[Lomba Menulis Teman Maya] Ibuk Titi Teliti


Mbak,

Penulisan di dengan kata benda, dipisah. Sedangkan di dengan kata kerja disatukan


Inginnya kututup muka ini dengan selembar kertas virtual di depanku. Kenapa? Sebab berani-beraninya kupilih dirimu sebagai teman maya yang klik bagiku padahal nama aslimu pun aku tak ingat lagi, hiks. Sementara, arti akun ID MPmu lupa pula kutanyakan. Tapi, seperti yang sudah kutulis di tiga tulisan sebelumnya dengan tema ini, bagiku teman maya yang klik ialah yang aku merasa nyaman berinteraksi dengannya. Termasuk denganmu.

Eh ya, kapan pertama kali kita berkenalan? (aih…aih, ini pun aku tak ingat!). Yang kuingat, sejak kita berkenalan di dunia maya, sejak saat itu juga dirimu menjadi teman setia. Bisa dibilang, tak ada satupun postinganku yang tak luput dari kunjunganmu. Bukan! Bukan karena tulisan dan fotoku keren, tapi karena dirimu memang sangat baik sebagai seorang teman. Sebab kebaikanmu itulah, suatu hari kusempatkan untuk menemuimu. Kopdarlah kerennya. Jarang-jarang aku kopdar dengan teman maya. Perasaan malu, gugup, grogi kerap menimpaku pada saat kopdar. Namun, karena dirimu tinggal di negara yang sama dengan tempat tinggalku saat itu, engkau pun baru melahirkan, aku merasa punya momen yang pas untuk menemuimu. Tepatnya, akan punya bahan obrolan yang pas jika kopdar nanti.

Dan…wah, beruntung sekali aku bisa kopdar denganmu saat itu ya? Kopdar pertama sekaligus terakhir. Sebab tak lama setelah itu, dirimu pindah dari Singapura. Sejak saat itu, silaturahmi kita selalu lewat dunia maya. Entah lewat Y!M, MP atau FB. Meski hanya bertemu sekali, sosokmu yang cantik dan cerdas, logat Jawa yang medok dan caramu menggendong bayi dengan hati-hati masih melekat di benakku.

Ibuk…

Selanjutnya aku lebih sering memanggilmu begitu. Meniru panggilan anakmu padamu. Tapi, panggilan ini tidak serta merta benar. Mulanya, aku mengetik ibu, namun engkau mengoreksinya. Bukan ibu tapi ibuk. Pakai K. O…ow, lain toh? Hihi. Tapi, unik juga. Terima kasih atas koreksianmu ibuk. Kalau pakai K memang lebih terasa medoknya ya? :D.

Buk, dari koreksianmu itu dan dari PM yang kau kirim untukku yang isinya mengoreksi cara penulisan kata benda dan kata kerja dengan imbuhan di, membuatku yakin bahwa engkau seorang yang teliti. Mengingatkanku pada bibi Titi Teliti si Bobo.  Jangan khawatir, aku tak tersungging eh…tersinggung. Aku malah senang sebab berarti kau tak sekedar membaca tulisanku. Melainkan membacanya dengan sungguh-sungguh. Selain itu, aku jadi merasa punya seseorang yang bisa diandalkan untuk memeriksa tulisan-tulisanku itu. Eh, sebenarnya aku juga malu. Engkau yang lulusan teknik dari ITB ternyata mengerti pelajaran bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Aku yang mengakunya punya beberapa buku antologi harus bercermin padamu dalam hal ini. 

Tahu ga buk, koreksi darimu memecutku untuk mencari dengan serius tata bahasa Indonesia yang benar dan selalu membuka situs KBBI dari pusat diknas setiap aku online!

Apalagi yang bisa kutulis tentangmu di waktu deadline yang mepet ini?.

Ah ya!

Ibuk itu sangat pintar. Dari mana kutahu? Dari reply-reply yang ibuk lontarkan. Pasti isinya lain dari yang lain. Yang mengatakan ini bukan aku saja lho, tapi justru itu aku jadi suka. Selalu menunggu replyan ibuk yang penuh kejutan. 

Apalagi?

Ibuk seorang pembelajar hebat. Tulisan ibuk mulai hadir di lomba-lomba penulisan dan di antologi-antologi. Sesuatu yang harusnya tidak mengherankanku sebab dari tulisan sehari-hari yang biasa ibuk posting di MP, aku tahu, tulisan ibuk extraordinary. Rapi, runut, mengalir dan bernas.

Tetap setia membaca tulisanku dan mengoreksinya ya buk…(maksa nih, buk :D)

===========

Ditulis diujung deadline, hiks. Hampir seharian keluar rumah, pulang-pulang teler, niatnya mengetik malah ketiduran . Semoga tulisan ini masih bisa dianggap sebagai peserta lomba menulis teman maya yang diadakan mbak Dewayani…

Advertisements

[Lomba Menulis Teman Maya] Guru Yang Merunduk

Jul 29, ’09 11:25 PM

Assalamu’alaikum wr wb

Mbak Fe,
Novi bikin acara seru, nulis cerita estafet bareng2. yg mau ikutan lumayan udah ngumpul.
Satu novel 3-4 orang kira2. (novel anak atau remaja).
Yah minimal buat latian nulis dan dipasang di MP hehe…
Syukur2 bisa diterbitkan kayak Mas iwok dkk itu.

 Kalau mb fe mau ikutan, PM ke novi  ya…diskusinya di PM-nya Novi.
Ditunggu sampai hari ini doang hehe…kalo kelamaan takut nggak semangat lagi, kata Novi :))

See you there, mbak :))

 

PM Penuh Kesan

‘Surat pribadi’ di atas ialah salah satu surat mengesankan dari ratusan PM yang mengisi inboxku. Bagaimana tidak mengesankan jika dikirim oleh seseorang yang kukagumi karena keuletannya menulis review buku bacaannya? Bukan sekedar mereview, tapi mereview dengan renyah. Tuntas membaca ulasannya, aku pasti dibuat penasaran ingin membaca buku yang sama.

Pertemanan kami di dunia MP pun belum lama. Sekitar tahun 2008. Aku tak berharap banyak dari hubungan maya ini. Bisa membaca resensi buku yang ditulisnya sudah cukup untukku. Sebab, aku yang masih bau kencur di dunia tulis menulis perlu banyak belajar dari tulisan para penulis yang karyanya bertebaran di seantero media, beliau salah satunya.

Jadi, kalau seorang penulis sekaliber beliau mengajakku menulis cerita estafet (tuh, istilahnya saja baru kutahu sekarang), masa iya kutolak? Beliau belum tentu sempat mengirim PM dua kali untuk mengajakku gabung, kan? Jadi, dengan hati berbunga-bunga, kusambut ajakannya untuk menulis cerfet. Apa pula cerfet itu? Tak tahulah, yang penting ikut dulu.

Ternyataaa…cerfet ituuu, oh…aduh, ehmm…asyik banget! Seru! Apalagi aku dapat rekan penulis yang super semangat. Jadi, cerita yang nampaknya tidak mungkin selesai, malah kelar dan terbit! Seperti yang kualami beberapa waktu lalu. Cerita estafet yang kutulis bersama dua rekanku, berhasil terbit dengan jasa indie publishing. Tak terkira senangnya hatiku. Dan, pada siapa harus kuhaturkan terima kasih atas jasanya mengajakku menulis cerfet? Tentu saja, beliau.

 

Sang Suhu FF

Tidak hanya cerfet, dari beliau pula kukenal lebih jauh Flash Fiction atau yang beken disingkat FF. Waaah…apa pula ini? Dengan membaca-baca FF karyanya, aku jadi manggut-manggut tahu tentang FF. Beliau pun sangat rajin menelurkan FF. Sama seperti resensi buku yang ditulisnya, FF yang lahir dari ketikan jemarinya tak kalah ‘renyah dan kriuk-kriuk’.

Untuk setiap FF yang di
tulisnya, kalimat pembuka FF sudah menyeretku ke rasa penasaran.
Endingnya, membuatku menghela napas karena penuh kejutan. Luar biasa! Kepiawaiannya menulis FF terbukti dengan dirinya menjadi juara satu lomba FF yang diadakan oleh Batam Pos beberapa waktu lalu. Aku menjulukinya sang Suhu FF.

Sejak saat itu, aku jadi semangat meniru dirinya untuk menulis FF juga. Dengan percaya diri aku pun mengirim FF ke Batam Pos (alhamdulillah dimuat, fiuuuh…). Aku juga ikut lomba FF di sana-sini (sayangnya belum nyangkut jadi juara, ihiks). Dan, tak ada orang yang lebih kurepotkan untuk memberi saran-kritik-penilaian terhadap FFku selain beliau. Hampir tiap FF yang kubuat akan kusodorkan pada dirinya. Rasanya senang kalau FFku sudah dibaca dan diselisik olehnya.

Namun, sampai hari ini, ia tak pernah menguliti, membedah apalagi membantai tulisanku. Ia begitu santun dan halus (bayangkan, tak pernah sekalipun ia memanggilku tanpa didahului ‘Mbak’. Padahal di kemudian hari aku tahu, usianya beberapa tahun di atasku). Ia memberi saran dan kritik dengan cara yang lembut, sampai-sampai aku tak merasa bahwa tulisanku tengah dipreteli. Bagiku, tak berlebihan jika ia kusebut guru yang rendah hati. Selayaknya padi yang semakin gemuk, semakin merunduk.

Ia ‘guru’ yang pandai menulis. Piawai menerjemahkan buku English ke bahasa Indonesia (UGLIES dan PRETTIES adalah buku-buku yang diterjemahkannya dan diterbitkan MATAHATI). Eh, mahir menggambar juga! Ada lagi, beliau menjahit masker unik untuk digunakannya ketika bermotor. Dan betapa berharganya masker itu sebab tak lama setelah ia menampilkan fotonya di MP, Merapi batuk-batuk! 

Keahlian dan keterampilannya membuatku kagum. Tapi, ada satu lagi yang membuatku kagum plus haru. Apa itu? Ia selalu menyempatkan diri menyapaku lewat PM. Menanyakan kabarku, mengucapkan selamat, berbagi cerita dll. Hal ini membuatku merasa berharga, padahal aku bukan siapa-siapa. Memberi tak pernah, lebih sering bikin susah karena menuntutnya membaca tulisanku dan lain-lainnya.

 

Di Mana Kliknya?

Kami jelas-jelas berbeda. Beliau penyuka fiksi misteri bahkan horor. Aku penggemar fiksi sejarah dan romantis. Beliau mengaku jarang bisa menamatkan novel sejarah. Sedang aku, tersendat-sendat membaca novel misteri. Apalagi Horror. No way!

Jadi, di mana kliknya? Terkadang, klik tidak bisa diwakili kata-kata (sok berfalsafah). Merasa nyaman berinteraksi dengan seseorang, sudah cukup untuk kuanggap klik.  Apalagi dengan beliau, aku tak hanya nyaman tapi memperoleh banyak, tak berbilang. Apakah beliau merasa nyaman denganku? Oh…aku tak tahu, semoga saja. Meski aku sangat sadar, tak ada apapun yang bisa dipetik dariku.

Eh ya, pernah dengar nama Johana Spyri? Nah, beliau lebih kurang seperti itu. Maksudku, Johana tak pernah mau menampilkan dirinya. Ia ingin orang membaca dirinya lewat karyanya. Begitu pula dengan teman mayaku ini. Percuma saja mengacak-acak Multiply dan Facebooknya, tak mungkin menemukan sehelaipun fotonya. Isi MP dan FBnya adalah prestasinya. Yang kutahu, ia ibu dari dua anak, tinggal di Yogya, berperawakan manis, mungil dan awet muda (kata teman-teman yang sudah kopdar dengannya). Aku pun menduga ia lebih muda dariku jika membaca reviewnya yang sering mengulas buku anak. Jadi, dengan sangat percaya diri kupanggil Yunita tanpa tedeng aling-aling, tanpa tambahan Mbak, Kakak, Jeng etc, ketika kami baru-baru kenal…



Feb 10, ’08 5:54 PM


Assalamu’alaikum mbak febi…-)
ketemu lagi…hehe…
bentar lagi saya kirim invitation yaa…

wass
-yunita

 

dan dengan pedenya kubalas:

Waalaikumsalam Nita (huwaaa….maaaf Mbak Nita…:”>)

makasih yaa invitationnya. seneng bisa kenalan dengan penulis rajin seperti yunita 🙂

(Duh, malunyaaa…).


=================

Tulisan ketiga untuk lomba Menulis Teman Maya 🙂

[Lomba Menulis Teman Maya] L O V U S A

Lovusa

Lov usa ()

Lov u sa (yaaa, eh )

Love u sa (nah…

Love you sa (that’s it! )

Dia yang Pernah Kutolak

Sebuah invitation mampir ke saung mayaku. Hmm…siapakah? Rasanya aku belum mengenal namanya di akun-akun Multiply kontakku. Headshotnya pun tak memberikan petunjuk apapun. Accept-ignore-accept-ignore-accept-ignore. Maafkan, aku terpaksa mengignoremu. Bukan apa-apa, saung mayaku sudah lama tak terurus, sudah jarang kuhias dengan tulisan ataupun foto-fotoku. Selain itu, isinya bersifat pribadi (curhat-curhat ga jelas, corat-coret remeh-temeh dan remah-remah lainnya), sedangkan aku belum mengenalmu. Aku tak ingin seseorang yang baru kukenal bisa leluasa ‘membaca’ diriku. Jadi, sekali lagi, maafkan aku…

Ternyata, ID lovusa memang senang bersilaturahmi. Ketika kutolak di saung maya, kamu menginviteku di rumah maya yang lain. Hmm…lovusa. Baiklah, kuaccept dirimu. Rumah mayaku yang ini sengaja kuperuntukkan bagi tulisan-tulisan yang kuikuti di lomba atau segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia tulis menulis, buku dan penerbitan. Ketika kuintip rumah Lovusa, aku berasumsi, dirimu seseorang yang juga mencintai buku, tulis menulis dan semua yang berkaitan dengan kreativitas. Jadi, tak mungkin kutolak undangan pertemananmu di sini.

Lovusa yang Dewasa

Aku tak meletakkan ekspektasi yang tinggi ketika memulai pertemanan di dunia maya (pun dunia nyata). Aku hanya berusaha berteman baik dengan parameter kebaikan yang kuyakini. Jika temanku berbuat baik padaku, Alhamdulillah. Jika sebaliknya, aku tak mau habis energi memikirkan tingkah ‘maya’ seseorang yang ‘maya’. Kecuali, satu dan lain hal. Kadang terpikir olehku, jika suatu hari kopdar, akankah perkawanan kami di dunia maya semakin erat atau justru sebaliknya? Sebab, banyak terjadi pribadi seseorang di dunia maya berbeda dengan tampilannya di dunia nyata.

Namun rupanya, pertemananku denganmu, Gita,  berlanjut dengan baik dan hangat. Aku selalu menemukan headshotmu di setiap postingan yang kulayangkan ke MP. Entah itu blog, foto, review dll. Kita pun mulai mengirimkan PM demi PM. Hingga suatu hari Gita memberiku sebuah kejutan lewat PM. Gita mengajakku menulis antologi! Hey, mimpikah ini? Bukankah perkenalan kita baru seumur jagung? Mengapa Gita mengajakku menulis? Apakah tulisanku memang laik terbit?

Sebaliknya, aku masih diliputi rasa percaya tak percaya menerima berita gembira ini. Namun, tak mungkin juga kusia-siakan peluang menulis ini. Menulislah aku untuk antologi yang ditawarkan Gita. Sayangnya, aku tak mengerjakan tulisan itu dengan tangkas pun trengginas (aku pernah punya pengalaman yang mengecewakan dengan seorang yang berkecimpung di dunia penerbitan. Hal ini membuatku jadi berhati-hati untuk mengikuti lomba atau undangan menulis).

Akan halnya dengan Gita, meski kepercayaanku padamu belum purna 100 persen tapi hatiku berkata tak perlu ragu menerima tawaranmu. Maka kugarap karyaku. Lamaaa sekali tulisan itu kelar. Sudah tuntas pun ternyata masih banyak yang harus kurevisi. Merevisinya pun lamaaa. Tapi, apa tanggapan Gita melihat ‘kelambanan’ku? Gita malah dengan sabar ‘melayani’ku. Dari email-email yang diposkan untukku, tak pernah sekalipun ia marah atau mencerca kerjaku yang selambat siput. 

Tenggat waktu pengumpulan tiba. Tak lama kemudian, Gita mengumumkan tulisan-tulisan yang lolos untuk terbit di buku itu. Dengan jumawa aku yakin tulisanku akan lolos. Masa iya sih diajak menulis tapi tulisanku ditolak, tidak mungkin, kan? Batinku pongah (astaghfirullah…). Bisa ditebak, ketika tulisanku dinyatakan lolos perasaanku tidak benar-benar buncah. Benarkah tulisan ini akan terbit menjadi buku? Seperti apa buku yang diterbitkan oleh penerbit Indie? Keren ga ya? Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran di benakku. Ah…kenapa aku jadi meragukan kemampuan seorang Lovusa?

Keraguanku sirna ketika buku yang digodok Gita tergenggam dalam tanganku. Aku tercengang dan tak habis rasa kagum. Subhanallah…ini buku yang keren abis! Kavernya apalagi isinya. Happy Ramadhan With Kids is a very recommended book!

Dari sana aku mengenang kembali perjalanan tulisanku sampai tercetak di buku itu. Aku terbayang-bayang kesabaran Gita, komunikasi sehat yang dibangunnya selama proses penulisan tentang pemilihan judul buku, foto kaver hingga cerita dibalik terbitnya buku itu. Aku berasumsi Gita seorang yang dewasa. Kedewasaannya melampaui usia biologisnya. Alhasil, aku disergap malu dan perasaan bersalah demi menyadari betapa aku bukan partner penulis yang baik dalam proses ini. Tulisanku masih banyak kekurangan, baik dari isi maupun penyajian. Tapi, Gita memberiku kesempatan! Akankah datang kesempatan kedua dari Gita untuk memperbaiki kesalahan ini? Aku sangat-sangat ingin menulis untuk Gita dan Pena Lectura. Sungguh!

Pucuk dicinta, ulam tiba. Gita dan Dian Mardi mengumumkan undangan menulis pendidikan seks untuk anak. Tak ingin menyia-nyiakan peluang ini, aku menyatakan partisipasiku. Aku pun tak ingin lelet dan asal-asalan mengerjakan tulisan ini. Aku harus melakukan yang terbaik, tekadku. Dengan bismillah kukirim tulisanku. Entah mengapa, dibandingkan sebelumnya, kali ini aku sangat deg-degan menanti pengumuman tulisan yang layak terbit. Rasanya seperti menunggu bisul pecah. Mungkinkah tulisanku termasuk yang diloloskan Gita? Aku tak mendapat sedikit clue pun dari Gita tentang kabar tulisanku. Ia menjaga rahasia dapurnya dengan sangat baik. Padahal, aku penasaran setengah mati. Aku juga kangen saran kritik dari Gita. Tapi, aku mengerti, kali ini Gita bukan mengajak menulis melainkan mengadakan audisi menulis. Tentu saja Gita harus profesional dalam hal ini. Ketika akhirnya tulisanku termasuk yang lolos, tak terkira bahagianya hatiku. Plong plus lega. Senang karena bisa menjadi bagian dari Pena Lectura lagi…

Tuntas proyek antologi, bukan berarti usai pertemanan kami. Alhamdulillah, saling sowan ke MP masing-masing tetap berlanjut. Aku jadi ingin mengenal Gita dan Pena Lectura lebih jauh. Ngobrol-ngobrol via PM pun mengalir lagi. Aku senang Gita mau melayani kecerewetanku yang bertanya-tanya perihal dirinya dan Pena Lectura. Aku semakin tahu tentang Gita yang ternyata wawasannya luas dan penuh etos dalam bekerja. Meski demikian, Gita tetap rendah hati, tahu membawa diri dan mau dimintatolongi. Beberapa kali aku minta tolon
g Gita membeli buku, tak jarang Gita juga yang menawarkan untuk mencarikan buku (Duh…gimana aku balas kebaikanmu, Gita?)

P3K

Belakangan ini, kualitas dan kuantitas tulisanku mengalami penurunan. Aku mengidentifikasi masalah diriku sendiri. Ternyata, aku tuh seorang yang bermental SKS. Semangat menulis muncul jika ada deadlinenya. Lalu, menyetor tulisan di dekat tenggat waktu. Praktis, tulisanku banyak amburadulnya daripada mantapnya. Aku jadi terpikir mencari ‘polisi’ untuk mengatasi P3K-ku alias PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEMALASAN DAN KEBUNTUAN dalam menulis. 

Lalu, TLING!

Nama Lovusa yang pertama ‘nyangkut’ di benak untuk menjadi ‘pengawas’ku. Alangkah senangnya aku ketika Gita menerima permintaanku ini. Selanjutnya, Gita menyemangatiku lewat PM pun lewat pesan di wall Facebookku. Mengingatkanku untuk tidak malas, untuk tetap semangat dan untuk memulai menulis meski cuma sebaris. Seperti yang Gita ketik di wallku beberapa hari lalu, 

“Tak ada resep yang lebih baik untuk menjadi penulis, kecuali dengan menulis sekarang juga!”

Selamat berjuang, teteh. semoga Allah memudahkan teteh dalam merangkai kata dan menjalin kisah…


Jadi, Klik?

Tentu saja aku sudah tahu teman maya yang klik bagi Gita (aku kan sudah baca tulisannya ). Tidak masalah bagiku jika aku yang keGRan sendiri karena merasa klik dengan Gita sebab klik menurutku di sini ialah aku nyaman berkomunikasi, berdiskusi dan bekerja sama dengan Gita. Aku mendapat sekantong (ehm…kurang), sekarung (ah…masih kurang), segudang (yayaya, segudaaang) manfaat dari Gita. Dan dengan sangat tahu diri aku mohon maaf pada Gita karena memperoleh nihil dariku…

Hanya Allah yang bisa membalas kebaikanmu, Gita…

Meski, aku juga ingin ‘membalas’ kebaikanmu, minimal menraktirmu sepiring batagor (atau pempek? Atau bakso? Atau pizza? Atau apa?) kalo kita kopdar nanti Insyaallah…, ya? .

========

Menyetor tulisan kedua di lomba Menulis Teman Maya.

[Lomba Menulis Teman Maya] DUO GADIS BANJAR


Assalamualaikum…

 Napa habar? lawaslah kada badadapatan?

 

Perkenalan

Maafkan saya karena tidak mengingat dengan detil awal perjumpaan kita. Yang masih melekat di memori adalah kalian lebih dulu mengundang saya untuk berteman di Multiply. Apa yang ada di benak saya saat itu pun, saya tak pasti sebab begitu mudah mengaccept invitation yang datang darimu berdua. Biasanya, saya tak langsung menerima, apalagi kalau belum ‘kenal’ dengan si pengundang. Saya jujur saja, terkadang feeling menjadi parameter dalam menerima atau menolak undangan seseorang di Multiply. 


Oy…Oy, Siapa Dia?

Pertemuan kita berlanjut dengan anjangsana ke rumah masing-masing. Saling membaca dan mereply coretan-coretan kita. Saya senang sekali karena kalian berdua nampaknya tidak pernah melewatkan suguhan saya di rumah maya ini. Komentar-komentar ringan yang kalian tulis di kolom reply menyunggingkan lengkung sabit di bibir saya.

Dari hidangan-hidangan yang tersaji di rumahmu berdua, saya jadi tahu asal kalian yang dari pulau Borneo. Wah…asyik nih, punya teman baru dari pulau terbesar di Indonesia, saya membatin. Sejak saat itu, saya lebih memerhatikan replyan di kolom tulisan kalian dengan lebih teliti. Saya penyuka bahasa daerah, dari replyan itu saya mendapati beberapa kosa kata bahasa Banjar. Saya jadi kenal ‘pian’ dan ‘ulun’. Selama ini saya hanya tahu ‘ikam handak kamana’ saja . Sejak saat itu pula, dengan PDnya saya menggunakan dua kata tadi dalam silaturahmi kita tanpa bertanya dulu artinya pada kalian. Dengan yakin saya menyebut pian untuk diri sendiri dan ulun untuk kamu. Padahal terbalik! O…o.

Pertemanan kita di Multiply bersambung ke jejaring sosial tetangga. Apalagi kalau bukan Facebook? Senang juga bisa menyambung tali online di sana. Pian berdua selalu mendukung tulisan yang ulun sertakan di lomba. Rajin mengetag ulun dan sering memberi info lomba pada ulun. Tapi, tak ada yang lebih berkesan daripada ini…


Sapa-Sapa Sederhana Antung

Hampir tiap hari pian menyapa ulun di chatbox Facebook. Sapaan-sapaan sederhana, seperti ini:

Mbak,

Apa kabar?

Sedang apa?

Nulis apa sekarang?

Ikut lomba apa?

Mbaaak, tulisan Mbak menang di sana lho! 

Hampir tiap hari!

Mulanya ulun biasa-biasa saja mendapat sapaan itu. Lama-lama ulun berpikir, alangkah baiknya pian. Sapa-sapa sederhana tadi berarti pian perhatian dan sayang pada orang yang pian sapa. Menandakan pian tak pelit waktu dan empati (menyediakan beberapa detik untuk sekedar menyapa, bukan perkara ringan menurut ulun). Rasanya ada yang kurang jika sehari tak membaca kalimat-kalimat singkat dari pian yang menghiasi layar Facebook ulun.


Perhatian-Perhatian Kecil

Ada sejuk yang merambati hati ketika membaca status di wall pian beberapa waktu lalu,

Semangat membacaku meletup-letup setiap membaca postingan mbak Sinta Nisfuanna, Ibu Dewayanie Prasetio dan mbak Yudith Fabiola di akhir bulan, memaparkan buku2 yang mereka baca di bulan tersebut. 🙂

Duh pian…, isi status itu justru menyentil ulun, apakah ulun telah demikian baik untuk bisa menginspirasi pian? Sedangkan selama ini, selalu ulun yang mendapat inspirasi dari banyak orang, termasuk pian. Ulun jadi teringat, betapa pian juga senantiasa memerhatikan ulun, pembaca setia corat-coret ulun, selalu menyempatkan singgah setelah ulun tag.

Oh ya, makasih sudah mengingatkan ulun tidak memanggil Hairi padamu karena pian lebih suka dipanggil dengan nama belakang, ya kan?


Klik?

Ulun tak tahu apakah pian berdua merasa klik dengan ulun. Jangan-jangan ulun saja yang gede rasa ya? Haha. Untuk ulun, merasa klik tidak harus jalan berdua terus, seia-sekata melulu hingga sungkan memberi saran atau kritik. Bagi ulun, sapaan pian berdua selama pertemanan kita di dunia maya
cukup untuk membuat hati ulun klik dengan pian. Sebaliknya, mohon maaf jika ulun belum bisa membalas semua kebaikan pian berdua dengan uluran sapa dan perhatian yang sama…

Semoga pertemanan kita awet langgeng ya, Antung Apriana dan Hairi Yanti .

=========

Keterangan:

ulun: saya, sopan

pian: kamu, sopan

Ikam handak kamana: kamu mau kemana?

Napa habar? lawaslah kada badadapatan?: apa kabar? lama tidak kelihatan



Mbak Dewayanie, aku ikut lombamu niiih :D.

[Kuis GRIYABUKUQ] Tergila-gila Fiksi Sejarah

Waktu SMA, saya pusing jika bertemu pelajaran sejarah. Memahami dan mengaitkan setiap peristiwa di dalamnya bagai mengurai benang kusut.

Hingga suatu ketika, saya membaca novel Afifah Afra yang berjudul Bulan Mati di Javasce Oranje. Novel fiksi dengan setting sejarah. Saya heran mendapati diri begitu menikmati dan mengerti (!) jalan cerita dalam novel itu. Saya bahkan ketagihan untuk membaca novel dengan latar belakang sejarah. Lewat novel, rangkaian sejarah nampak indah, dipahami dengan mudah dan berhikmah.

Sejak saat itu saya selalu tergila-gila membaca fiksi sejarah. Mengenal sejarah bangsa sendiri, sejarah peradaban dunia bahkan sejarah agama yang saya yakini, membuat saya menjadi ‘kaya’.

Selain itu, pelan-pelan, saya mencoba mengikuti jejak Afifah Afra, Tasaro, Yudi Herwibowo, Sakti Wibowo, Saini K.M dan Sinta Yudisia menulis fiksi genre ini. Untuk itu, saya perlu banyak amunisi bacaan fiksi sejarah. 

Jadi, alangkah senangnya jika GriyabukuQ berkenan menghadiahi  Queen Of The East karya Yanti Soepamo pada saya.

(148 kata)

“Postingan ini diikutsertakan dalam Kuis GriyabukuQ Berbagi Buku: Pilih Sendiri Buku Hadiahmu! Di alamat http://griyabukuq.multiply.com/journal/item/87/

Judul buku dan linknya di Griyabukuq: QUEEN OF THE EAST