10 daysforASEAN #5: KOPI LOKAL, PASAR GLOBAL

20130831-074858.jpg

Jangan takut bersaing.
Jangan segan bekerja sama.
Persaingan yang sehat menimbulkan semangat bertahan dan meningkatkan kualitas, pun sebaliknya

(ini mah kata-kata saya :D).

Berapa banyak dari rakyat Indonesia yang tahu bahwa negerinya adalah penghasil kopi terbesar di dunia setelah Vietnam?
Berapa banyak yang tahu bahwa Aceh, Sidikalang, Toraja, Bali, Lampung, Jawa dan Flores adalah daerah-daerah penghasil kopi di Indonesia?
Berapa banyak yang ‘ngeh’ bahwa kebanyakan kopi di Indonesia jenis arabica?
Lalu, berapa banyak yang memilih, suka bahkan bangga menyeruput kopi produksi dalam negeri?

Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran dibenakku. Membuatku berpikir alangkah banyak PR negeriku.
Maka, jika Indonesia dan Vietnam mau bahu membahu bekerja sama memasarkan kopi lokalnya ke mancanegara, Indonesia harus terlebih dulu mengokohkan pijakan pemasaran ini di negerinya sendiri. Produksi harus diperbanyak, kualitas harus ditingkatkan, petani kopi disejahterakan dan rakyat harus dibuat bangga dengan kopi asal Indonesia. Branding mengambil peran lagi di sini.
Sependek pengetahuanku, ada ratusan merek dagang kopi di Indonesia. Bagaimana kalau berbagai merek itu mengusung satu branding: Kopi Indonesia.
Me-lifestyle-kan kopi dengan membuat terobosan-terobosan kreatif yang menyentuh berbagai lapisan usia dan strata sosial. Agar tidak ada kesan kopi Indonesia adalah kopi tradisional yang dijual di warteg-warteg saja, sementara yang pantas di mal adalah kopi impor dan dijual di kafe-kafe bernama asing.

Jika saat ini Indonesia menduduki peringkat ketiga negara penghasil kopi terbanyak di dunia (sebuah sumber mengatakan peringkat keempat), harus berpikir untuk meningkatkan produksi dan kualitasnya agar peringkat tersebut naik dan ekspor kopi semakin banyak.
Kenyataannya, Vietnam yang dulu berguru pada Indonesia soal kopi kini justru menjadi peringkat kedua terbesar di dunia dalam memproduksi kopi!
Berita ini lumayan mencengangkan, tapi … yang lalu biarlah berlalu menjadi pelajaran. Kini harus dipikirkan, mungkinkah kopi lokal merambah pasar global? Mungkinkah Indonesia dan Vietnam saling bekerja sama menjajakan kopinya di pasar international? Vietnam dengan kopi robustanya dan Indonesia dengan kopi arabicanya. Masing-masing memiliki kelebihan dan pangsa pasar tersendiri. Karenanya tak mungkin saling menjatuhkan, justru sebaliknya saling bersinergi untuk memasarkan lebih luas lagi ke pelosok dunia.

Uhm … PR yang cukup berat, tapi tidak mustahil. Apalagi keduanya adalah negara ASEAN. Bukan tidak mungkin, kerjasama dalam hal kopi membuat perekonomian kedua negara semakin kuat dan keharuman kopi turut mengharumkan keduanya di kancah internasional. Benar?

***

Foto dari tautan ini.
Sumber berita lainnya, klik di sini.

9 thoughts on “10 daysforASEAN #5: KOPI LOKAL, PASAR GLOBAL

  1. laaah… ternyata gak rugi saya sebagai penikmat kopi lokal, eh ternyata saya turut menyumbang keuntungan produsen kopi lokal. apalagi indonesia jadi penghasli kopi terbesar ketiga di dunia. eh padahal blog sy blog kopi, tapi gak ikut kontes kopi2an ini. sukses buat kontesnya

    • Oooh iya ya, baru memperhatikan tagline blog Anda: ngopi saja πŸ˜€
      Yup, harus cinta kopi dalam negeri yang enggak kalah wangi dan sedap dengan negeri lain :).

      Tulis saja kalau ingin nulis tentang kopi Indonesia, tidak perlu tunggu ada lomba πŸ™‚

  2. walupun bukan penggemar kopi, ku tahu 2 jenis kopi, pernah belajar ilmu perkopian dari pakar kopi yang punya kopi aroma di bandung.. di indonesia sebener punya 2 jenis itu, arabika dan robusta, wangi dan pahit.. tiap daerah pun punya kebon kopi dengan kekhasan kontur tanahnya.. dan kita terkenal dengan kopi luwak yang mahal itu, tapi banyak dipalsukan sekarang..
    sudah lama tahu kalu kopi vietnam itu dari indonesia, seperti durian monthongpun dari indonesia, sebagai hadiah presiden soekarno kepada ratu sirikit..
    lucu ya produk awal kita terkenal di luar malah..

    • Wow, hebat nih pengetahuan mbak Tintin.
      Kopi aroma itu nama kafe atau jenis kopi Mba?

      Iya, benar, orang lain belajar cepat dari negeri kita.
      Sepatutnya kita pun seperti itu, ya?

      He eh, Mba, kaosnya cakep πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s