[Xenofobia] Bagimu dan Bagiku

Aku tak punya hak pilih untuk menentukan rupa wujudku ketika dilahirkan di dunia. Aku tak memilih untuk dilahirkan dengan warna kulit hitam legam seperti aspal atau putih mulus laksana pualam. Sama sepertimu, kan?

Aku pun tak kuasa menetapkan asalku ketika dihadirkan ke dunia. Apakah aku lahir dari rahim seorang perempuan suku mayoritas ataukah ras minoritas. Sama denganmu, kan?

Aku juga tak berdaya memastikan bentuk keyakinanku kelak, sejak tangis pertamaku meledak di alam fana. Akankah aku berserah diri kepada-Nya dengan menyimpuhkan keningku dalam sujud atau mengalungkan rosario di leherku atau membakar dupa-dupa atau bahkan tak mengakui-Nya dalam hidupku?

Tapi, pada akhirnya aku menyadari ….

Aku tak bisa menukar warna kulit dan silsilahku.

Namun, aku bisa memilih keyakinanku.

Dan aku telah memilih.

Keyakinan yang akan dan harus kuanut sampai mati.

Apakah aku menukar keyakinanku? Tidak, tentu saja. Aku hanya mengubah sikap dan cara pandangku terhadap keyakinan yang telah melekat sejak aku lahir.

Sama sepertimu, kan?

(Kau menggeleng)

Oh, jangan!

Jangan katakan kau mempercayai keyakinan kau karena orang tuamu, karena nenek moyangmu!

Jangan katakan kau membebek pada mereka!

Jangan! Sebab itu hanya akan menjumudkan pikiran, menyempitkan cara pandang, memrovokasimu pada prasangka-prasangka, menghasutmu pada kebencian bahkan melahirkan antipati pada mereka yang tak sama dengan warna kulit, ras dan keyakinanmu.

Bukankah aku dan kau memiliki akal dan hati? Bagaimana jika kita gunakan kelebihan kita dibanding mahluk lain itu?

(Kau menanyaiku)

Oh, bukan!

Akal kita memiliki keterbatasan untuk mempelajari bermacam keyakinan yang berbeda. Lagipula hingga matahari terbit dari barat pun, perbedaan adalah niscaya. Mustahil membuat aku, kau dan semua manusia memiliki pemahaman yang seragam. Maksudku, bagaimana jika kita menata hati dan menggunakan akal untuk belajar menghargai corak kita yang tak sama?

Menata hati. Sebab ternyata, ilmu pengetahuan (saja) tanpa membuka dan menata hati tak akan membantu mengobati prasangka, benci dan antipati yang merupakan ‘borok’ hati. Penyakit yang hanya bisa diterapi dengan menciptakan hati yang seharum melati.

(Kau menggeleng lagi)

Baiklah. Aku tak mau dan tak akan memaksamu untuk mengakui apalagi menghormati pilihanku. Bagimu keyakinanmu, bagiku keyakinanku.

Aku telah memilih dan aku tahu konsekuensi pilihanku. Aku hanya harus melakukan hal bermanfaat padamu, pada manusia dan pada seluruh semesta. Aku pun telah diberitahu, seseorang yang memilih keyakinan sepertiku selamanya akan dianggap asing. Tidak hanya sekarang, melainkan sejak dulu. Sejak aku dan kau belum ada hingga nanti ketika aku dan kau kembali tak ada.


***


L jegeg, semoga dirimu memahami kicauanku ini :”>

Matursuksema sudah menyelenggarakan lomba menulis Xenofobia. Mengajak Fe yang jumud untuk berpikir. Jazakillah … .

[Xenofobia] Bali, Terlalu Indah untuk Dilewati

Xenofobia. Saya mengingat-ingat peristiwa yang membuat saya bersentuhan dengan kata ini. Sepanjang ingatan saya, tak pernah seseorang atau sekelompok orang memandang asing pada saya yang menyebabkan mereka membenci saya atau melecehkan saya karena keyakinan yang saya anut.

Tapi, sebentar ….

Ya Allah, ternyata telunjuk ini harus ditoyorkan ke kening saya sendiri yang tanpa saya sadari, dulu, pernah menyemai benih-benih xenophobia terhadap BALI!

Entah sejak kapan saya menerima cara pandang salah kaprah tentang Bali, saya tak ingat. Dalam memori masa kecil saya, pulau Bali tak pernah ada dalam kamus liburan keluarga besar. Bukan karena jarak pulau dewata yang jauh dari tempat tinggal saya masa kanak-kanak dulu. Sebab, saya anak kolong. Orang tua saya kerap ditugaskan ke berbagai pulau di Indonesia. Jadi, kalau sekedar jalan-jalan dari Jakarta atau Bandung ke Bali, pastinya bisa. Kenyataannya, tak ada yang namanya wisata ke Bali.

Nuansa Bali yang eksotis, adat istiadatnya dan masyarakatnya yang bersahaja hanya saya saksikan lewat media elektronik, majalah dan nguping-nguping pengalaman orang yang sudah pernah pelesir ke sana. Keindahan Bali yang telah tersohor ke pelosok dunia, tidak menggelitik rasa penasaran keluarga besar saya untuk berkunjung ke sana.

Obrolan, celetukan atau pendapat orang-orang tentang Bali, yang sempat terekam di benak kanak-kanak saya, mengendapkan satu asumsi berbahaya dalam diri saya yang terus terbawa hingga saya dewasa, bahwa Bali identik dengan:

Mistik

Angker

Banyak babi, susah cari makanan halal.

Turis-turisnya yang telanjang.

Pendeknya, segala hal tentang Bali adalah jelek dan tak pantas untuk seorang muslim. Padahal kami berteman dengan orang Bali. Sahabat sesepuh saya pun orang Bali. Dalam pemikiran saya yang sederhana: berteman dengan Balinese, yes. Tamasya ke Bali, no!

Febi kecil (saya maksudnya) menyimpan pemahaman keliru tentang Bali dalam memorinya selama bertahun- tahun. Tak pernah pula mencoba menglarifikasi informasi itu. Bodor-nya, meski berbagai hal yang berhubungan dengan Bali katanya tak sesuai untuk seorang muslim, saya di masa kecil hapal ucapan salam di acara rohani agama Hindu yang kerap ditayangkan TVRI jaman dahulu kala, yakni:

Om shanty shanty shanty om .

Berbilang tahun terlewati. Saya beranjak remaja, SMA lalu kuliah. Penilaian tentang Bali dan segala hal yang berhubungan dengannya tak berubah sampai saya menjejakkan kaki di Singapore. Negeri mungil yang jelas-jelas berpenduduk mayoritas nonmuslim, jelas-jelas babi dan semua produk yang mengandung babi mudah didapati di sini, jelas-jelas ramai turis dengan beraneka gaya penampilan (dari yang biasa hingga aneh tapi nyata) gampang dijumpai di sini. Tapi, mengapa tak ada cerita negatif yang sampai ke telinga saya tentang negeri ini?

Saya yang pada mulanya tergagap-gagap menjalani kehidupan di Singapore, perlahan menjadi terbiasa dan belajar menerima perbedaan yang terpampang di hadapan saya. Perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa dan perbedaan keyakinan. Saya belajar untuk tak terganggu dengan ragam perbedaan tersebut. Bagi saya, untuk saya keyakinan saya, untuk mereka keyakinan mereka. Namun, pemahaman ini tak serta merta melunturkan stereotip yang telah terlanjur melekat di hati saya tentang Bali. Hingga suatu hari, sekitar tiga tahun lalu, salah satu teman dekat di Singapore yang saya tahu keshalihan dirinya dan keluarganya cerita bahwa ia akan berlibur ke Bali. Saya kaget namun menyimpan keterkejutan dalam hati. Bagaimana mungkin ia yang shalihah dan berjilbab rapat akan jalan-jalan ke Bali?

Lihatlah, hingga tiga tahun lalu saya masih terbelenggu dengan pemikiran yang picik! Apa salahnya seorang muslimah shalihah dan keluarganya jalan-jalan ke Bali, ya kan?

Mendengar rencana liburan teman saya itu, perlahan saya jadi berpikir tentang Bali. Tentang keindahan alamnya yang selama ini hanya singgah di telinga saya. Tentang keunikan budayanya yang kerap saya saksikan dalam penggalan-penggalan iklan di layar kaca. Lalu, tanpa bisa saya hindari, muncul dorongan kuat dalam diri saya untuk mengunjungi Bali. Ya, saya yang dulu apriori pada Bali malah ingiiin sekali jalan-jalan ke Bali. Ndilalah, ketika keinginan itu terbetik, jalan untuk ke sana pun dimudahkan-Nya. Saya sekeluarga dapat tiket pesawat promo Singapore-Bali yang harganya cukup terjangkau untuk kantong kami saat itu. Tak perlu pikir dua kali, saya sekeluarga memutuskan berlibur ke Bali. Mencari banyak informasi tentang Bali. Menghubungi relasi untuk mendapatkan akomodasi yang murah meriah dan lucunya sangat ‘mBali’. Saya malah ingin bermalam di penginapan yang bentuk fisik dan desain interiornya justru sangat khas Bali. ‘Cita-cita’ itu kesampaian. Saya tinggal di penginapan Puri Dewata selama di Bali. Mama dan tante saya malah menyusul kami ke Bali.

Kami di depan gerbang hotel

Sempat terbetik pertanyaan tentang bagaimana mencari makanan halal selama di sana? Bagaimana dengan tempat wisata yang merupakan tempat sambahyang mereka? Ah, saya tak ingin mempersulit diri untuk mencari jawabannya. Toh, selama ini saya tinggal di Spore. Saya pasti bisa mengatasi ‘persoalan’ itu. Keyakinan yang membuat saya salut pada diri sendiri :D.

Ketika akhirnya kaki saya menginjak Bali, menjejak di pasir basah pantai Kuta, memandang hijau biru air laut pantai Pecatu, menghirup sejuk udara di Bedugul, menatap kuning keemasan tangkai-tangkai padi di Tegal Alang, saya tak mampu berkata-kata. Ya Allah, alangkah cantiknya. Alangkah cantiknya ….

Indahnya Bali ‘menyihir’ seluruh indera di tubuh saya, membuat saya takjub pada ke-MAHA-an-NYA sekaligus merutuki diri sendiri. Betap
a bodohnya saya selama ini, mau saja termakan omongan orang-orang di masa lalu tentang Bali yang begini dan begitu. Kenyataannya, selama saya di sana masih bisa menjumpai makanan halal, saya tak harus dan tak diharuskan untuk masuk pura, gaya turisnya serupa dengan yang biasa saya lihat di Singapore. Saya sempat makan di restoran halal di daerah Bedugul, pengemudi speed boat yang kami sewa untuk mengelilingi danau Beratan pun seorang muslim. Saya bahkan sempat bertemu dan bercakap-cakap sebentar dengan seorang muslimah yang asli orang Bali di mushala kecil di bandara Ngurah Rai. Ia bercerita bahwa masyarakat muslim dan masyarakat Hindu di Bali hidup berdampingan dengan damai. Bahkan pada masa lampau kerajaan Hindu melindungi kaum muslimin. Sungguh kabar yang baru saya ketahui. Saya jadi berandai-andai ….

Andai orang-orang di sekitar saya yang dulu turut andil menanamkan syakwasangka tentang Bali pada diri saya (tanpa mereka sadari) mengetahui kabar ini, andai mereka menapakkan kaki mereka di pulau ini, akankah mereka masih menyimpan prasangka buruk tentang Bali? Namun, salah saya juga. Seharusnya jangan memelihara prasangka. Sepatutnya, saya saring lagi informasi yang sampai kepada saya, saya telaah lagi kebenarannya sembari terus membersihkan hati. Sebab, prasangka adalah penyakit hati yang pastinya hanya bisa diobati dengan membersihkan hati.

Saya beruntung tak mengristalkan pemahaman salah tentang Bali sepanjang hidup saya. Dengan ijin-Nya, saya ingin menyambangi Bali lagi. Kedamaian roda hidup di Bali dan kecantikan alamnya adalah kekayaan yang terlalu indah untuk dilewati.

***

Meramaikan lomba yang diadakan oleh Lessy Jegeg 🙂