10daysforASEAN #10: INDONESIA, KAKAK TERTUA

20130905-075848.jpg

Indonesia, Kakak Tertua

Lagi, kuibaratkan ASEAN adalah keluarga yang terdiri dari kakak beradik. Dengan merujuk kepada umur kemerdekaan, Indonesia (Ina) kutahbis sebagai kakak tertua. 68 tahun, bo!
Menyusul Vietnam (Viet), Filipina (Filip), Myanmar (Myan), Malaysia (Mas), Laos (Lao), Kamboja (Kam), Singapura (Sing), Brunai (Bru) dan Thailand (Thai).

Ditinjau dari berbagai sisi, Ina memang paling unggul:
– Umurnya paling tua
– Rumahnya paling besar
– Penghuninya paling banyak
– Punya sejarah yang baik dalam hal mendamaikan perseteruan antar kelompok.

Maka, sangat wajar kalau Ina dijadikan basecamp untuk kumpul-kumpul.
Lazimnya, yang muda beranjangsana ke rumah yang tua, kan? Bahkan sungkem, minta nasihat dan lain-lain.
Tapi, meski kakak tertua, Ina tidak boleh ngelunjak bahkan harus menyadari keadaan rumah dan penghuninya yang masih kekurangan di sana-sini. Rumahnya harus direnovasi. Penghuninya yang selama ini sering leha-leha, harus ditepuk supaya mawas diri. Agar adik-adiknya betah, kagum bahkan mencontoh Ina. Supaya Ina dijadikan basecamp bukan karena ia tua semata melainkan karena Ina punya kapabilitas yang mumpuni. Dengan begitu, Ina akan harum namanya, tidak hanya di kalangan keluarga tapi juga di luar.
Layaknya keluarga, tidak selalu kakak lebih baik dari adik. Ini pula yang dialami Ina. Ia harus mengakui kemajuan Sing dan Mas. Ina tak perlu malu untuk membuka diri bahkan belajar dari keberhasilan Sing dan Mas mengelola rumah tangganya.

Jakarta, Diplomatic City of ASEAN

Itulah analogi yang kupakai untuk menjawab pertanyaan hari ke-10 lomba menulis #10daysforASEAN:
“Menurut teman-teman blogger mengapa Jakarta bisa terpilih sebagai Diplomatic City of ASEAN? Apa dampak positif dan negatifnya bagi Indonesia khususnya Jakarta? Kesiapan apa saja yang perlu dilakukan oleh Jakarta sebagai tuan rumah dari Perhimpunan Bangsa-bangsa ASEAN?”

Indonesia (Ina) dalam hal ini diwakili Jakarta adalah negara ASEAN yang paling senior dalam hal usia kemerdekaan. Negerinya demokratis, luas dan memiliki penduduk terbanyak keempat di dunia. Selain itu, Indonesia pun menorehkan tinta emas dalam hal sejarah. Dengan berbagai perundingan yang dilakukannya di masa lalu. Indonesia bahkan sering membantu aksi perdamaian dengan mengirim kontingen Garuda ke negeri-negeri berkonflik.
Sedangkan Jakarta adalah kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara bahkan nomor dua di dunia.

Atas alasan-alasan tadi, sangat tepat menjadikan Jakarta sebagai Diplomatic City of ASEAN. Positifnya, Indonesia akan semakin dikenal dunia. Apalagi jika markas ASEAN di Jakarta dijadikan obyek wisata dan bisnis seperti yang dikatakan wakil gubernur Jakarta, Ahok. Sedangkan negatifnya, aku tak menemukan dampak negatif dengan ditetapkannya Jakarta as a diplomatic city of ASEAN.

Tapi … Sebagai tuan rumah perhimpunan bangsa-bangsa ASEAN, Indonesia tidak boleh GR kelamaan sebab banyak yang harus direnovasi untuk membuat rumah yang nyaman.
Indonesia perlu membenahi sarana, infrastruktur hingga SDA yang dimilikinya. Tak perlu segan untuk belajar dari Singapura dan Malaysia yang lebih dulu berhasil dalam memajukan negaranya. Asalkan cinta, mau dan berkomitmen untuk Indonesia yang lebih baik, pasti bisa.

Hidup Jakarta, hidup Indonesia, hidup ASEAN!

***
Sumber berita dari wikipedia, situs ini, blog ini dan blog ini.

Foto dari sini.

10daysforASEAN #9: 28 BULAN LAGIII!

20130904-074130.jpg

“Dalam KTT ke-22 di Brunei Darussalam, tema yang diangkat adalah “Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan”, dengan pokok perundingan pembangunan badan persatuan ASEAN, dengan tiga pilar yaitu Persatuan Keamanan, Persatuan Ekonomi dan Persatuan Sosial dan Kebudayaan. Pembangunan Badan Persatuan ASEAN itu harus dirampungkan sebelum 31 Desember 2015.
Tema: Dengan ketiga pilar tersebut, bagaimana mencapai tujuan pembangunan badan persatuan ASEAN? Mampukah negara-negara ASEAN mewujudkan Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan?”

Aku kok senang plus deg-degan baca kabar ini, ya?

Senangnya …?
Badan Persatuan ASEAN.
Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan.
Sounds great. Penuh harapan.

Menyatukan rakyat ASEAN … alangkah indahnya jika bisa terwujud.
Kubayangkan, laga sepakbola antar Indonesia dan Malaysia. Pemain dan supporternya fair, menonton saling berangkulan. Menerima kekalahan dan kemenangan dengan lapang dada.
Juga soal asap Sumatera yang tertiup hingga ke Singapura. Kubayangkan rakyat kedua negara saling bahu membahu mencari solusi. Bukan saling caci, tuding dan sahut-sahutan tanpa aksi.

Menyatukan rakyat pastinya tidak semudah menyatukan batang-batang lidi menjadi sapu. Terlebih menyatukan rakyat ASEAN. Kita memang serumpun, memiliki banyak kesamaan namun apakah rakyatnya telah sedia?

Bagaimana mencapai tujuan pembangunan badan persatuan ASEAN?
Dalam pemikiranku yang sederhana, untuk mencapai tujuan pembangunan badan persatuan ASEAN adalah dengan mensosialisasikan hal ini ke rakyat, khususnya rakyat Indonesia.
Indonesia dengan berbagai lapisan masyarakat yang berbeda budaya, pendidikan dan latar belakang sosialnya perlu diajak berkenalan (lagi) dengan ASEAN.
5W+1H tentang ASEAN hendaknya dipublikasikan lewat lembaga-lembaga pendidikan, media massa offline dan online serta event-event tertentu. Seperti mengadakan lomba menulis dan melukis bertema ASEAN yang pernah diadakan oleh Thailand dan Myanmar.

Bukan hanya perkara sosialisasi yang menjadi PR untuk mewujudkan Badan Persatuan Asean. Namun, mentalitas rakyat Indonesia pun perlu ditingkatkan agar menjadi rakyat yang siap menerima perubahan, siap bekerja keras, siap bersaing secara sehat dengan rakyat ASEAN lainnya.

Mampukah negara-negara ASEAN mewujudkan Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan?
Seharusnya mampu!
Mengingat kita serumpun, memiliki banyak persamaan dan sekompleks dalam wilayah geografis. Maka, persatuan mutlak harus dicapai agar perdamaian terus terjaga di Asia Tenggara, agar perekonomian negara ASEAN semakin kuat, agar terminimalisir problem sengketa perbatasan negara, agar tercegah masalah human trafficking dan penyelundupan narkoba.

Seharusnya mampu!
Asal mengedepankan kepentingan regional ASEAN alih-alih kepentingan negaranya sendiri, asal mendahulukan asas praduga tak bersalah terhadap sesama negara ASEAN, saling membantu mengatasi permasalahan di dalam negara ASEAN, demi alasan kemanusiaan. Kalau perlu, memberi hak-hak istimewa untuk warga negara ASEAN.

Persoalannya adalah pembangunan Badan Persatuan ASEAN itu harus rampung 31 Desember 2015.
Itu berarti 28 bulan lagiii!
Wahai oh wahai, apakah kita sudah siap? (Nah, ini bagian yang membuatku deg-degan 😦 )

***
Foto dari blog Thanchanit Kijrungsikul

10daysforASEAN #8: Mahal Kita, Filipino

“Laoshi, punya akun Fesbuk?”
“Fesbuk?”
“Iya.”
Dia menjawab dengan gelengan.
O.ow ….

Lain waktu, aku mencoba log-in ke blog-ku (multiply), tak bisa.
O.ow ….
Bagaimana ini?
Seperti terisolasi dari dunia luar.
Itu pengalamanku saat ke Suzhou-Cina beberapa tahun lalu. Mereka tak mengizinkan jejaring sosial masuk ke sana kecuali buatan mereka.
Rasanya ‘nyesek’ saat tahu tak bisa online di Facebook dan blog. Baca surat kabar dan dengar berita pun malas karena tak mengerti bahasa mereka.
Sementara aku senang menulis status atau berkicau di Twitter :D. Mulai dari menulis hal-hil yang serius sampai menulis tak jelas, asal mengeluarkan uneg-uneg, perasaan, emosi dan lain-lain.

Intinya, berekspresi dan menyampaikan pendapat di medsos ataupun di wahana lain, menyenangkan dan membebaskan. Jadi, ketika kebebasan itu dibatasi bahkan dilarang, jiwa raga seperti keran yang tersumbat. Enggak enak banget!

Makanya, aku kagum waktu tahu negara ASEAN yang satu ini menjunjung tinggi kebebasan pers. Siapa lagi? Filipina!
Mungkin karena pengaruh barat yang sangat kental di sana. Sementara barat identik demokrasi. Bebas menyuarakan pendapat dan berekspresi.
Mereka hebat, nih. Mengamalkan butir ke sembilan dan sebelas dari 18 isi hak asasi manusia berdasarkan Universal Declaration Of Human Rights.

20130903-080038.jpg


Faktanya ….

Eh tapi, waktu kucari-cari lagi berita tentang pers di sana. Aku justru tercengang. Dalam sepekan pertama di bulan Agustus, nyawa tiga jurnalis melayang! Hingga UNESCO mendesak Filipina untuk menyelidiki kasus pembunuhan para jurnalis itu.

Saat kubaca lebih kanjut berita-berita yang berkenaan dengan kasus ini, ternyata sejak dua puluhan tahun silam, sudah 73 jurnalis tewas di negeri itu. Situs sayangi.com bahkan pernah menulis berita yang mengatakan Filipina merupakan negara paling mematikan di dunia bagi pers.

Dalam pemikiranku yang sederhana, pemerintah sepatutnya memberikan kebebasan bersuara bagi warga negaranya terutama pers bahkan blogger. Sebab mereka menjadi corong penyampai keadaan yang terjadi di luar diri, rumah bahkan negara mereka.
Pemerintah sangat berhak mengontrol laju informasi tapi kontrol yang positif. Kontrol yang dilakukan terhadap pers dan perseorangan (blogger) hendaknya bukan karena mendahulukan kepentingan seseorang atau golongan melainkan kepentingan rakyat dan negara.
Pemerintah sepatutnya memberikan dukungan tinggi kepada pers dan blogger yang memberitakan kebenaran dan mengharumkan negerinya ke mancanegara dengan memberi hadiah dan mengalungkan penghargaan, misalnya. Dukungan ini akan membangkitkan gairah pers dan blogger untuk semakin aktif dan kreatif menyuarakan buah pikiran mereka demi kemaslahatan bersama.

Bagaimana dengan pers dan blogger?
Tidak adil jika hanya menuntut pemerintah begini dan begitu.
Kepada pers dan blogger, untuk apa kita menulis?
Menulislah dengan hati nurani. Menulislah untuk menyampaikan kebenaran. Menulislah hal yang baik dan membawa kebaikan.

Bagaimana dengan pers dan blogger ASEAN?
Kita memang tidak pernah tahu yang sesungguhnya terjadi di negeri tetangga kita. Namun, atas alasan kemanusiaan, kita tak bisa tak peduli dengan kondisi negara ASEAN lainnya. Jika tak ada yang bisa dilakukan untuk ikut membantu mereka, maka mengutuk ketidakadilan yang menimpa pers, blogger dan lapisan rakyat lainnya adalah baik, meski itu selemah-lemah bantuan.

Jadi, sayang sungguh sayang membaca berita yang berkebalikan dengan informasi yang kudapat sebelumnya (bahwa negeri berbahasa Tagalog itu menjunjung kebebasan pers). Terlalu mahal bayaran untuk kemerdekaan berpendapat yang tersumbat. Kuharap keadaan ini segera berakhir sebab mahal kita, Filipino …

***

Sumber-sumber berita:
Di sini, di sini, di sini, di sini, di sini..

10 daysforASEAN #7: Untuk S dan M

Aduuuuuuuh, pertanyaan hari ke tujuh!
Gampang, yang susah jawabnya.

Soal persengketaan batas negara dan aku enggak punya ilmu sama sekali soal ini.

Jadi, begini saja.
Aku menganggap negara-negara ASEAN bagai keluarga.
Di dalam keluarga ada anak-anak.
Katakanlah Indonesia (Ina) anak tertua. Kan, 68 tahun umurnya.
Malaysia (Mas, 56 tahun) anak kedua dan Singapore (Sing, 48 tahun) anak ketiga.

Ina tidak akan memihak salah satu sebab keduanya adiknya.
Ina juga tidak akan memberi nasihat sebab dua-duanya sudah matang.
Kalau dalam cerita anak, ada kaidah: jangan pinjam mulut orang dewasa untuk menyelesaikan masalah. Biarkan anak-anak mencari solusinya sendiri. Orang dewasa melerai jika perseteruan membahayakan salah satu.
Nah, begitu juga dengan Mas dan Sing. Biarlah mereka mengatasi persoalan batas wilayah mereka masing-masing. Jika tak selesai, Mahkamah Internasional yang turun tangan.
Ina hanya berharap, rumah yang adem ayem sekarang, alias ASEAN, tetap terjaga kedamaiannya.

Mas dan Sing pasti bisa! 😉

20130902-035727.jpg

***
Foto dari sini.

10 daysforASEAN #6: Jika Aku Negara Laos

20130901-080816.jpg

Kalau dulu tidak hobi filateli, bisa-bisa aku mengira laos hanyalah bumbu dapur saja. Ternyata … oh, ternyata, Laos juga nama negara.
Hey, bukankah ini membuktikan bahwa ASEAN serumpun? Memiliki kesamaan kata meski mungkin berbeda makna :D.

Membaca pertanyaan hari ke-6 di lomba menulis #10daysforASEAN, membuatku bersyukur pernah belajar IPS di masa sekolah dulu. Sebab aku teringat Ipoleksosbudhankam. Singkatan itu yang terbetik di benakku ketika memikirkan jawabannya ^_^.

“Jika posisi Anda adalah negara Laos, investasi diplomatik apa yang diharapkan dengan kemitraan yang terjalin dengan dunia internasional, khususnya negara-negara ASEAN. Tuliskan pendapatmu di blog tentang hal tersebut. Fokus pada peran Laos sebagai anggota Komunitas ASEAN.”

Jika aku adalah Laos, yang selama ini tertutup dari dunia luar, baru membuka diri di 2004 dan pastinya cukup tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya, tentu saja aku akan mengajak diriku dan rakyat Laos untuk bumbata selebar-lebarnya dan belajar demi mengejar ketertinggalan.

Bidang Politik
Aku akan menjadi anggota badan-badan regional dan dunia seperti yang telah kulakukan saat ini. Di antaranya ASEAN dan PBB. Berpolitik nonblok, bebas dan aktif. Tidak akan memihak dua negeri yang bertikai namun berharap bisa menjadi mediator dalam mencapai perdamaian.

Bidang Ekonomi
Senada dengan bidang politik, aku ikut menjadi anggota APTA dan WTO. Mengirim sebagian rakyatku untuk melakukan studi banding ke negara lain, ASEAN khususnya, seperti yang pernah dilakukan Vietnam ketika belajar mengenai kopi di Indonesia.

Bidang Sosial budaya
Aku dengan tourism slogan negeriku “Simply Beautiful” akan mengadakan pekan budaya yang diadakan oleh kedutaan Laos di masing-masing negara ASEAN. Membebaskan visa bagi para wisatawan ASEAN. Membenahi sektor pariwisataku dan mempromosikannya secara luas kepada media-media di negara ASEAN.

20130901-080918.jpg

Bidang Hankam
Aku akan mengadakan kerjasama militer dengan angkatan darat, laut dan udara negara-negara ASEAN. Mencegah masuknya illegal immigrant ke negaraku namun mengembalikan mereka ke negara masing-masing dengan manusiawi. Mencegah human trafficking dan menghukum seberat-beratnya warga negara asing yang menyelundupkan narkoba.

Bidang Pendidikan
Aku akan memberi beasiswa bagi rakyatku yang berpotensi dalam bidang akademik untuk mengenyam pendidikan di negara-negara ASEAN lain yang lebih maju dalam hal ini seperti Singapura, Malaysia, Indonesia.
Aku akan mengadakan studi banding ke Singapura untuk mempelajari pengelolaan perpustakaan di sana dan membangunnya di Laos.
Aku akan mengadakan Laos International Book Fair setiap tiga tahun sekali dan mengundang negara-negara ASEAN untuk berpartisipasi di dalamnya.

Sebagai Laotian, kuharap, rencana-renacanaku hari ini, menjadi kenyataan esok hari … :).

***
Tautan foto pertama
Tautan foto kedua

10 daysforASEAN #5: KOPI LOKAL, PASAR GLOBAL

20130831-074858.jpg

Jangan takut bersaing.
Jangan segan bekerja sama.
Persaingan yang sehat menimbulkan semangat bertahan dan meningkatkan kualitas, pun sebaliknya

(ini mah kata-kata saya :D).

Berapa banyak dari rakyat Indonesia yang tahu bahwa negerinya adalah penghasil kopi terbesar di dunia setelah Vietnam?
Berapa banyak yang tahu bahwa Aceh, Sidikalang, Toraja, Bali, Lampung, Jawa dan Flores adalah daerah-daerah penghasil kopi di Indonesia?
Berapa banyak yang ‘ngeh’ bahwa kebanyakan kopi di Indonesia jenis arabica?
Lalu, berapa banyak yang memilih, suka bahkan bangga menyeruput kopi produksi dalam negeri?

Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran dibenakku. Membuatku berpikir alangkah banyak PR negeriku.
Maka, jika Indonesia dan Vietnam mau bahu membahu bekerja sama memasarkan kopi lokalnya ke mancanegara, Indonesia harus terlebih dulu mengokohkan pijakan pemasaran ini di negerinya sendiri. Produksi harus diperbanyak, kualitas harus ditingkatkan, petani kopi disejahterakan dan rakyat harus dibuat bangga dengan kopi asal Indonesia. Branding mengambil peran lagi di sini.
Sependek pengetahuanku, ada ratusan merek dagang kopi di Indonesia. Bagaimana kalau berbagai merek itu mengusung satu branding: Kopi Indonesia.
Me-lifestyle-kan kopi dengan membuat terobosan-terobosan kreatif yang menyentuh berbagai lapisan usia dan strata sosial. Agar tidak ada kesan kopi Indonesia adalah kopi tradisional yang dijual di warteg-warteg saja, sementara yang pantas di mal adalah kopi impor dan dijual di kafe-kafe bernama asing.

Jika saat ini Indonesia menduduki peringkat ketiga negara penghasil kopi terbanyak di dunia (sebuah sumber mengatakan peringkat keempat), harus berpikir untuk meningkatkan produksi dan kualitasnya agar peringkat tersebut naik dan ekspor kopi semakin banyak.
Kenyataannya, Vietnam yang dulu berguru pada Indonesia soal kopi kini justru menjadi peringkat kedua terbesar di dunia dalam memproduksi kopi!
Berita ini lumayan mencengangkan, tapi … yang lalu biarlah berlalu menjadi pelajaran. Kini harus dipikirkan, mungkinkah kopi lokal merambah pasar global? Mungkinkah Indonesia dan Vietnam saling bekerja sama menjajakan kopinya di pasar international? Vietnam dengan kopi robustanya dan Indonesia dengan kopi arabicanya. Masing-masing memiliki kelebihan dan pangsa pasar tersendiri. Karenanya tak mungkin saling menjatuhkan, justru sebaliknya saling bersinergi untuk memasarkan lebih luas lagi ke pelosok dunia.

Uhm … PR yang cukup berat, tapi tidak mustahil. Apalagi keduanya adalah negara ASEAN. Bukan tidak mungkin, kerjasama dalam hal kopi membuat perekonomian kedua negara semakin kuat dan keharuman kopi turut mengharumkan keduanya di kancah internasional. Benar?

***

Foto dari tautan ini.
Sumber berita lainnya, klik di sini.

10 daysforASEAN #4: BEBAS VISA? ASYIK!

20130830-073433.jpg

Aku menganalogikan negara-negara ASEAN seperti sebuah kompleks perumahan. Antara satu rumah dengan rumah lainnya adalah bertetangga. Lazimnya tetangga, pastinya hubungan baiklah yang ingin dijalin. Hubungan baik itu bisa dibentuk dengan saling berkunjung, menghadiahi oleh-oleh, memberikan makanan, mengunjungi ketika sakit dan lainnya. Lambat laun hubungan jadi akrab. Jika sebelumnya harus menelepon dulu sebelum bertandang, kini cukup mengetuk pintu tanpa perlu membuat janji dulu.

Begitu pula dengan negara-negara ASEAN. Satu sama lain adalah tetangga. Kerjasama bilateral dan regional dibangun untuk mempererat hubungan dan vice versa. Jadi, layaknya tetangga, sepatutnya saling memudahkan urusan tetangga lainnya jika ingin beranjangsana. Analoginya adalah kalau cukup masuk ke negeri jiran dengan paspor, untuk apa visa? Iya, kan? Toh, kita saling bertetangga.

Aku baru dua kali mengurus visa, ketika akan ke China. Dan, o-oh, urusan visa ini bikin jantung berdegup lebih kencang dari seharusnya. Berbagai dokumen harus disiapkan. Lalu, menunggu persetujuan dari kedutaan yang dituju. Iya kalau diterima, kalau ditolak? Waktu dan uang melayang. Mengajukan secara online pun bisa. Tapi, namanya online, ada saja errornya. Tetap saja bikin jantung berdebar-debar. Khawatir di tengah proses, jaringan internet mendadak lemot dan lain-lain.

Aku bisa mengerti jika sebuah negara menetapkan visa bagi orang asing yang hendak masuk ke negara mereka. Tapi, sesama negara ASEAN akan lebih baik jika boleh masuk tanpa visa. Jarak antara negeri ASEAN berdekatan. Berbagai kemiripan dalam bentuk fisik, bahasa, kuliner dan alam membuat kita bukan orang asing bagi satu sama lain. Jadi, alangkah tak efektif dan efisien jika antara warga negara ASEAN harus memiliki visa untuk sekadar bertamu ke tetangganya. Maka, kusambut baik peraturan bebas visa yang kini berlaku untuk seluruh negeri ASEAN, kecuali Myanmar.

Ada ada apa dengan Myanmar?

Yah, kembali lagi ke analogi di atas. Ibarat tetangga. Tak semua tetangga dalam kondisi bahagia. Mungkin ada tetangga yang tertutup. Ada tetangga yang tak harmonis, keributan dalam rumah terdengar hingga ke luar dan sebagainya.
Kumisalkan Myanmar seperti itu. Mereka tengah diuji oleh keadaan negeri yang belum stabil. Berbagai permasalahan membuat mereka berhati-hati terhadap bermacam pengaruh dari luar negeri. Jadi, sangat bisa dipahami jika mereka memberlakukan visa bagi para foreigner, meski foreigner tersebut adalah tetangganya sesama warga ASEAN.

Walau demikian aku menyimpan harapan agar Myanmar suatu ketika nanti membebaskan visa bagi warga negara ASEAN. Bukannya apa-apa, sebagai emak-emak, aku ingin bisa melawat ke negeri tetangga tanpa harus rempong. Cukup paspor, sedikit uang dan satu buntel pakaian untuk melancong ke Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei, Vietnam, Cambodia, Laos dan Myanmar. Asyik, kan?

***
Foto diunduh dari tautan ini.