Why Did You Follow Me?

What did u find in my blog?
You found nothing in here, rite?
So, why did you follow me?

Since Dec 2013 i haven’t written anything because I went mudik. No time to write let alone do online.
Then, I went back to my home on the end of Dec, back to my routine activity which is mean busy with housework again.
I was happy to see my laptop but then i found my laptop spoiled. I didn’t know what happened to it. I cant even switched it on. Sigh.
Since that time i felt sooo lazy to write something. I felt lazy to read too. How come? Didnt read my hobby?
I think, i need some rest to gain my spirit of write and read.

And today, it sud be a happy day because it is Jumat Mubarak.
But, i felt so sad. I dunno what happen to myself. And I didnt mean to let you ruin with me.
I think, my sadness is an accumulation of some circumstances that happened to me during the middle of March till this April.
What i didnt expect, it gave an effect to my swimming class today.
Yes, i dont want to blame something, but i wasnt able to came to the class last week amd two weeks ago, so i have less practise, so I became fear to do floating (see floating! Not swimming). I didnt confident to do it. During 1.5 hour, i only did breathing and try to learn standing in the water (again).

My coach said, “you can do it. I saw u can do floating even kicking. U ur self who was thinking that u cant do it. And for it, i cant help u.”
So true.
What a poor me 😦

I think, I have to ‘wake up’ and be positive thinking!

37 Kebiasaan orang tua yang menghasilkan perilaku buruk pada anak

Kumpulan Kisah Lama

Pertama kali dapat buku ini sekitar 2 tahun yang lalu, waktu itu teman merekomendasikan buku ini, akhirnya jadi tertarik dan ikutan beli, bukunya sendiri tipis, tapi tips tips yang di buku ini sangat bermanfaat buat saya pribadi, makanya jadi ingin turut membagi tips tips yang ada di buku ini.

  • Apakah anda mulai merasa kesulitan mengendalikan perilaku anak anda?
  • Apakah anda dan pasangan sering nggak sepaham dalam mendidik anak anak?
  • Apakah anak anda sering merengek dan maksa untuk dituruti kemauannya?
  • Apakah anak anda sering berantem satu sama lain?
  • Apakah anda kesulitan karena anak anda selalu nonton tv atau maen ps?

Jika anda menjawab ya dari salah satu pertanyaan diatas, maka ada baiknya baca tips tips dibawah ini. Berikut ini adalah tips tips dari buku Ayah Edy ini.

1. Raja yang Tak Pernah Salah

Sewaktu anak kita masih kecil dan belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja mereka menabrak kursi atau meja. Lalu…

View original post 6,861 more words

Ok, Second Written: Water is My Fren

Yeah, it’s me who write something depend on my mood. Absolutely it’s not good habit. Especially for me who want to be a writer. But, I cant force myself to write when i dont want to. Poor me. Dont copy me, ok?

Oh ya, i’m sooooo happy today.
It was my first swimming lesson (or tuition?)
Too late to learn? Too old to learn how to swim?
Maybe. But, I think it’s better late than never. Rite?
And for me, the most important thing is:
Finally, I can beat my afraidness of sink, yeaay, alhamdulillah!

Oh, i didnt learn any style yet.
I took a basic lesson.
First lesson is breathing in the water.
What? Breathing?
It may be nothing for u, but mean a lot for me as I am so scare to go down to the pool.
The coach is cool. I like how she taugth me.

I remember her lesson before I go down to the water.

She said:
Water is ur friend.
Just follow its flow.
Dont fight back. If u do, its become ur enemy.

I repeated it in my mind: water is my fren. Water is my fren. Water is my fren.
So, everytime my head is in the water and I did exhale, I said, “Hi, Fren!”
Inhale, exhale, Hi Fren
Inhale, Exhale, Hi Fren
And it worked!
Yeaaah, haha … Alhamdulillah.

I hope, i will always remember that water is my fren and how to breath in the water.
I hope i can meet my coach and the pool again, soon, in shaa Allah.

Thank u, Allah ❤

[Dialog] Benarkah Nabi Muhammad Seorang Pedofil? (#2)

Iwan Yuliyanto

Bismillah …

Dialog di bawah ini adalah lanjutan dari dialog sebelumnya di sini.
Setelah tuduhan pedofilia itu diruntuhkan oleh logika berdasarkan fakta dan nash-nash kuat yang terdapat dalam Al-Qur’an, dalam lanjutan dialog ini akan dibahas tentang:

  • Halaman 1 – Berapakah usia ‘Aisyah saat menikah?
  • Halaman 2 – Menjawab tuduhan: Islam membenarkan pedofilia

View original post 3,299 more words

[Dialog] Benarkah Nabi Muhammad Seorang Pedofil?

Iwan Yuliyanto

Bismillah …

Pulang sekolah siang itu, Nadia berselancar di internet sambil berinteraksi sosial melalui akun media sosial-nya.

Nadia mendapat pesan dari akun twitter “Anti Liberal News” sebuah informasi tentang munculnya video berjudul ‘Komik Sex Islamiah – Menurut Nabi Muhammad’ di internet. Ia kemudian menelusuri media berbagi video (Youtube), untuk mencari akun yang namanya disebut dalam berita tersebut yaitu: ‘Prophet Muhammad Illustrated’. Ternyata tidak sulit mencarinya. Sudah ada sekitar 13 video yang di-unggah dalam kanal akun tersebut yang berisi berbagai trailer film animasi / komik. Isinya hampir semuanya dusta, terlalu banyak penyimpangan yang tidak sesuai dengan kenyataan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari tayangan video-video tersebut nampak jelas bahwa 100% merupakan olahan pihak tak berilmu dan terlalu kental kebodohannya sehingga hanya melahirkan sampah, tidak layak disebut karya.

Nadia geram sekali. Biadab betul ulah para islamophobic dalam menyebarkan kebencian kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini betul-betul penistaan…

View original post 1,831 more words

[Xenofobia] Bagimu dan Bagiku

Aku tak punya hak pilih untuk menentukan rupa wujudku ketika dilahirkan di dunia. Aku tak memilih untuk dilahirkan dengan warna kulit hitam legam seperti aspal atau putih mulus laksana pualam. Sama sepertimu, kan?

Aku pun tak kuasa menetapkan asalku ketika dihadirkan ke dunia. Apakah aku lahir dari rahim seorang perempuan suku mayoritas ataukah ras minoritas. Sama denganmu, kan?

Aku juga tak berdaya memastikan bentuk keyakinanku kelak, sejak tangis pertamaku meledak di alam fana. Akankah aku berserah diri kepada-Nya dengan menyimpuhkan keningku dalam sujud atau mengalungkan rosario di leherku atau membakar dupa-dupa atau bahkan tak mengakui-Nya dalam hidupku?

Tapi, pada akhirnya aku menyadari ….

Aku tak bisa menukar warna kulit dan silsilahku.

Namun, aku bisa memilih keyakinanku.

Dan aku telah memilih.

Keyakinan yang akan dan harus kuanut sampai mati.

Apakah aku menukar keyakinanku? Tidak, tentu saja. Aku hanya mengubah sikap dan cara pandangku terhadap keyakinan yang telah melekat sejak aku lahir.

Sama sepertimu, kan?

(Kau menggeleng)

Oh, jangan!

Jangan katakan kau mempercayai keyakinan kau karena orang tuamu, karena nenek moyangmu!

Jangan katakan kau membebek pada mereka!

Jangan! Sebab itu hanya akan menjumudkan pikiran, menyempitkan cara pandang, memrovokasimu pada prasangka-prasangka, menghasutmu pada kebencian bahkan melahirkan antipati pada mereka yang tak sama dengan warna kulit, ras dan keyakinanmu.

Bukankah aku dan kau memiliki akal dan hati? Bagaimana jika kita gunakan kelebihan kita dibanding mahluk lain itu?

(Kau menanyaiku)

Oh, bukan!

Akal kita memiliki keterbatasan untuk mempelajari bermacam keyakinan yang berbeda. Lagipula hingga matahari terbit dari barat pun, perbedaan adalah niscaya. Mustahil membuat aku, kau dan semua manusia memiliki pemahaman yang seragam. Maksudku, bagaimana jika kita menata hati dan menggunakan akal untuk belajar menghargai corak kita yang tak sama?

Menata hati. Sebab ternyata, ilmu pengetahuan (saja) tanpa membuka dan menata hati tak akan membantu mengobati prasangka, benci dan antipati yang merupakan ‘borok’ hati. Penyakit yang hanya bisa diterapi dengan menciptakan hati yang seharum melati.

(Kau menggeleng lagi)

Baiklah. Aku tak mau dan tak akan memaksamu untuk mengakui apalagi menghormati pilihanku. Bagimu keyakinanmu, bagiku keyakinanku.

Aku telah memilih dan aku tahu konsekuensi pilihanku. Aku hanya harus melakukan hal bermanfaat padamu, pada manusia dan pada seluruh semesta. Aku pun telah diberitahu, seseorang yang memilih keyakinan sepertiku selamanya akan dianggap asing. Tidak hanya sekarang, melainkan sejak dulu. Sejak aku dan kau belum ada hingga nanti ketika aku dan kau kembali tak ada.


***


L jegeg, semoga dirimu memahami kicauanku ini :”>

Matursuksema sudah menyelenggarakan lomba menulis Xenofobia. Mengajak Fe yang jumud untuk berpikir. Jazakillah … .

[Xenofobia] Bali, Terlalu Indah untuk Dilewati

Xenofobia. Saya mengingat-ingat peristiwa yang membuat saya bersentuhan dengan kata ini. Sepanjang ingatan saya, tak pernah seseorang atau sekelompok orang memandang asing pada saya yang menyebabkan mereka membenci saya atau melecehkan saya karena keyakinan yang saya anut.

Tapi, sebentar ….

Ya Allah, ternyata telunjuk ini harus ditoyorkan ke kening saya sendiri yang tanpa saya sadari, dulu, pernah menyemai benih-benih xenophobia terhadap BALI!

Entah sejak kapan saya menerima cara pandang salah kaprah tentang Bali, saya tak ingat. Dalam memori masa kecil saya, pulau Bali tak pernah ada dalam kamus liburan keluarga besar. Bukan karena jarak pulau dewata yang jauh dari tempat tinggal saya masa kanak-kanak dulu. Sebab, saya anak kolong. Orang tua saya kerap ditugaskan ke berbagai pulau di Indonesia. Jadi, kalau sekedar jalan-jalan dari Jakarta atau Bandung ke Bali, pastinya bisa. Kenyataannya, tak ada yang namanya wisata ke Bali.

Nuansa Bali yang eksotis, adat istiadatnya dan masyarakatnya yang bersahaja hanya saya saksikan lewat media elektronik, majalah dan nguping-nguping pengalaman orang yang sudah pernah pelesir ke sana. Keindahan Bali yang telah tersohor ke pelosok dunia, tidak menggelitik rasa penasaran keluarga besar saya untuk berkunjung ke sana.

Obrolan, celetukan atau pendapat orang-orang tentang Bali, yang sempat terekam di benak kanak-kanak saya, mengendapkan satu asumsi berbahaya dalam diri saya yang terus terbawa hingga saya dewasa, bahwa Bali identik dengan:

Mistik

Angker

Banyak babi, susah cari makanan halal.

Turis-turisnya yang telanjang.

Pendeknya, segala hal tentang Bali adalah jelek dan tak pantas untuk seorang muslim. Padahal kami berteman dengan orang Bali. Sahabat sesepuh saya pun orang Bali. Dalam pemikiran saya yang sederhana: berteman dengan Balinese, yes. Tamasya ke Bali, no!

Febi kecil (saya maksudnya) menyimpan pemahaman keliru tentang Bali dalam memorinya selama bertahun- tahun. Tak pernah pula mencoba menglarifikasi informasi itu. Bodor-nya, meski berbagai hal yang berhubungan dengan Bali katanya tak sesuai untuk seorang muslim, saya di masa kecil hapal ucapan salam di acara rohani agama Hindu yang kerap ditayangkan TVRI jaman dahulu kala, yakni:

Om shanty shanty shanty om .

Berbilang tahun terlewati. Saya beranjak remaja, SMA lalu kuliah. Penilaian tentang Bali dan segala hal yang berhubungan dengannya tak berubah sampai saya menjejakkan kaki di Singapore. Negeri mungil yang jelas-jelas berpenduduk mayoritas nonmuslim, jelas-jelas babi dan semua produk yang mengandung babi mudah didapati di sini, jelas-jelas ramai turis dengan beraneka gaya penampilan (dari yang biasa hingga aneh tapi nyata) gampang dijumpai di sini. Tapi, mengapa tak ada cerita negatif yang sampai ke telinga saya tentang negeri ini?

Saya yang pada mulanya tergagap-gagap menjalani kehidupan di Singapore, perlahan menjadi terbiasa dan belajar menerima perbedaan yang terpampang di hadapan saya. Perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa dan perbedaan keyakinan. Saya belajar untuk tak terganggu dengan ragam perbedaan tersebut. Bagi saya, untuk saya keyakinan saya, untuk mereka keyakinan mereka. Namun, pemahaman ini tak serta merta melunturkan stereotip yang telah terlanjur melekat di hati saya tentang Bali. Hingga suatu hari, sekitar tiga tahun lalu, salah satu teman dekat di Singapore yang saya tahu keshalihan dirinya dan keluarganya cerita bahwa ia akan berlibur ke Bali. Saya kaget namun menyimpan keterkejutan dalam hati. Bagaimana mungkin ia yang shalihah dan berjilbab rapat akan jalan-jalan ke Bali?

Lihatlah, hingga tiga tahun lalu saya masih terbelenggu dengan pemikiran yang picik! Apa salahnya seorang muslimah shalihah dan keluarganya jalan-jalan ke Bali, ya kan?

Mendengar rencana liburan teman saya itu, perlahan saya jadi berpikir tentang Bali. Tentang keindahan alamnya yang selama ini hanya singgah di telinga saya. Tentang keunikan budayanya yang kerap saya saksikan dalam penggalan-penggalan iklan di layar kaca. Lalu, tanpa bisa saya hindari, muncul dorongan kuat dalam diri saya untuk mengunjungi Bali. Ya, saya yang dulu apriori pada Bali malah ingiiin sekali jalan-jalan ke Bali. Ndilalah, ketika keinginan itu terbetik, jalan untuk ke sana pun dimudahkan-Nya. Saya sekeluarga dapat tiket pesawat promo Singapore-Bali yang harganya cukup terjangkau untuk kantong kami saat itu. Tak perlu pikir dua kali, saya sekeluarga memutuskan berlibur ke Bali. Mencari banyak informasi tentang Bali. Menghubungi relasi untuk mendapatkan akomodasi yang murah meriah dan lucunya sangat ‘mBali’. Saya malah ingin bermalam di penginapan yang bentuk fisik dan desain interiornya justru sangat khas Bali. ‘Cita-cita’ itu kesampaian. Saya tinggal di penginapan Puri Dewata selama di Bali. Mama dan tante saya malah menyusul kami ke Bali.

Kami di depan gerbang hotel

Sempat terbetik pertanyaan tentang bagaimana mencari makanan halal selama di sana? Bagaimana dengan tempat wisata yang merupakan tempat sambahyang mereka? Ah, saya tak ingin mempersulit diri untuk mencari jawabannya. Toh, selama ini saya tinggal di Spore. Saya pasti bisa mengatasi ‘persoalan’ itu. Keyakinan yang membuat saya salut pada diri sendiri :D.

Ketika akhirnya kaki saya menginjak Bali, menjejak di pasir basah pantai Kuta, memandang hijau biru air laut pantai Pecatu, menghirup sejuk udara di Bedugul, menatap kuning keemasan tangkai-tangkai padi di Tegal Alang, saya tak mampu berkata-kata. Ya Allah, alangkah cantiknya. Alangkah cantiknya ….

Indahnya Bali ‘menyihir’ seluruh indera di tubuh saya, membuat saya takjub pada ke-MAHA-an-NYA sekaligus merutuki diri sendiri. Betap
a bodohnya saya selama ini, mau saja termakan omongan orang-orang di masa lalu tentang Bali yang begini dan begitu. Kenyataannya, selama saya di sana masih bisa menjumpai makanan halal, saya tak harus dan tak diharuskan untuk masuk pura, gaya turisnya serupa dengan yang biasa saya lihat di Singapore. Saya sempat makan di restoran halal di daerah Bedugul, pengemudi speed boat yang kami sewa untuk mengelilingi danau Beratan pun seorang muslim. Saya bahkan sempat bertemu dan bercakap-cakap sebentar dengan seorang muslimah yang asli orang Bali di mushala kecil di bandara Ngurah Rai. Ia bercerita bahwa masyarakat muslim dan masyarakat Hindu di Bali hidup berdampingan dengan damai. Bahkan pada masa lampau kerajaan Hindu melindungi kaum muslimin. Sungguh kabar yang baru saya ketahui. Saya jadi berandai-andai ….

Andai orang-orang di sekitar saya yang dulu turut andil menanamkan syakwasangka tentang Bali pada diri saya (tanpa mereka sadari) mengetahui kabar ini, andai mereka menapakkan kaki mereka di pulau ini, akankah mereka masih menyimpan prasangka buruk tentang Bali? Namun, salah saya juga. Seharusnya jangan memelihara prasangka. Sepatutnya, saya saring lagi informasi yang sampai kepada saya, saya telaah lagi kebenarannya sembari terus membersihkan hati. Sebab, prasangka adalah penyakit hati yang pastinya hanya bisa diobati dengan membersihkan hati.

Saya beruntung tak mengristalkan pemahaman salah tentang Bali sepanjang hidup saya. Dengan ijin-Nya, saya ingin menyambangi Bali lagi. Kedamaian roda hidup di Bali dan kecantikan alamnya adalah kekayaan yang terlalu indah untuk dilewati.

***

Meramaikan lomba yang diadakan oleh Lessy Jegeg 🙂

[Aku dan Kain Gendongan] Sebal-Sebal Suka

Aku bukan berasal dari Jawa. Ditelusuri dari atas hingga ke bawah silsilah pun, tak ada darah Jawa mengalir di tubuhku. Tapi, jarit yang merupakan warisan budaya Jawa justru tak asing di kehidupan keluargaku.

Sejak masih anak-anak hingga aku punya anak, mama tak pernah menggendong dengan kain lain kecuali jarit. Sebelum menikah, aku tak pernah ambil peduli pada sehelai batik panjang dengan aneka rupa motif itu. Bagiku, menggendong bayi atau balita dengan jarit merupakan pemandangan biasa. Aku tak tergerak sedikit pun untuk mempelajari cara menggunakannya. Hingga tiba masaku melahirkan dan mengasuh anak.

Menyesal memang selalu belakangan. Aku menyesal karena tidak sejak dulu belajar memakai jarit sebagai gendongan. Kalau saja aku mempelajarinya sejak lama, pasti sekarang sudah terampil mengenakannya. Ketidakluwesan ‘mengoperasikan alat’ ini bikin aku sebel-sebel suka dengan kain yang dijuluki jarit ini.

Jadi begini ceritanya ….

Aku melahirkan anak pertama di Bandung. Kelahiran anakku disambut gembira oleh orang tua dan keluarga besarku. Sejak beberapa bulan sebelum melahirkan, mamaku banyak membantu menyiapkan segala keperluan calon bayiku yang juga merupakan calon cucu pertamanya. Gurita, baju, popok untuk bedong, kaos tangan, kaos kaki, minyak telon, bedak, semuanya, deh. Tak ketinggalan jarit! Nenek dari suamiku bahkan menghadiahi bayiku tiga atau empat jarit! Ternyata, bagi orang Jawa, jarit memiliki nilai filosofi. Aku tidak paham filosofinya. Pastinya nenek suamiku memberikan jarit untuk tujuan yang baik.

Mulanya aku tak begitu peduli dengan keberadaan si jarit ini. Tapi, sejak bayiku pulang ke rumah, dirawat oleh mamaku (karena aku masih cupu, masih takut-takut merawat bayi) baru kusadari kalau si jarit sangat dekat dan bermanfaat untuk bayiku. Setiap pagi, usai bayiku dimandikan, dibedaki, disalinkan baju, dibersihkan kuping, ia pun digendong dengan jarit. Bayiku terbungkus gendongan jarit. Digoyang kanan kiri seraya dinyanyikan. Aku melihat bayiku nyaman sekali dalam buaian jarit. Meski tertutup jarit, bayiku tak kepanasan. Tahu sendiri suhu kota Bandung, kan? Duiiingiiiin. Bayiku pasti merasa hangat dalam dekapan jarit yang disampir di pundak mamaku.

Bisa dibilang, begitulah rutinitas bayiku setiap pagi. Beres dibersihkan, ditidurkan dalam gendongan jarit. Hari-harinya lekat dengan gendongan ini. Bahkan hampir tiap malam sebelum tidur. Pun ketika ia menangis! Setiap orang tua yang ada di rumahku (mama, tante, uwak) akan dengan senang hati menyambar jarit dan mulai menggendong bayiku. Bergoyang sambil bernyanyi, meredakan tangis anakku atau sengaja menidurkannya. Setiap orang, kecuali aku. Iya, aku yang ummi anakku malah tak pernah menggendong bayiku dengan jarit. Aku lebih sering menggendong langsung dengan tangan tanpa bantuan apapun.

Tentu saja aku senang dengan kesigapan para orang tua yang membantu mengasuh bayiku. Sebagai ibu baru, rasanya tenang banyak bala bantuan yang siaga menolongku. Namun, lama kelamaan ketenangan itu berubah menjadi kecemasan. Pasalnya, menurut analisaku yang sederhana, bayiku mulai terbiasa dengan gendongan jarit. Ia lebih lama tidur dalam gendongan daripada di atas kasurnya. Aku yang masih sering panik menghadapi tangis bayi semakin panik melihat anakku kerap rewel dan tidurnya hanya sebentar, kecuali dalam gendongan. Jika dulu aku senang dengan uluran tangan mereka untuk menggendong, lama kelamaan aku meradang. Aku tak suka jika anakku digendong. Aku merasa, si jarit yang tadinya alat penenang berbalik jadi boomerang. Hatiku semakin dongkol ketika salah seorang di antara mereka, sebut saja tanteku, malah berkata begini:

“Anak jangan kebiasaan digendong, nanti kamu yang susah. Apalagi di Singapore tidak ada yang bantu.”

Mendengarnya bukan membuatku sumringah, aku malah ingin mengomel-omel di hadapannya, tapi kutahan. Siapa juga yang sering gendong anakku? Kan kamu! Kesalku dalam hati.

Tampaknya, prediksi si tante benar adanya. Awal mula kembali ke Spore, setelah tiga bulan melahirkan menetap di Bandung, anakku acapkali rewel. Entah karena Singapore bercuaca panas, entah karena anakku biasa digendong, entah karena hatiku yang rusuh, anakku sering sekali menangis. Aku yang belum pengalaman mengurus bayi dilanda panik pangkat tujuh enam. Tentu saja aku tak lupa membawa si jarit ke Singapore. Tapi, aku tak pernah memakainya untuk menggendong karena aku tak bisa. Lagi pula, digendong jarit di cuaca yang panas seperti Singapore kelihatannya bukan pilihan yang bagus. Maka, fungsi jarit sebagai gendongan kuubah menjadi alas kasur.

Benar kata orang, dalam keadaan darurat atau terpaksa, kadang seseorang bisa melakukan hal yang tadinya tak mungkin dilakukannya. Menggunakan gendongan jarit salah satunya. Suatu ketika, masih di Singapore, anakku demam. Aku harus membawanya ke dokter. Ketika itu, aku punya dua gendongan yakni jarit dan gendongan instan yang biasa digunakan sekarang. Aku bingung harus memakai yang mana? Namun, mengingat di luar hujan dan cuaca cukup dingin, kuputuskan menggunakan jarit. Entah bagaimana caranya, aku berhasil melilitkan jarit ke pundakku. Ada secuil rasa bangga ketika akhirnya aku bisa menggendong anak dengan jarit. Ternyata, gampang kok pakai gendongan jarit, pikirku sombong.

Kesombongan memang bukan milik manusia, ya? Meski hanya secuil sombong, Allah tidak suka.

Kesombonganku bisa pakai jarit dengan ‘gampang’, diuji usai memeriksakan anakku di dokter. Sewaktu diperiksa, otomatis kubuka gendongan jarit. Kubaringkan anakku di kasur dokter. Nah, saatnya memakai jarit kembali, kupikir akan se-easy sebelum ke dokter. Nyatanya, aku susah sekali melilitkan kain ke pundak untuk mendapatkan posisi uwenak. Baik uwenak untukku maupun untuk bayiku. Entah karena diperhatikan Bu Dokter atau karena memang tak bisa, aku kepayahan memasang jarit seperti semula. Bu dokter mengangguk-angguk, memandangku dengan tatapan prihatin. Aku jadi salah tingkah, tersenyum kikuk. Malu dan rikuh. Setelah beberapa menit menegangkan, aku menghembus napas lega karena berhasil menyelempangkan jarit ke pundak meski hasilnya tak sebaik sebelum aku pergi ke dokter. Namun, malu diperhatikan dokter dengan tatapan prihatin tak langsung memudar. Malu banget. Masa pakai jarit aja repot? Mungkin begitu yang ada dalam pikiran sang dokter.

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi memakai jarit sebagai gendongan. Aku tidak cukup tangguh untuk menaklukan si jarit. Jarit kupakai sebagai alas kasur. Fungsi ini bertahan cukup lama. Seperti terlihat di foto. Saat itu anakku berusia dua tahunan. Jarit masih menjadi alas kasur tempat mainnya. Walau bagaimana pun, aku tetap berterima kasih pada jarit. Ia membantu menenangkan bayiku di awal-awal kehadirannya di dunia.

Ket. foto: anakku dan eyangnya. Jarit menjadi alas kasur tipis tempat mainnya

Pengalaman ini kuikutsertakan di lomba menulis Aku dan Kain Gendongan
Lebih kurang 930 kata 😀