jarit di cuaca yang panas seperti Singapore kelihatannya bukan pilihan yang bagus. Maka, fungsi jarit sebagai gendongan kuubah menjadi alas kasur.

Benar kata orang, dalam keadaan darurat atau terpaksa, kadang seseorang bisa melakukan hal yang tadinya tak mungkin dilakukannya. Menggunakan gendongan jarit salah satunya. Suatu ketika, masih di Singapore, anakku demam. Aku harus membawanya ke dokter. Ketika itu, aku punya dua gendongan yakni jarit dan gendongan instan yang biasa digunakan sekarang. Aku bingung harus memakai yang mana? Namun, mengingat di luar hujan dan cuaca cukup dingin, kuputuskan menggunakan jarit. Entah bagaimana caranya, aku berhasil melilitkan jarit ke pundakku. Ada secuil rasa bangga ketika akhirnya aku bisa menggendong anak dengan jarit. Ternyata, gampang kok pakai gendongan jarit, pikirku sombong.

Kesombongan memang bukan milik manusia, ya? Meski hanya secuil sombong, Allah tidak suka.

Kesombonganku bisa pakai jarit dengan ‘gampang’, diuji usai memeriksakan anakku di dokter. Sewaktu diperiksa, otomatis kubuka gendongan jarit. Kubaringkan anakku di kasur dokter. Nah, saatnya memakai jarit kembali, kupikir akan se-easy sebelum ke dokter. Nyatanya, aku susah sekali melilitkan kain ke pundak untuk mendapatkan posisi uwenak. Baik uwenak untukku maupun untuk bayiku. Entah karena diperhatikan Bu Dokter atau karena memang tak bisa, aku kepayahan memasang jarit seperti semula. Bu dokter mengangguk-angguk, memandangku dengan tatapan prihatin. Aku jadi salah tingkah, tersenyum kikuk. Malu dan rikuh. Setelah beberapa menit menegangkan, aku menghembus napas lega karena berhasil menyelempangkan jarit ke pundak meski hasilnya tak sebaik sebelum aku pergi ke dokter. Namun, malu diperhatikan dokter dengan tatapan prihatin tak langsung memudar. Malu banget. Masa pakai jarit aja repot? Mungkin begitu yang ada dalam pikiran sang dokter.

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi memakai jarit sebagai gendongan. Aku tidak cukup tangguh untuk menaklukan si jarit. Jarit kupakai sebagai alas kasur. Fungsi ini bertahan cukup lama. Seperti terlihat di foto. Saat itu anakku berusia dua tahunan. Jarit masih menjadi alas kasur tempat mainnya. Walau bagaimana pun, aku tetap berterima kasih pada jarit. Ia membantu menenangkan bayiku di awal-awal kehadirannya di dunia.

Ket. foto: anakku dan eyangnya. Jarit menjadi alas kasur tipis tempat mainnya

Pengalaman ini kuikutsertakan di lomba menulis Aku dan Kain Gendongan
Lebih kurang 930 kata 😀

[FF Ninelights] ISTRI KEDUA

Hari Sabtu yang menyebalkan. Hampir seharian kerjaku hanya mencuci dan menjemur baju. Hatiku sedang misuh-misuh ketika lamat-lamat kudengar suara mendayu-dayu.

Masak-masak sendiri

Makan-makan sendiri

Cuci baju sendiri

“Perasaan ini di Singapur, kenapa ada lagu dangdut?” Kutajamkan telinga untuk lebih meyakinkan diri.

Masak-masak sendiri

Makan-makan sendiri

Cuci baju sendiri

“Benar, dangdut! Pasti kerjaan Iis, PRT di lantai tujuh!” Gumamku.

Segera ku-sms dirinya.

Is, majikan lagi out, ya? Dangdutnya sampe ke lantai delapan nih!

Eheheh, Ibu bisa aja. Dari pada sepi, mending dangdutan, Bu. Balas sms-nya.

Dasar Iis! Pikirku geli.

Masak-masak sendiri

Makan-makan sendiri

Cuci baju sendiri

Duuuh, kok mirip banget sih dengan keadaanku? sungutku.

Semua kulakukan sendiri. Padahal ini hari libur. Harusnya, jatahku berduaan dengan abang. Aku kan istri pertamanya!

Dangdut masih mengalun. Bukannya terhibur, liriknya seakan-akan mengejekku. Emosiku jadi mengubun-ubun. Kutinggalkan jemuran yang masih menimbun. Kuhampiri abang dengan napas naik turun. Benar saja, ia sedang asyik-masyuk dengan madunya. Sengaja, kuhentakkan kaki, memelototkan mata dan berkacak pinggang di hadapannya. Berharap ia memalingkan wajah dari pujaannya. Eh … bukannya terganggu, malah aku yang dibuat terkejut dengan teriakannya,

“GOOOLLLL!”

Ya ampun, untung aku tak punya sakit jantung!

“GOOOLLLL!”

Kali ini, ia bahkan melompat dari tempat duduk.

“GOOOLLLL!”

Pupus sudah harapanku, tak mungkin abang menoleh ke arahku.

Kulangkahkan kaki dengan gontai, melanjutkan kegiatan menjemur. Lenyap sudah hasratku memisahkan abang dengan ‘istri keduanya’, si liga bola di TV itu.

***

Jumlah kata 224.

***

FF ini diikutsertakan di lomba menulis FF NINELIGHTS PRODUCTION

Terinspirasi dari lagu dangdut berjudul Angka Satu-Caca Handika 😀

[Batam FF – Lebaran] Episode Buntu

Sekelilingku gelap. Hujan menampar-nampar. Bayiku merengek-rengek. Kakaknya terisak pelan.

“Sabar, Sayang…” ucapku seraya mengelus punggungnya.

Padahal, aku tengah menghibur diri sendiri. Katakan padaku, bagaimana bersabar dalam ruang sempit dan pengap? Meregangkan tangan tak bisa, menyelonjorkan kaki apalagi. Gerah pula. Heran, jaman seperti ini kok masih ada yang tak memakai penyejuk ruangan? Lagu dangdut yang mengalun dari radio usang, bersaing suara dengan derasnya hujan.

Kuarahkan cahaya handphone ke samping, melihat suamiku. Arrghhh! Bisa-bisanya dia tertidur pulas? Memang sudah tengah malam, sih. Tapi, bahkan dua anak kami masih menyalakan mata. Suami? Malah menari di alam mimpi!

Kesal membuatku lapar. Kurogoh-rogoh biskuit dalam tas. Tak ketemu. Bagus, lengkap sudah penderitaanku!

Namun, Allah memang Maha Baik.

Rinai hujan mereda.

Kubuka jendela lebar-lebar.

“Ahhh, akhirnya!” Kuhirup udara sepuasnya.

Asap rokok ikut terhisap ke paru-paruku. Umpat kekesalan ikut mampir ke telingaku.

“Gelo!” seru supir di seberangku. “Lima jam ti ditu ka Nagrek!”

“Komo abdi ti seberang,” timpal supir di depanku.

Penumpang di belakangku terbangun, “Tos di mana?” tanyanya.

“Lewat sakedik ti Nagrek, Bu.” jawabku.

Lalu, matanya memicing kembali. Kok bisa?


Aku menghela napas panjang. Menyesali mobil travel butut yang kutumpangi belasan jam lalu.

Ugh, apa nikmatnya perjalanan ini?

Sayangnya, keluhan tinggal keluhan . Aku tetap terperangkap dalam macet arus mudik lebaran, dalam mobil minibus tua tanpa penyejuk ruangan, bantalan kursi yang keras dan barisan panjang kendaraan. Kuhembuskan napas keras-keras. Berharap si supir mendengar, berharap suamiku mendengar, berharap penumpang di belakangku mendengar. Namun, dendang dangdut melenakan semuanya.

***

240 kata

Lomba FF MPers Batam

[BATAM FF PERJUANGAN – KULI DAN PERAGAWATI]

KULI DAN PERAGAWATI

Aku meneliti area kerja yang akan kugarap.

Hmm, sulit juga medannya. Di kanan, atas dan paling belakang. Duh!

Belum apa-apa, peluh bermunculan di keningku. Padahal di sini sejuk. Atasan yang berdiri di dekatku, menambah bertalu detak jantungku.

Oh Tuhan, mampukah aku?

Kulirik sekilas rekan-rekan yang berdiri di seantero tempat ini. Semua tengah sibuk. Ada yang mengatur lampu, mengaduk semen, memilin kawat dan…

Oh, no!

Atasanku yang cantik semampai bak peragawati datang lagi.

Cepat-cepat kuraih alat. Kulekatkan pada objek kerjaku. Tuh kan, benar dugaanku. Kondisinya masih bagus. Tapi, karena posisinya mengganggu, mau tak mau memang harus disingkirkan. Kugerakkan alat bantu ke depan dan belakang. Kuputar-putar. Belum ada perubahan.

“Psstt, susah?” bisik Prita, rekanku. Ia meminjam cetakanku saat sang atasan berlalu.

“Banget!” keluhku pelan.

Aku kembali bekerja. Setengah jam berlalu dan belum ada perubahan berarti pada hasil kerjaku.

AKU BISA! AKU BISA!

Teriakku dalam hati, menyemangati diri sendiri.

Kuulang lagi gerakan depan, belakang dan memutar. Hampir satu jam dan aku masih belum berhasil mengatasinya. Keringat dingin membanjiri tengkukku. Bagaimana kalau tak selesai hari ini? Alamat buruk! Sidang komprehensif pasti diundur lagi. Wisudaku tak mungkin tahun ini. Mataku panas mengingat kemungkinan yang akan terjadi.

“Belum selesai juga?” suara atasanku menegakkan tubuhku yang lunglai.

“Sini, beri tangnya.” Ia mengambil alih pekerjaanku. Melakukan gerakan yang sama denganku. Depan, belakang, putar dengan luwes namun bertenaga.

Voila, si gigi bungsu tercabut!

Ini dia dokter gigi sejati. Bodi boleh peragawati tapi tenaga harus kuli!

Aku jadi malu hati.

***

241 kata

***

Asyik juga meramaikan lomba FFnya MPers BATAM 😉

[BATAM FF RINDU – DARI BALIK JENDELA]

DARI BALIK JENDELA

09.30

Kulirik jendela. Sedang apa kamu sepagi ini? Selesai shalat shubuh?

12.03

Saatku makan siang. Kamu pasti tengah menyuapi bayimu.

16.35

Oh…, please, buka jendelamu. Bukankah ini waktu luangmu? Ada seribu cerita yang ingin kubagi denganmu. Eh, kamu masih mau kan membaca ceritaku?

Mataku menerawang mengingatmu. Hariku semakin berwarna sejak mengenalmu. Tawamu, kisahmu, candamu membuatku tak bosan memilin waktu. Padahal ribuan kilometer memisahkan kita…

Jadi, sudah berapa hari kita tak jumpa? Bukan hari, tapi minggu!

18.37

Oh, come on! Kenapa jendelamu masih tertutup juga? Bukankah biasanya kau yang justru menyapaku pada jam-jam ini? Baiklah, kulanjutkan membaca novel sambil menunggumu.

22.10

What? Sudah malam!

Kamu tahu, aku bahkan tak menyadari waktu demi menunggumu. Kenapa kau tak muncul juga? Sehat-sehat sajakah dirimu? Aku tak akan tidur sebelum sempat melihatmu.

02.10

TING!

Bunyi yang telah sangat kuhapal. Suara dari dunia maya. Cepat kudorong kursi rodaku ke depan laptop. Segera mengetik.

Widya is typing…

I’m sleepy, u know! Jam dua dini hari di sini. Apa kabarmu? Kamu sehat? Lama nian kita tak ‘ketemu’? Aku menunggumu sampai-sampai begadang, lho!

Aisha Deepjyoti is typing…

Haha. Here is 10 pm. Too early to sleep. Sorry, dear, I’m busy nowadays…

Lalu, mengalirlah ceritamu tentang negerimu nun jauh di lautan India, tentang anak-anakmu, tentang hobimu, tentang semua yang mampu membuatku tersenyum!

Ah, Aisha, selama aku baca kabarmu, tahu dirimu sehat, meski hanya lewat jendela Facebook, kangenku sama kamu tuntas sudah sahabat!

***

232 kata

***

Setelah sekian lama tidak menulis FF, mencoba-coba peruntungan di sini ^_^ –> lomba FF MP-ers BATAM