[Aku dan Kain Gendongan] Sebal-Sebal Suka

Aku bukan berasal dari Jawa. Ditelusuri dari atas hingga ke bawah silsilah pun, tak ada darah Jawa mengalir di tubuhku. Tapi, jarit yang merupakan warisan budaya Jawa justru tak asing di kehidupan keluargaku.

Sejak masih anak-anak hingga aku punya anak, mama tak pernah menggendong dengan kain lain kecuali jarit. Sebelum menikah, aku tak pernah ambil peduli pada sehelai batik panjang dengan aneka rupa motif itu. Bagiku, menggendong bayi atau balita dengan jarit merupakan pemandangan biasa. Aku tak tergerak sedikit pun untuk mempelajari cara menggunakannya. Hingga tiba masaku melahirkan dan mengasuh anak.

Menyesal memang selalu belakangan. Aku menyesal karena tidak sejak dulu belajar memakai jarit sebagai gendongan. Kalau saja aku mempelajarinya sejak lama, pasti sekarang sudah terampil mengenakannya. Ketidakluwesan ‘mengoperasikan alat’ ini bikin aku sebel-sebel suka dengan kain yang dijuluki jarit ini.

Jadi begini ceritanya ….

Aku melahirkan anak pertama di Bandung. Kelahiran anakku disambut gembira oleh orang tua dan keluarga besarku. Sejak beberapa bulan sebelum melahirkan, mamaku banyak membantu menyiapkan segala keperluan calon bayiku yang juga merupakan calon cucu pertamanya. Gurita, baju, popok untuk bedong, kaos tangan, kaos kaki, minyak telon, bedak, semuanya, deh. Tak ketinggalan jarit! Nenek dari suamiku bahkan menghadiahi bayiku tiga atau empat jarit! Ternyata, bagi orang Jawa, jarit memiliki nilai filosofi. Aku tidak paham filosofinya. Pastinya nenek suamiku memberikan jarit untuk tujuan yang baik.

Mulanya aku tak begitu peduli dengan keberadaan si jarit ini. Tapi, sejak bayiku pulang ke rumah, dirawat oleh mamaku (karena aku masih cupu, masih takut-takut merawat bayi) baru kusadari kalau si jarit sangat dekat dan bermanfaat untuk bayiku. Setiap pagi, usai bayiku dimandikan, dibedaki, disalinkan baju, dibersihkan kuping, ia pun digendong dengan jarit. Bayiku terbungkus gendongan jarit. Digoyang kanan kiri seraya dinyanyikan. Aku melihat bayiku nyaman sekali dalam buaian jarit. Meski tertutup jarit, bayiku tak kepanasan. Tahu sendiri suhu kota Bandung, kan? Duiiingiiiin. Bayiku pasti merasa hangat dalam dekapan jarit yang disampir di pundak mamaku.

Bisa dibilang, begitulah rutinitas bayiku setiap pagi. Beres dibersihkan, ditidurkan dalam gendongan jarit. Hari-harinya lekat dengan gendongan ini. Bahkan hampir tiap malam sebelum tidur. Pun ketika ia menangis! Setiap orang tua yang ada di rumahku (mama, tante, uwak) akan dengan senang hati menyambar jarit dan mulai menggendong bayiku. Bergoyang sambil bernyanyi, meredakan tangis anakku atau sengaja menidurkannya. Setiap orang, kecuali aku. Iya, aku yang ummi anakku malah tak pernah menggendong bayiku dengan jarit. Aku lebih sering menggendong langsung dengan tangan tanpa bantuan apapun.

Tentu saja aku senang dengan kesigapan para orang tua yang membantu mengasuh bayiku. Sebagai ibu baru, rasanya tenang banyak bala bantuan yang siaga menolongku. Namun, lama kelamaan ketenangan itu berubah menjadi kecemasan. Pasalnya, menurut analisaku yang sederhana, bayiku mulai terbiasa dengan gendongan jarit. Ia lebih lama tidur dalam gendongan daripada di atas kasurnya. Aku yang masih sering panik menghadapi tangis bayi semakin panik melihat anakku kerap rewel dan tidurnya hanya sebentar, kecuali dalam gendongan. Jika dulu aku senang dengan uluran tangan mereka untuk menggendong, lama kelamaan aku meradang. Aku tak suka jika anakku digendong. Aku merasa, si jarit yang tadinya alat penenang berbalik jadi boomerang. Hatiku semakin dongkol ketika salah seorang di antara mereka, sebut saja tanteku, malah berkata begini:

“Anak jangan kebiasaan digendong, nanti kamu yang susah. Apalagi di Singapore tidak ada yang bantu.”

Mendengarnya bukan membuatku sumringah, aku malah ingin mengomel-omel di hadapannya, tapi kutahan. Siapa juga yang sering gendong anakku? Kan kamu! Kesalku dalam hati.

Tampaknya, prediksi si tante benar adanya. Awal mula kembali ke Spore, setelah tiga bulan melahirkan menetap di Bandung, anakku acapkali rewel. Entah karena Singapore bercuaca panas, entah karena anakku biasa digendong, entah karena hatiku yang rusuh, anakku sering sekali menangis. Aku yang belum pengalaman mengurus bayi dilanda panik pangkat tujuh enam. Tentu saja aku tak lupa membawa si jarit ke Singapore. Tapi, aku tak pernah memakainya untuk menggendong karena aku tak bisa. Lagi pula, digendong jarit di cuaca yang panas seperti Singapore kelihatannya bukan pilihan yang bagus. Maka, fungsi jarit sebagai gendongan kuubah menjadi alas kasur.

Benar kata orang, dalam keadaan darurat atau terpaksa, kadang seseorang bisa melakukan hal yang tadinya tak mungkin dilakukannya. Menggunakan gendongan jarit salah satunya. Suatu ketika, masih di Singapore, anakku demam. Aku harus membawanya ke dokter. Ketika itu, aku punya dua gendongan yakni jarit dan gendongan instan yang biasa digunakan sekarang. Aku bingung harus memakai yang mana? Namun, mengingat di luar hujan dan cuaca cukup dingin, kuputuskan menggunakan jarit. Entah bagaimana caranya, aku berhasil melilitkan jarit ke pundakku. Ada secuil rasa bangga ketika akhirnya aku bisa menggendong anak dengan jarit. Ternyata, gampang kok pakai gendongan jarit, pikirku sombong.

Kesombongan memang bukan milik manusia, ya? Meski hanya secuil sombong, Allah tidak suka.

Kesombonganku bisa pakai jarit dengan ‘gampang’, diuji usai memeriksakan anakku di dokter. Sewaktu diperiksa, otomatis kubuka gendongan jarit. Kubaringkan anakku di kasur dokter. Nah, saatnya memakai jarit kembali, kupikir akan se-easy sebelum ke dokter. Nyatanya, aku susah sekali melilitkan kain ke pundak untuk mendapatkan posisi uwenak. Baik uwenak untukku maupun untuk bayiku. Entah karena diperhatikan Bu Dokter atau karena memang tak bisa, aku kepayahan memasang jarit seperti semula. Bu dokter mengangguk-angguk, memandangku dengan tatapan prihatin. Aku jadi salah tingkah, tersenyum kikuk. Malu dan rikuh. Setelah beberapa menit menegangkan, aku menghembus napas lega karena berhasil menyelempangkan jarit ke pundak meski hasilnya tak sebaik sebelum aku pergi ke dokter. Namun, malu diperhatikan dokter dengan tatapan prihatin tak langsung memudar. Malu banget. Masa pakai jarit aja repot? Mungkin begitu yang ada dalam pikiran sang dokter.

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi memakai jarit sebagai gendongan. Aku tidak cukup tangguh untuk menaklukan si jarit. Jarit kupakai sebagai alas kasur. Fungsi ini bertahan cukup lama. Seperti terlihat di foto. Saat itu anakku berusia dua tahunan. Jarit masih menjadi alas kasur tempat mainnya. Walau bagaimana pun, aku tetap berterima kasih pada jarit. Ia membantu menenangkan bayiku di awal-awal kehadirannya di dunia.

Ket. foto: anakku dan eyangnya. Jarit menjadi alas kasur tipis tempat mainnya

Pengalaman ini kuikutsertakan di lomba menulis Aku dan Kain Gendongan
Lebih kurang 930 kata 😀