[Lomba Menulis Teman Maya] L O V U S A

Lovusa

Lov usa ()

Lov u sa (yaaa, eh )

Love u sa (nah…

Love you sa (that’s it! )

Dia yang Pernah Kutolak

Sebuah invitation mampir ke saung mayaku. Hmm…siapakah? Rasanya aku belum mengenal namanya di akun-akun Multiply kontakku. Headshotnya pun tak memberikan petunjuk apapun. Accept-ignore-accept-ignore-accept-ignore. Maafkan, aku terpaksa mengignoremu. Bukan apa-apa, saung mayaku sudah lama tak terurus, sudah jarang kuhias dengan tulisan ataupun foto-fotoku. Selain itu, isinya bersifat pribadi (curhat-curhat ga jelas, corat-coret remeh-temeh dan remah-remah lainnya), sedangkan aku belum mengenalmu. Aku tak ingin seseorang yang baru kukenal bisa leluasa ‘membaca’ diriku. Jadi, sekali lagi, maafkan aku…

Ternyata, ID lovusa memang senang bersilaturahmi. Ketika kutolak di saung maya, kamu menginviteku di rumah maya yang lain. Hmm…lovusa. Baiklah, kuaccept dirimu. Rumah mayaku yang ini sengaja kuperuntukkan bagi tulisan-tulisan yang kuikuti di lomba atau segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia tulis menulis, buku dan penerbitan. Ketika kuintip rumah Lovusa, aku berasumsi, dirimu seseorang yang juga mencintai buku, tulis menulis dan semua yang berkaitan dengan kreativitas. Jadi, tak mungkin kutolak undangan pertemananmu di sini.

Lovusa yang Dewasa

Aku tak meletakkan ekspektasi yang tinggi ketika memulai pertemanan di dunia maya (pun dunia nyata). Aku hanya berusaha berteman baik dengan parameter kebaikan yang kuyakini. Jika temanku berbuat baik padaku, Alhamdulillah. Jika sebaliknya, aku tak mau habis energi memikirkan tingkah ‘maya’ seseorang yang ‘maya’. Kecuali, satu dan lain hal. Kadang terpikir olehku, jika suatu hari kopdar, akankah perkawanan kami di dunia maya semakin erat atau justru sebaliknya? Sebab, banyak terjadi pribadi seseorang di dunia maya berbeda dengan tampilannya di dunia nyata.

Namun rupanya, pertemananku denganmu, Gita,  berlanjut dengan baik dan hangat. Aku selalu menemukan headshotmu di setiap postingan yang kulayangkan ke MP. Entah itu blog, foto, review dll. Kita pun mulai mengirimkan PM demi PM. Hingga suatu hari Gita memberiku sebuah kejutan lewat PM. Gita mengajakku menulis antologi! Hey, mimpikah ini? Bukankah perkenalan kita baru seumur jagung? Mengapa Gita mengajakku menulis? Apakah tulisanku memang laik terbit?

Sebaliknya, aku masih diliputi rasa percaya tak percaya menerima berita gembira ini. Namun, tak mungkin juga kusia-siakan peluang menulis ini. Menulislah aku untuk antologi yang ditawarkan Gita. Sayangnya, aku tak mengerjakan tulisan itu dengan tangkas pun trengginas (aku pernah punya pengalaman yang mengecewakan dengan seorang yang berkecimpung di dunia penerbitan. Hal ini membuatku jadi berhati-hati untuk mengikuti lomba atau undangan menulis).

Akan halnya dengan Gita, meski kepercayaanku padamu belum purna 100 persen tapi hatiku berkata tak perlu ragu menerima tawaranmu. Maka kugarap karyaku. Lamaaa sekali tulisan itu kelar. Sudah tuntas pun ternyata masih banyak yang harus kurevisi. Merevisinya pun lamaaa. Tapi, apa tanggapan Gita melihat ‘kelambanan’ku? Gita malah dengan sabar ‘melayani’ku. Dari email-email yang diposkan untukku, tak pernah sekalipun ia marah atau mencerca kerjaku yang selambat siput. 

Tenggat waktu pengumpulan tiba. Tak lama kemudian, Gita mengumumkan tulisan-tulisan yang lolos untuk terbit di buku itu. Dengan jumawa aku yakin tulisanku akan lolos. Masa iya sih diajak menulis tapi tulisanku ditolak, tidak mungkin, kan? Batinku pongah (astaghfirullah…). Bisa ditebak, ketika tulisanku dinyatakan lolos perasaanku tidak benar-benar buncah. Benarkah tulisan ini akan terbit menjadi buku? Seperti apa buku yang diterbitkan oleh penerbit Indie? Keren ga ya? Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran di benakku. Ah…kenapa aku jadi meragukan kemampuan seorang Lovusa?

Keraguanku sirna ketika buku yang digodok Gita tergenggam dalam tanganku. Aku tercengang dan tak habis rasa kagum. Subhanallah…ini buku yang keren abis! Kavernya apalagi isinya. Happy Ramadhan With Kids is a very recommended book!

Dari sana aku mengenang kembali perjalanan tulisanku sampai tercetak di buku itu. Aku terbayang-bayang kesabaran Gita, komunikasi sehat yang dibangunnya selama proses penulisan tentang pemilihan judul buku, foto kaver hingga cerita dibalik terbitnya buku itu. Aku berasumsi Gita seorang yang dewasa. Kedewasaannya melampaui usia biologisnya. Alhasil, aku disergap malu dan perasaan bersalah demi menyadari betapa aku bukan partner penulis yang baik dalam proses ini. Tulisanku masih banyak kekurangan, baik dari isi maupun penyajian. Tapi, Gita memberiku kesempatan! Akankah datang kesempatan kedua dari Gita untuk memperbaiki kesalahan ini? Aku sangat-sangat ingin menulis untuk Gita dan Pena Lectura. Sungguh!

Pucuk dicinta, ulam tiba. Gita dan Dian Mardi mengumumkan undangan menulis pendidikan seks untuk anak. Tak ingin menyia-nyiakan peluang ini, aku menyatakan partisipasiku. Aku pun tak ingin lelet dan asal-asalan mengerjakan tulisan ini. Aku harus melakukan yang terbaik, tekadku. Dengan bismillah kukirim tulisanku. Entah mengapa, dibandingkan sebelumnya, kali ini aku sangat deg-degan menanti pengumuman tulisan yang layak terbit. Rasanya seperti menunggu bisul pecah. Mungkinkah tulisanku termasuk yang diloloskan Gita? Aku tak mendapat sedikit clue pun dari Gita tentang kabar tulisanku. Ia menjaga rahasia dapurnya dengan sangat baik. Padahal, aku penasaran setengah mati. Aku juga kangen saran kritik dari Gita. Tapi, aku mengerti, kali ini Gita bukan mengajak menulis melainkan mengadakan audisi menulis. Tentu saja Gita harus profesional dalam hal ini. Ketika akhirnya tulisanku termasuk yang lolos, tak terkira bahagianya hatiku. Plong plus lega. Senang karena bisa menjadi bagian dari Pena Lectura lagi…

Tuntas proyek antologi, bukan berarti usai pertemanan kami. Alhamdulillah, saling sowan ke MP masing-masing tetap berlanjut. Aku jadi ingin mengenal Gita dan Pena Lectura lebih jauh. Ngobrol-ngobrol via PM pun mengalir lagi. Aku senang Gita mau melayani kecerewetanku yang bertanya-tanya perihal dirinya dan Pena Lectura. Aku semakin tahu tentang Gita yang ternyata wawasannya luas dan penuh etos dalam bekerja. Meski demikian, Gita tetap rendah hati, tahu membawa diri dan mau dimintatolongi. Beberapa kali aku minta tolon
g Gita membeli buku, tak jarang Gita juga yang menawarkan untuk mencarikan buku (Duh…gimana aku balas kebaikanmu, Gita?)

P3K

Belakangan ini, kualitas dan kuantitas tulisanku mengalami penurunan. Aku mengidentifikasi masalah diriku sendiri. Ternyata, aku tuh seorang yang bermental SKS. Semangat menulis muncul jika ada deadlinenya. Lalu, menyetor tulisan di dekat tenggat waktu. Praktis, tulisanku banyak amburadulnya daripada mantapnya. Aku jadi terpikir mencari ‘polisi’ untuk mengatasi P3K-ku alias PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEMALASAN DAN KEBUNTUAN dalam menulis. 

Lalu, TLING!

Nama Lovusa yang pertama ‘nyangkut’ di benak untuk menjadi ‘pengawas’ku. Alangkah senangnya aku ketika Gita menerima permintaanku ini. Selanjutnya, Gita menyemangatiku lewat PM pun lewat pesan di wall Facebookku. Mengingatkanku untuk tidak malas, untuk tetap semangat dan untuk memulai menulis meski cuma sebaris. Seperti yang Gita ketik di wallku beberapa hari lalu, 

“Tak ada resep yang lebih baik untuk menjadi penulis, kecuali dengan menulis sekarang juga!”

Selamat berjuang, teteh. semoga Allah memudahkan teteh dalam merangkai kata dan menjalin kisah…


Jadi, Klik?

Tentu saja aku sudah tahu teman maya yang klik bagi Gita (aku kan sudah baca tulisannya ). Tidak masalah bagiku jika aku yang keGRan sendiri karena merasa klik dengan Gita sebab klik menurutku di sini ialah aku nyaman berkomunikasi, berdiskusi dan bekerja sama dengan Gita. Aku mendapat sekantong (ehm…kurang), sekarung (ah…masih kurang), segudang (yayaya, segudaaang) manfaat dari Gita. Dan dengan sangat tahu diri aku mohon maaf pada Gita karena memperoleh nihil dariku…

Hanya Allah yang bisa membalas kebaikanmu, Gita…

Meski, aku juga ingin ‘membalas’ kebaikanmu, minimal menraktirmu sepiring batagor (atau pempek? Atau bakso? Atau pizza? Atau apa?) kalo kita kopdar nanti Insyaallah…, ya? .

========

Menyetor tulisan kedua di lomba Menulis Teman Maya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s