[Batam FF – Lebaran] Episode Buntu

Sekelilingku gelap. Hujan menampar-nampar. Bayiku merengek-rengek. Kakaknya terisak pelan.

“Sabar, Sayang…” ucapku seraya mengelus punggungnya.

Padahal, aku tengah menghibur diri sendiri. Katakan padaku, bagaimana bersabar dalam ruang sempit dan pengap? Meregangkan tangan tak bisa, menyelonjorkan kaki apalagi. Gerah pula. Heran, jaman seperti ini kok masih ada yang tak memakai penyejuk ruangan? Lagu dangdut yang mengalun dari radio usang, bersaing suara dengan derasnya hujan.

Kuarahkan cahaya handphone ke samping, melihat suamiku. Arrghhh! Bisa-bisanya dia tertidur pulas? Memang sudah tengah malam, sih. Tapi, bahkan dua anak kami masih menyalakan mata. Suami? Malah menari di alam mimpi!

Kesal membuatku lapar. Kurogoh-rogoh biskuit dalam tas. Tak ketemu. Bagus, lengkap sudah penderitaanku!

Namun, Allah memang Maha Baik.

Rinai hujan mereda.

Kubuka jendela lebar-lebar.

“Ahhh, akhirnya!” Kuhirup udara sepuasnya.

Asap rokok ikut terhisap ke paru-paruku. Umpat kekesalan ikut mampir ke telingaku.

“Gelo!” seru supir di seberangku. “Lima jam ti ditu ka Nagrek!”

“Komo abdi ti seberang,” timpal supir di depanku.

Penumpang di belakangku terbangun, “Tos di mana?” tanyanya.

“Lewat sakedik ti Nagrek, Bu.” jawabku.

Lalu, matanya memicing kembali. Kok bisa?


Aku menghela napas panjang. Menyesali mobil travel butut yang kutumpangi belasan jam lalu.

Ugh, apa nikmatnya perjalanan ini?

Sayangnya, keluhan tinggal keluhan . Aku tetap terperangkap dalam macet arus mudik lebaran, dalam mobil minibus tua tanpa penyejuk ruangan, bantalan kursi yang keras dan barisan panjang kendaraan. Kuhembuskan napas keras-keras. Berharap si supir mendengar, berharap suamiku mendengar, berharap penumpang di belakangku mendengar. Namun, dendang dangdut melenakan semuanya.

***

240 kata

Lomba FF MPers Batam