[Lomba Dongeng Anak] MORINGA UNTUK DIDA PANDA

MORINGA UNTUK DIDA PANDA

Yudith Fabiola

“Mama, aku mau main ke rumah Dida, ya.”

“Bukankah tadi sudah bertemu di sekolah?”

“Sudah tiga hari Dida tak sekolah, Ma.”

“Lho, kenapa?”

“Itulah, tak ada yang tahu penyebab Dida tak sekolah. Bu Guru pun tak tahu.”

“Tidak biasanya Dida begitu,” gumam Mama, “baik, kau boleh ke sana. Tapi, hati-hati, ya!”

Reti Merpati segera mengepakkan sayapnya kuat-kuat setelah mendapat izin dari mamanya.  Ia terbang tinggi melintasi hutan menuju rumah Dida Panda. Dida Panda tinggal di desa Ayunda, desanya para panda. Cukup jauh dari rumah Reti Merpati.

 Tiba di sana, Reti Merpati bertengger di pohon di depan teras rumah Dida. Ia bersiul-siul memanggil Dida. Tak lama, pintu rumah Dida terbuka.

“Reti!”

“Dida!”

Dida terkejut melihat Reti berada di teras rumahnya. Sedangkan Reti kaget menyaksikan Dida.

“Ke-kenapa dengan bulumu, Dida?” tanya Reti heran. “Me-mengapa bulu putihmu menjadi kuning kecokelatan?”

Dida Panda menunduk sedih, “Semua panda di sini bulu putihnya berubah warna.”

“Kok bisa?”

“Aku pun tak tahu,” ujar Dida. “Tapi, Ayah bilang, mungkin air penyebabnya.”

“Maksudmu, air di desamu kotor? Warnanya kuning kecokelatan?” Dida mengangguk.

“Terus, kenapa kamu tak ke sekolah tiga hari ini?”

“Aku malu,” jawab Dida. “Bagaimana mungkin aku ke sekolah dengan bulu kotor seperti ini?”

“Tapi, sampai kapan kamu akan terus bersembunyi di rumah?” protes Reti. “Kamu tak mau ketinggalan pelajaran di sekolah, kan?”

“Tentu saja. Tapi, apa yang bisa kulakukan agar buluku putih lagi? Agar air di sini jernih lagi?”

Reti Merpati terbang rendah. Berpikir keras mencari solusi. Begitu juga Dida panda, mondar-mandir di teras rumahnya.

“AHA!” seru Reti tiba-tiba, “kita datangi saja Profesor Cling Kelinci!”

“Cerdas!” puji Dida Panda. “Tapi, kita pergi ke sana malam-malam, ya!” mohon Dida.

“Kamu pasti tak ingin ada yang memergokimu dengan bulu kuning kecokelatan, kan?” duga Reti.

“Pintar!” puji Dida lagi.

Malam hari, mereka segera berangkat menemui profesor Cling Kelinci di kota Wortelu. Beruntung Profesor tengah ada di laboratoriumnya. Mereka menceritakan kondisi Dida dan air kotor di desanya.

“Hmm…” Profesor Cling Kelinci tampak berpikir. “Baik, datanglah kembali tiga hari lagi sambil membawa  air kotor dari desamu.”

Tiga hari kemudian, Reti dan Dida berada di laboratorium Profesor Cling Kelinci.

“WOOOW!” pekik keduanya takjub. Air kotor yang mereka bawa, satu jam kemudian menjadi jernih kembali setelah  Profesor memasukkan larutan ke dalamnya.

“Larutan ajaib apakah ini, Prof?” tanya Dida.

“Ini bukan larutan ajaib, Dida,” jawab Profesor. “Ini adalah larutan biji Moringa. “

“Biji Moringa?” tanya Reti heran.

“Pernah lihat pohon Moringa?” Profesor bertanya lagi. “Daunnya kecil-kecil dan bentuk polong buahnya memanjang.”

“Sebentar,” Reti tampak mengingat-ingat sesuatu, “Hey, bukankah itu pohon tempatku bertengger di depan rumahmu?”

“Ya, ya, ya, aku ingat!” ujar Dida girang. “Itu sih pohon yang banyak tumbuh di desa Ayunda!” lanjut Dida riang. “Tapi, kami menyebutnya pohon Kelor, Prof.”

“Sama!” tegas Profesor. “Kelor sama dengan Moringa, Kelo, Keloro, Kawano dan ada beberapa nama lagi.”

“Jadi, bagaimana membuat larutan penjernih air ini, Prof?” tanya Dida tak sabar.

Profesor Cling Kelinci pun memperlihatkan cara membuat larutan biji Moringa pada Dida dan Reti.

“Biji moringa yang sudah kering dipanen. Buang kulit bijinya sehingga tampak biji yang putih. Biji ini ditumbuk sampai halus hingga menjadi bubuk biji moringa. Tambahkan sedikit air bersih ke dalam bubuk biji hingga menjadi pasta.”

“Di desaku tak ada air bersih, Prof.” Dida memotong penjelasan Profesor.

“Minta sebotol dua botol pada Reti,” saran Profesor. “Air di desamu tak kotor kan, Reti?” Reti menjawab dengan senyum.

“Kemudian, masukkan pasta ke dalam botol dan tambahkan air segelas. Kocok hingga tercampur sempurna lalu disaring. Larutan yang tersaring dimasukkan ke air kotor. Diaduk selama 10 sampai 15 menit. Nanti, kotoran-kotoran akan mengendap. Satu jam kemudian air menjadi bersih dan bisa dipakai untuk keperluan keluarga.”

“WHIII!” Reti dan Dida kembali takjub. “Gampang sekali, Prof!”

“Nah, tunggu apalagi?” tegur Profesor. “ Kabarkan berita gembira ini pada orang tua dan warga desa Ayunda!”

Dida Panda pamit dengan tergesa lalu melesat bagai kilat. Reti Merpati sampai terengah-engah mengepakkan sayapnya demi mengejar Dida.

“Oooiii Didaaa, tunggu aku!” teriak Reti.

Rupanya, Dida tak mau membuang waktu. Ia ingin segera sampai ke desanya. Memberi tahu orang tua  dan mengajak seluruh panda bergotong royong membuat bubuk biji Moringa. Reti geleng-geleng kepala melihatnya.

“Didaaa, semangat nian kau!” Dida menoleh dan mengacungkan ibu jari pada Reti.

Reti tersenyum. Dida pasti akan segera kembali ke sekolah. Bulu kotornya akan putih lagi berkat larutan biji Moringa temuan Profesor Cling Kelinci.


***


Dongeng ini diikutsertakan di lomba Menulis Cerita Anak (Dongeng) yang diselenggarakan oleh Sarikata.com dalam rangka ulang tahunnya yang ke-9 di tahun 2011.


Ingin mengetahui lebih banyak tentang Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera)? Klik saja link yang ini.

Foto diunduh dari sini.

[Lomba Dongeng Anak] KAMPUNG BALON

KAMPUNG BALON

Yudith Fabiola


Hari Sabtu yang cerah. Bunda mengajak Dena mengunjungi Paman Bela di Kampung Balon. Kampung ini terletak di pelosok. Jauh dari keramaian kota. Dari jalan besar ke kampung Balon harus ditempuh dengan jalan kaki. Tapi, Dena yang ‘anak kota’ senang saja diajak ke sana karena bunda bilang Dena akan mendapat oleh-oleh puluhan balon sepulang dari sana.

Tiba di Kampung Balon, Dena heran karena tidak melihat satu balonpun di sana. “Katanya kampung Balon, kenapa tidak ada satu balon pun, Bunda?” Bunda menggeleng tak mengerti.

Di rumah paman, Dena tak sabar ingin mendengar cerita tentang balon-balon yang hilang. Padahal beberapa bulan lalu Bunda bilang masih melihat beragam bentuk dan beraneka warna balon menghias berbagai tempat di kampung ini. Ternyata, balon-balon itu tak hilang melainkan…

“Orang-orang terlampau sibuk untuk meniup balon setiap pagi,” paman mengawali cerita. “Bapak-bapak harus bekerja, ibu-ibu mengurus rumah sedangkan anak-anak asyik bermain.”

“Kalau meniup malam hari?” usul Dena.

“Malam waktunya istirahat setelah sepanjang siang lelah bekerja, mengurus rumah dan bermain.”

“Bagaimana dengan Paman?” tanya Dena.

“Paman sudah tua. Tak sanggup lagi meniup balon banyak-banyak. Kampung ini membutuhkan banyak balon untuk digantung di pohon, di pagar, di kebun, di surau, di pasar, di kolam ikan…”

“Memangnya meniup balon pakai pompa, lama dan melelahkan, ya?” tanya Dena heran.

“Pompa?” gantian paman yang heran.

“Alat untuk meniup balon,” jawab Dena.

“Paman tidak pernah tahu alat itu.”

“Lho?” Dena terkejut, “Jadi, selama ini paman dan semua warga kampung meniup balon dengan mulut?”

Paman mengangguk, “Bukankah meniup balon memang dengan mulut?”

“Bisa dengan pompa, Paman,” ujar Dena penuh semangat. “Bahkan pompa membuat pekerjaan meniup balon menjadi mudah, ringan dan singkat.”

Paman tertarik mendengarnya.

“Bunda, kita punya pompa balon kan di rumah?” Bunda mengiyakan.

“Nah, besok Dena kembali ke sini dan membawa pompa balon untuk Paman lihat, ok?”

Dena memenuhi janjinya. Ia datang membawa tiga pompa keesokan harinya. Pompa pertama berukuran tabung kecil dan balon dipompa dengan tangan. Sedangkan pompa kedua berbentuk tabung panjang sekitar satu meter, balon pun dipompa dengan tangan. Pompa ketiga berbentuk oval yang diikat dengan tali, jika tali dilepas pompa akan mengembang. Balon dipompa dengan menginjak kaki ke alat pompa.

Dena memperagakan cara meniup balon dengan pompa-pompa tersebut. Dalam waktu beberapa menit sudah belasan balon berhasil dipompa. Paman terkagum-kagum melihatnya.

“Sebenarnya ada berbagai macam pompa balon. Tapi, yang kumiliki hanya tiga bentuk ini, Paman.”

Paman manggut-manggut mengerti.

“Pompa ini untuk Paman dan kampung Balon saja ya, Bunda?” Bunda menyetujui permintaan Dena. Paman menerima pompa dengan sukacita.

Sejak saat itu, kampung balon meriah lagi dengan beratus-ratus balon dan tak seorangpun kelelahan karena harus meniup balon dengan mulut.


***

Terinspirasi dari balon-balon yang berserakan di ruang tamu. Balon-balon yang dipompa oleh tangan-tangan mungil dua bocah saya 🙂

***

Dongeng ini diikutsertakan di lomba Menulis Cerita Anak (Dongeng) yang diadakan oleh Sarikata.com dalam rangka ulang tahun yang ke-9 pada tahun 2011.

Foto dari website ini.

[Hikmah] Nenek dan Rumahnya

Tahun 2000 adalah tahun ketika pertama kali kakiku dan suami menginjak tanah Singapura. Saat itu, aku tengah hamil muda. Sebuah koper besar menjadi saksi dua sejoli yang ingin meraih cita di negeri seberang. Internet masa itu belum semudah sekarang. Praktis, informasi tentang Singapura tidak banyak kami dapat. Apalagi aku, email saja belum punya saat itu. Beruntung ada teman sekampus yang orang Malaysia. Padanya kucari info tentang Singapura, sayangnya tak banyak juga warta yang kuperoleh darinya.

Dengan bismillah, kami seberangi lautan. Apa yang akan terjadi di seberang lautan itu? Kami tak tahu. Di mana kami akan tinggal? Pun tak tahu. Secarik kertas bertuliskan nama dan nomor telepon kerabat orang tuaku di Singapura, cukup menenangkan hatiku.

Hari itu, persis hari kedua Idul Fitri ketika pesawat kami mendarat di Changi international airport. Benar saja, kerabat orang tua (selanjutnya kutulis Uwak) menjemput kami. Hanya pertolongan Allah sajalah yang membuat kami tak salah menerka dirinya adalah Uwak sebab meski sudah didownload berkali-kali, benakku tak juga ingat pada sosok perempuan yang menyongsong kedatangan kami itu. Mama sudah mewanti-wanti bahwa Uwak akan membantu kami di masa-masa awal kedatangan kami di Singapura dan karena kami blank tentang negeri ini, kami manut pada arahan Uwak. Aku juga surprise kala Uwak bisa mengenali diriku padahal aku tak ingat pernah bertemu dengannya. Mungkinkah penampilanku yang udik membuatnya yakin ini saudaranya dari Indonesia? Hehe.

Dengan bismillah lagi, aku dan suami patuh saja diangkut ke mobilnya lalu dibawa ke rumah saudara kami yang kemudian kutahu adalah nenekku.

Ha!

Jadi aku punya nenek di Singapura? 

Ketika bertemu dengan nenek, aku haqqul yaqin bahwa dia nenekku (adik kandung kakekku) sebab dia pernah ke Indonesia dan bertemu denganku. Aku juga tak mengerti mengapa tak ingat pada Uwak yang menjemputku tapi ingat pada nenekku. 

Kupikir, aku akan tinggal di rumah nenek. Ternyata, kami hanya sowan sebentar di sana untuk diangkut lagi ke rumah sepupunya Uwak yang seumur-umur baru kulihat orangnya hari itu. Beruntung aku dan suami punya bakat muka badak sebab ternyata di rumah sepupunya inilah kami akan tinggal. Bayangkan, tinggal di rumah seseorang yang katanya saudara padahal belum pernah jumpa. Makan di sana, tidur di sana, mandi di sana, sementara aku hamil muda yang frekuensi muntah bisa 3×1 hari! ‘Muka badak’ yang diperlukan di sini, kan?

Syukurlah kami hanya tinggal lima hari di sana. Selanjutnya, kami ingin mengontrak kamar saja seperti cita-cita kami sejak semula. Lagi-lagi, Uwak yang menolong kami mencarikan kamar sewa. Dia membawa kami ke rumah sepupunya (lagi!) yang ternyata memang menyewakan kamar-kamar di rumahnya. Melihat kamar yang akan kami tempati, hatiku berbunga-bunga. Kasurnya bersih dan empuk. Ada TV. Ada dapur kecil. Ada kamar mandi di dalam. Ada balkon untuk menjemur baju. Wah…senangnya. Tapi, rasa senangku tenggelam seketika demi melihat si pemilik rumah. Waktu kami datang, ia hanya bercelana pendek dan bertelanjang dada. Jalannya terhuyung-huyung dengan mata merah, mabukkah? Aku menciut di samping suamiku. Namun, karena belum punya pilihan lain sementara kebutuhan tempat tinggal sangat mendesak kami pun teken kontrak. 

Besok adalah hari pertama suamiku kerja. Ouh…aku tak mau ditinggal seharian dan sendirian di kamar ini. Meski hanya berdiam di kamar, hatiku selalu was-was mengingat si pemilik rumah yang berjalan terhuyung-huyung dengan mata merah. Maka, diputuskanlah aku ikut suami. Sementara dia kerja, aku akan menunggunya di masjid dekat kantornya.

Pagi-pagi buta, aku dan suami menunggu bus yang akan membawa kami ke MRT station. Kupikir, pasti masih sepi, rupanya di pagi buta itu, bus sudah penuh. Kereta apalagi. Sepanjang 1.5 jam perjalanan, tak sedetik pun aku duduk. Semua kursi penuh. Tak seorang pun memberi kursi padaku. Ya iyalah, perutku belum membuncit saat itu, tak ada orang yang mengira aku hamil (beda dengan sekarang, tak hamil pun dikira hamil. Wkwkwk). Akhirnya, aku hanya bersandar pada tiang besi di dalam kereta sambil menahan pusing dan mual. Khas morning sickness.

Seperti yang telah direncanakan, sepanjang suamiku kerja, aku menunggu di masjid. Tentu saja aku senang. Masjidnya cukup besar, bersiiih, nyamaaan sampai-sampai aku terkantuk-kantuk dan akhirnya menyelonjorkan kaki, tidur. Baru terlelap sebentar, seseorang membangunkanku. Ternyata, ia pengurus masjid. Wajahnya menunjukkan keprihatinan ketika kuceritakan alasanku datang ke masjid. Darinya aku tahu, bahwa tak boleh tidur di masjid. O o, malunya. Dari ruang shalat muslimah di lantai dua, aku diajak menunggu suami di ruang pengurus masjid yang dingin diiringi tatapan heran setiap orang yang masuk ke sana. Alhamdulillah, suamiku pulang cepat hari itu, jadi aku tak perlu lama duduk manis ruangan itu.

Di hari kedua, aku dan suami memutuskan agar aku tak lagi menunggu di masjid.

Di mana, dong?

Di mana?

Di…rumah nenek!

Dengan perasaan campur aduk (malu, sungkan, sedih, senang), kami datangi rumah nenek pagi-pagi sekali. Memohon belas kasih nenek agar aku bisa menumpang di sana sampai suamiku pulang kerja dan menjemputku kembali. Nenek yang bertahun-tahun tak pernah kujumpai itu, yang hanya tinggal berdua dengan kakek, yang rumahnya sangat sederhana (hanya ada satu kamar, satu toilet dan dapur keciiil) membuka pintunya lebar-lebar untukku. Aku yang seharusnya hanya menumpang tinggal jadi ikut menumpang makan, minum, tidur, mandi, nonton TV, dsb. Setiap mau makan, tak enak hati rasanya. Nenek yang bersusah payah belanja dan memasaknya, aku tinggal makan. Mau pakai kamar mandi, mau nonton TV, mau minum, mau segala-galanya pun begitu, tak enak hati. Belum lagi kalau muntah-muntahku datang. Bisa bolak-balik ke kamar mandi yang berarti memakai air lebih banyak. Tapi nenek tak pernah mempersoalkannya. Ia menerimaku dengan baik. Sepuluh hari lamanya aku hidup seperti itu. Sehabis subuh menunggu bus, lalu naik kereta lalu saling berpisah di MRT station lalu aku ke rumah nenek, sementara suami lanjut ke kantor. Setelah magrib suamiku akan datang menjemput. Tak jarang, suami pun ikut makan malam di rumah nenek. Dalam sepuluh hari itu pun, kami berburu kamar sewa yang baru agar bisa hengkang dari kamar sekarang.  Tak jarang, kami tiba di kamar kontrakan tengah malam. Benar-benar melelahkan. Lahir batin.

Beruntung, nenek dan rumahnya ‘menyelamatkanku’ dari si pemilik kamar sewa yang berjalan terhuyung-huyung dengan mata merah dan bertelanjang dada. Nenek dan rumahnya membuatku tak merasa sendirian di tengah negeri metropolitan Singapura. Nenek dan rumahnya membuatku lebih mudah menjalani hari-hari pertamaku di negeri asing dalam keadaan hamil muda dan miskin pengalaman.  Nenek dan rumahnya menyadarkanku untuk menjalin silaturahim dengan sesama dan menghindari permusuhan sebab bisa jadi pertolongan Allah datang lewat tangan mereka, orang-orang yang tak pernah kita jumpai bertahun-tahun lamanya, orang-orang yang mungkin tak pernah singgah sosoknya di benak kita.

Nenek dan jasanya selama sepuluh hari itu tak akan mampu kami balas dengan ribuan dollar sekalipun.

***

Punya kisah berhikmah? Tulis dan ikutkan di undangan menulis [Hikmah] . Ada tiga buku Be Strong, Indo
nesia!
#8 untuk tiga tulisan terbaik dan satu buku Be Strong, Indonesia! #13, yang memuat cerpen Mbak Dedew, untuk satu pengomentar terbaik. Hadiah masih bisa bertambah bila ada lagi yang mau mensponsori lomba ini karena semua royalti buku pun disumbangkan kepada korban bencana. Yuk, mari berbagi untuk negeri!