[Lomba FF Blogfam] SANG PENOLONG

“MONYET!” semprotnya, “Enak kali kau molor!”

BUGH!

Tinjunya mendarat di pipiku.

“Sengaja tak buka pintu, ya?” tudingnya kalap lalu melepas tali pinggang.

“Jangaaan….” Terlambat, tali pinggang melecut-lecut tubuhku.

“Ampun, Baaang…” pintaku.

“TOLOOONG…” aku melolong.

“TOLOOONG…”

Percuma, rumah kami terpencil. Tak kan ada yang mendengarku meski sunyi membelenggu malam dan ini bukan kekerasan pertama yang kualami. Aku lupa, jeritanku bisa membangunkan lima penghuni lain rumah ini.

Redup petromaks menyamarkan penglihatanku. Tapi, aku yakin tak salah lihat. Lima penghuni itu merangsek mendekati lelaki yang masih kesetanan menyiksaku. Mereka menyergapnya. Menggigit telinganya, mencakar pipinya, mencongkel matanya, mencabik-cabik perutnya, mengeluarkan jantung; hati; empedu; usus dan…mengunyahnya. MEREKA MENGUNYAHNYA!

Usai berpesta, mereka menghampiriku. Mengusap-usap pipiku dengan jemari mungil mereka yang berlumuran darah, lalu berkata,

“Jangan menangis Mama, Papa sudah mati…”

==========

124 kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s