[Lomba FF Blogfam] SANG PENOLONG

“MONYET!” semprotnya, “Enak kali kau molor!”

BUGH!

Tinjunya mendarat di pipiku.

“Sengaja tak buka pintu, ya?” tudingnya kalap lalu melepas tali pinggang.

“Jangaaan….” Terlambat, tali pinggang melecut-lecut tubuhku.

“Ampun, Baaang…” pintaku.

“TOLOOONG…” aku melolong.

“TOLOOONG…”

Percuma, rumah kami terpencil. Tak kan ada yang mendengarku meski sunyi membelenggu malam dan ini bukan kekerasan pertama yang kualami. Aku lupa, jeritanku bisa membangunkan lima penghuni lain rumah ini.

Redup petromaks menyamarkan penglihatanku. Tapi, aku yakin tak salah lihat. Lima penghuni itu merangsek mendekati lelaki yang masih kesetanan menyiksaku. Mereka menyergapnya. Menggigit telinganya, mencakar pipinya, mencongkel matanya, mencabik-cabik perutnya, mengeluarkan jantung; hati; empedu; usus dan…mengunyahnya. MEREKA MENGUNYAHNYA!

Usai berpesta, mereka menghampiriku. Mengusap-usap pipiku dengan jemari mungil mereka yang berlumuran darah, lalu berkata,

“Jangan menangis Mama, Papa sudah mati…”

==========

124 kata

Advertisements

[Lomba FF Blogfam] T A M U

“God!” Anton panik, “Dua jam lagi!”

“Pesawat akan menunggumu, Mas…” hibur Mefda sambil mengantar Anton. Suaminya tergesa memasuki taksi.  Derunya membelah fajar gulita, lalu senyap. Batang bambu di halaman rumah bergesekan. Lolong anjing terdengar samar. Bulu kuduk Mefda meremang.

Lebih baik cepat mandi. Ada meeting dengan bos besar hari ini, pikir Mefda.

Handuk melilit rambutnya. Ia melangkah keluar sembari bersiul-siul.

“Mati lampu?” gumamnya heran.

KLIK.

Ia menyalakan lampu. Mefda hampir terlonjak ketika menyadari seseorang duduk di tepi kasur, memunggunginya. Anton?

“Lho, Mas, kok…pulang lagi?” ujarnya bingung. Sosok itu bergeming. Sepi mencekam. Mefda mendekatinya perlahan.

“Mas…,” panggilnya lagi.

“Mas…” sentuhnya ragu-ragu.

Sosok itu menoleh pelan. Mata tanpa kelopak menatap Mefda tajam. Seringai tersungging di wajahnya yang pucat. Darah menetes-netes dari sudut bibirnya. Mefda memekik lalu menggelesot lemas…

==============

126 kata

Naudzubillah min dzalik…tidak mau kedatangan dan menerima tamu seperti itu…:”>

[Lomba Celoteh Anak Blogfam] MY WIFE


MY WIFE

Abi suka sekali menggoda Aufal ( 4 tahun 1 bulan) dan sang bocah sering menanggapi serius godaan abinya. Seperti hari itu, aku dan suami tengah bercengkerama. Tentu saja berduaan. Ternyata, Aufal ‘tak rela’ melihat pemandangan romantis itu. Ia protes, minta abinya untuk menjauh dari saya, umminya. Abi tak mau terima dong, jadi Abi bilang,

“Hey, she is my wife!”

“No!” teriak Aufal, “It’s my wife!”

 

P A Y Y A B

Aufal (4 tahun) dan Annida (9 tahun), shalat Shubuh berjamaah. Usai shalat, sang kakak mengadu.

“Ummi, Nida kan imam, tapi Aufal finish duluan.” protesnya sambil cemberut.

“Oh…, mungkin Aufal ingin jadi imam, Mbak. Aufal kan boy.” Tanggap saya.

“Kalau Aufal imam, siapa makmumnya?” tanya Aufal polos.

“Mbak Nida, dong!” sahut saya.

“Eh…dia tahu makmum, Nida aja ga tau.” sela Nida.

“Wah…iya ya, Aufal tahu kata makmum. Aufal pinter!” puji saya.

Yang dipuji senyam-senyum sumringah dan karena sedang hobi-hobinya menulis juga meminta saya mengeja setiap kata (nanti dia akan menulis kata dari huruf yang saya eja itu), Aufal pun mengeja kata makmum dengan lantang,

“Pi…Ei…Way…Way…Ei…Bi, MAKMUM!”

[Lomba Celoteh Anak Blogfam] Nama Adik Nida

NAMA ADIK NIDA

Singapura, November 2005

Nida, anak sulung saya, berusia 4,5 tahun sudah lama ingin punya adik.

Suatu hari, saya ngobrol dengannya.

“Nida, kakak Wafa mau punya baby.”

Kakak Wafa adalah teman sebayanya. Bunda Kakak Wafa tengah hamil saat itu.

“Nida?”

O…o, dia langsung menodong. Kalau Nida kapan punya adik, begitu maksud pertanyaannya.

“Nida berdoa aja sama Allah supaya dikasih baby ya…” sambung saya.

Sejak percakapan kami hari itu, hampir setiap hari Nida berdoa minta adik bayi.

 

Ternyata, selain berdoa, Nida pun sudah menyiapkan nama untuk adiknya kelak. Saya mengetahuinya ketika kami ngobrol lagi di suatu ketika.

Saya iseng bertanya, “Siapa nama adeknya Nida nanti?”

Tanpa saya duga, Nida menjawab dengan mantap.

FAQILA ZUL dan HAMILNUL!”

Sontak saya terlengak.

“Haaaa?.

“Apa? Hamilnul?”

 Aduuuuh…, Hamilnul? Kok, Hamilnul? Faqila Zul masih lumayan ke
ren.

“Hamilnul?” ulang saya tak percaya sembari menahan geli setengah mati.

“Iya. Hamilnul,” katanya tegas.

“Nanti panggilannya HAMI…HAMI atau NUL…NUL…” lanjutnya yakin.

Bwahahaha…. saya tak tahan untuk tak terbahak-bahak. 

 

Alhamdulillah, lebih kurang satu bulan setelah obrolan kami dengan topik nama adik Nida, saya positif mengandung. Allah mengabulkan doa anak saya. Dan tentu saja, adik Nida tak kami namakan Hamilnul. Nampaknya, Nida pun sudah lupa kalau ia pernah mengajukan nama itu sebagai nama calon adiknya sebab ia tak protes ketika kami memberi nama lain untuk adiknya.

 

 

Singapura, Desember 2010

Saya spontan bertanya pada Nida ketika dia menghampiri saya saat sedang di depan laptop. Nida 9.5 tahun sekarang.

“Mbak, masih ingat enggak, dulu pernah mengusulkan nama Faqila Zul dan Hamilnul untuk nama adik Mbak?”

“Ha? Faqila Zul? Hamilnul?”

“Iya…”

“Kenapa ya?” Nida mengingat-ingat.  Saya menunggu dengan sangat penasaran.

“Oh…karena…it’s sound nice, very good and cool.”

Meledak tawa saya. Eh, Nida tergelak juga namun segera membela diri.

“Dulu kan Nida masih kecil jadi Nida rasa nama itu cool.” Ujarnya sambil terkekeh-kekeh. Saya pun tak henti tertawa.

“Oya, satu lagi, karena Nida pikir, dulu, nama itu sound Islami…”

What?

Ahahahaha…kami ngakak bareng.


Yuk, ikutan lomba celoteh anak Blogfam! 🙂