10 daysforASEAN #1: Salon-Salon Thailand

Baiklah, pertanyaan hari pertama di ajang lomba menulis #10daysforASEAN:
Bagaimana kalau di sekitar perumahanmu banyak berdiri salon-salon Thailand yang profesional dan mempunyai sertifikat tingkat internasional, apakah itu akan menggeser salon lokal ? Apa analisismu?

Aku teringat berita yang kubaca di harian online beberapa waktu lalu tentang batik-batik Malaysia yang mulai merambah pasar lokal di tanah air.
Konon, jika tidak diatur segera pemasarannya, batik kreasi pembatik lokal bisa tergeser oleh keberadaan batik impor ini.
Andai salon-salon Thailand berdiri di lingkungan perumahan, kekhawatirannya lebih kurang sama dengan kasus batik di atas.

Menyikapi hal ini, aku akan memposisikan diriku sebagai konsumen, usahawan salon dan Pemda.
1. Konsumen
Jujur saja, segala hal yang datang dari luar negeri sering tampak menggoda. Jadi, aku pasti akan bahkan mungkin harus mencoba produk dan jasa yang dijual di salon-salon Thailand tersebut. Minimal sekali. Setidaknya menuntaskan rasa kepenasaran. Tapi, untuk menjadi pelanggan, aku pikir-pikir dulu.

2. Usahawan Salon
Kalau aku berada di posisi ini, pastilah ada kekhawatiran meski sedikit. Khawatir pelanggan berpindah ke lain hati. Namun, aku harus menjadi usahawan profesional yang bekerja bukan dengan perasaan melainkan rasio dan semangat kompetitif yang sehat. Aku harus bumbata. Menyadari bahwa kini adalah era globalisasi. Pengaruh dari berbagai negara bisa masuk dengan mudah ke tanah air. Sikap terbaik yang dapat kulakukan adalah meningkatkan kualitas produk dan jasa yang kujual. Aku harus meningkatkan kinerjaku dan pegawaiku dengan mengikuti bermacam training pengembangan skill. Aku juga harus bisa meningkatkan prestasi, meraih penghargaan dan mengambil sertifikasi internasional. Selain itu, aku harus gencar dalam hal marketing, kalau perlu memiliki bagian litbang dalam badan usahaku. Mengembangkan strategi dan kreativitas dalam hal pemasaran usaha salonku dan lain-lain. Pendeknya, aku tidak mau menudingkan telunjuk ke orang lain atau ke negara lain, jika mereka berhasil memasuki bahkan merebut pangsa pasar di lokasi perumahanku bahkan di tanah air. Telunjuk harus ditempelkan di keningku dahulu sambil bertaya apa yang sudah kulakukan untuk mendapatkan hati di rumah sendiri?

3. Pemda
Mau tak mau, sebagai pemerintah, aku harus turun tangan mengatur izin berdiri salon-salon Thailand. Dalam hal ini, aku yang paling bertanggung jawab mengedepankan kepentingan warga negaraku dalam berusaha menghidupi diri mereka. Jadi, aku tak menutup pintu terhadap salon-salon Thailand yang membuka lahan bisnis di wilayah kekuasaanku tapi aku pasti akan mengontrol izin usaha dan keberadaan mereka.
Selain itu, aku akan membuka kursus-kursus kewirausahaan dan pengembangan skill yang ditujukan untuk wargaku agar mereka dapat meningkatkan kualitas diri mereka dan berani bersaing dengan sehat terhadap usaha atau bisnis yang berasal dari luar negeri.

So, salon Thailand around ours is not a problem anyway ….

11 thoughts on “10 daysforASEAN #1: Salon-Salon Thailand

  1. telat baca lomba ini, udah hari kedua baru “ngeh” ga boleh putus selama 10 hari..
    padahal daku lebih suka ke salon thailand, lebih ramah lebih bersih dan lebih enak pijitannya.. tapi tetep ya bukan saingan kalu kita mau belajar dari mereka..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s