Para Hantu Lomba: Yok, Ikut EstaFFet CUP!

Apa itu estaFFet CUP?

Mau baca dari linknya langsung boleh. Join saja groupnya.

Mau baca infonya di sini juga boleh. Buruan, pendaftaran terakhir hari ini jam 12 siang WIB.

Untuk merayakan pesta Blogger, kami segenap kru estaFFet akan mengadakan estaFFet CUP.
Apa itu estaFFet? Dan apa pula itu estaFFet CUP?

estaFFet adalah Flash Fiksi Estafet atau Flash Fiksi Berantai. Dimana semua orang bisa menyambung Flash Fiksi orang lain dengan Flash Fiksinya melalui komen. Contohnya seperti ini:

Contoh EstaFFet:

http://t4mp4h.multiply.com/journal/item/385/

Sedangkan estaFFet CUP adalah perlombaan estaFFet.

Mau ikutan? Dibaca dulu aturan mainnya…

1. Siapa saja boleh ikut, yang penting punya id mp.

2. Yang berminat untuk ikut, silahkan reply komen di jurnal ini, nanti akan diberikan nomer urut oleh panitia.

3. Pendaftaran lomba hanya akan dibuka selama 4 hari, dimulai dari sekarang sampai hari kamis jam 12 siang.

4. Satu peserta akan mendapatkan beberapa nomer urut untuk menyambung FF

5. Panitia akan memposting FF, dan peserta dengan nomer urut 1 boleh langsung menyambung FF tersebut

6. Jika ada peserta dengan nomer urut yang tidak online, jika dalam waktu 30 menit tidak menyambung FF, maka peserta dengan nomer urut selanjutnya boleh menyambung. Dan peserta yang diselak, silahkan menunggu 5 peserta dulu baru boleh menyambung FF. Jika masih belum online juga, maka 5 peserta selanjutnya silahkan menyambung kembali. Dan jika setelah 0 nomer urut si peserta belum online, maka dinyatakan nomer urutnya di diskualifikasi alias tidak boleh menyambung FF.

7. Cara menyambung FF adalah dengan meng”quote” FF sebelumnya, minimal satu paragraf dan maksimal 3 paragraf. Cerita diharuskan mempunyai kesinambungan dengan FF sebelumnya dan boleh menambahkan tokoh lain lagi selain tokoh yang telah disebut pada FF sebelumnya.

8. Nama-nama tokoh adalah nama kontak yang kamu kenal di MP. (Resiko ditanggung peserta)

9. Tidak boleh mengandung unsur sara dan rasis.

Lomba akan dilaksanakan pada momentum perayaan Pesta Blogger 2010 tanggal 30 Oktober 2010 dari jam 9 pagi sampai jam 7 malam.

Seru, kan? Selain bisa bales balesan FF dan nyatut nama temen temen kamu di Multiply tercinta ini, kamu juga bisa dapetin hadiahnya. Dengan catatan… Mematuhi semua aturan yang berlaku dalam estaFFet CUP dan bikin cerita semenarik mungkin. Boleh sambung cerita sedih jadi cerita lucu, cerita horror jadi artikel, si Luqman jadi si Lulu, si Tampah jadi Garong… pokoknya ekspressikan semuanya melalui Flash Fiksimu.

Meskipun ga bisa ikutan Pesta Blogger di Jakarta, kita tetap bisa ngerayainnya dengan seru di estaFFet CUP ini.

Apa aja sih hadiahnya? Pokoknya ada 😛

[Lomba Menulis Jilbab Pertama] Tiara Sang Putri

Dugaan Mereka

(Lokasi: Pinrang, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1992)

Beberapa saat sebelum aku berangkat meninggalkan kota kecil yang penuh kenangan.

Ko lihat mi saja, ada mi dia nanti di majalah…” suara temanku terdengar sangat yakin. Aku yang ikut menguping hanya menimpali dengan tawa. Aneh-aneh saja temanku, masa mereka menduga aku akan muncul di kaver majalah? Yang benar saja! Tapi, psssttt…, jangan bilang siapa-siapa, sebenarnya aku memang ingin sekali menjadi foto model dan penari latar.


Pertemuan Tak Sengaja

(Lokasi: sebuah mal, Bandung, 1992)

Aku terpaku menatap sosok seorang wanita. Semua bagian tubuhnya tertutup, hanya wajah dan telapak tangannya yang bisa kulihat. Aku tersentak dari keterpakuan ketika seorang pramuniaga mengangsurkan sehelai brosur ke arahku. Mataku membaca brosur itu. Pemilihan Putri LA. Sesaat, pikiranku melayang ke Pinrang. Ke atas panggung tempatku biasa melenggang memeragakan busana.  “Ikutan ya, Mbak…” suara si pramuniaga memecah lamunanku. Mataku menyapu sekeliling. Sosok wanita berpakaian muslimah tadi hilang.

@@@

Aku memang membawa segunung cita-cita ke Bandung. Jadi model dan penari latar, salah duanya. Keren rasanya jika diriku bisa nampang di majalah-majalah beken kawula muda. Aku pun sering terpesona melihat kelincahan para penari meliuk-liukkan tubuhnya dengan lentur di atas panggung. Namun…, cita-cita mulukku terhembus bersama udara sejuk kota kembang. Hilang, dengan kesadaran diri. Tidak ada yang memaksa.

Semuanya bermula dari pertemuan tak sengaja dengan sosok muslimah berjilbab di mal dan dengan keseharian yang kujumpai dari kakak-kakak kelasku di SMA. Sebagian besar kakak kelasku selalu tersenyum ramah, menegur hangat, menatapku dengan pandangan menentramkan, menjaga tawa dan suaranya, menjaga pandangannya, menjaga dirinya dari berdekatan dengan lawan jenis dan mereka mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah juga tangan hingga pergelangannya.

Ini luar biasa. Hal baru bagiku. Membekas terus dalam benakku. Membetot hatiku dengan sebuah kerinduan. Entah kerinduan pada apa atau pada siapa. Aku hanya merasa hatiku perlu tempat berlabuh. Tempat ia menepi sekaligus berjalan kembali. Tempat jangkarnya tertambat kuat dan tak oleng diterpa gelombang.


Keputusan Penting, Dengar Hai Dengar…

(Lokasi: Bandung, 1 November 1992)

(Mari bernyanyi :D) Dengaaar hai dengar kawaaanku semuaaa…, 

Setelah berkutat dengan diri sendiri, menghadapi tatapan tak suka di mata papa, merasakan keengganan dalam sikap mama, awal November ini kuciptakan sejarah dalam hidup. Mantap pada keputusanku. Tak ada lagi acara pemilihan putri-putrian yang akan kuikuti. Tak berselera berlenggak-lenggok di atas panggung lagi. Semua sudah berakhir. Bukan! Bukan karena tugas sekolah yang bejibun di SMAku yang menyebabkan sebagian besar waktuku tersita ke sana. Tapi, karena sehelai kain. Ya, sehelai kain yang menutupi mahkotaku, sejumput pakaian yang melindungi seluruh tubuhku. Padanya, aku merasakan ketenangan. Merdeka dari mereka yang menghargai sisi fisikku semata. Terbebas dari tatapan jalang, towelan iseng, suitan lancang manusia-manusia yang kurang kesibukan. Tak ada lagi wajah yang dipoles eye shadow, mascara dan lipstick. Tak ada lagi kilatan blitz dan ketak-ketuk sepatu di atas catwalk. Semua hanya sampai disini. Aku menemukan telaga yang akan selalu merembesi hatiku dengan kedamaian. Tak ingin kutukar kenikmatan itu dengan apapun. Ketenaran, piala, pujian, buket bunga, nama yang terpampang di surat kabar, vouchervoucher belanja, semua tak cukup untuk membuatku melepas kain yang tersampir di rambutku. Sebab keyakinan tertancap kuat di hatiku bahwa selembar kain di kepalaku bukanlah sembarang kain melainkan sebuah jembatan… menuju titik.

 

Mereka Histeris…

(Lokasi: SMA 3, Bandung, 2 November 1992)

Lalu aku pun berubah dan tinggalkan masa laluku yang gulita

Berpakaian islami, walau dilarang mami, namun Allah tetap di hati

Sungguh aku ingin masuk surga tak ingin neraka yang menyala

Reff: Semua kawanku bilang

aku tak lagi menawan

rambut tak kelihatan

muka tanpa polesan

bodi ku pun tidak dipamerkan

Pas nian nasyid Bestari dengan kondisiku sekarang. Meski tak lagi menawan, bukan pula putri impian atau rujukan teman dalam bermode, yang penting hatiku tenang, hidupku tak gamang.

Ah…jadi ingat. Jilbab perdana yang benar-benar kupakai keluar rumah warnanya hitam, bentuknya segitiga. Tanpa payet atau aksesoris lain. Kupakai ke acara rohis sekolah. Aku bisa merasakan tatapan jengah orangtuaku demi melihat anaknya yang biasa modis mendadak ‘kampungan’. Padahal aku tidak bermaksud berpenampilan lusuh tapi memang itu jilbab yang cocok dengan baju yang kukenakan saat itu. Teman-temanku dan kakak kelasku tak kaget melihatku berjilbab hari itu sebab di acara rohis memang banyak yang hadir dengan mengenakan jilbab meski sehari-hari tidak pakai jilbab. 

Nah…, ketika keesokan harinya aku ke sekolah dengan jilbab lebar dan seragam tertutup, para kakak kelas memandang tak percaya, menjerit histeris (tapi tidak sampai membahana ke luar mushalla), memelukku erat dan lama, sebagian bahkan menangis. Bikin aku jadi menangis juga. Selain menangis, aku pun meringis sebab pelukan mereka membuat jilbabku tertarik-tarik ke belakang yang berarti jilbabku jadi berantakan yang berarti pula aku harus merapikannya sebelum kembali ke kelas. Pekerjaan merapikan jilbab itu yang heboh karena aku belum mahir mengunci jilbab dengan peniti. Belum lagi, jilbab sekolah yang dibelikan untukku terbuat dari bahan yang licin. Tak ada angin atau hujan, jilbabku tetap sering melorot-lorot hepi, apalagi ini, dipeluk sana-sini…fyuuuh. Tapi, tentu saja, sambutan hangat dan penuh kasih dari kakak kelasku membayar semua kesulitan dalam mengenakan jilbab.

Pun pengertian mama atas keinginanku untuk menurunkan mahkota, menjadi amunisi yang semakin menguatkanku dalam melaksanakan amalan ini.

“Mama sayang, terima kasih telah menerima pilihanku dengan lapang dada. Meski tak ada lagi tiara, namun ketika jilbab tergerai di rambutku, saat itulah, aku merasa benar-benar seorang putri…”



Kutitip pesan padamu,  para pembaca tulisanku, mohon doakan agar aku istiqomah…

Menyambut akhir pekan dengan menyetor tulisan ke lomba yang diadakan Uni Dian :)

Keterangan:

ko: dari kata kau.

mi: kata penyerta dalam bahasa Bugis.

Link nasyid Bestari di sini.

[Random Snippets-AIR] GAYA BEBAS

Aku memandang anakku yang tengah berkecipak-kecipuk dalam air. Kepala dan badannya timbul tenggelam memainkan gaya katak. Dalam hati terselip bangga, “Anakku bisa berenang!” Tapi, sisi hatiku yang lain berbisik iri, “Cobaaa aku bisa berenang ya?” Tentu saja,  bukan iri pada anakku, melainkan  iri pada semua orang yang punya keberanian untuk menaklukan air.

Nostalgia SMA

Rasa-rasanya aku tak punya memori indah tentang renang, kolam renang dan segala printilannya. Jika anak-anak lain diajak sowan ke kolam renang (entah untuk diajari renang atau sekedar menonton orang berenang), aku tak pernah. Duduk di SD dan SMP pun tak pernah ada praktek olahraga renang. Berenang ke kali atau sungai dangkal pun tidak ada dalam kamusku (rumahku tidak dekat dengan sungai atau laut).  Maka, aku tak akrab dengan kolam renang dan semua yang berhubungan dengannya. Jangankan menganggap penting, tertarik pun tidak. Bahkan, cenderung takut.

Hingga suatu ketika, mau tak mau-suka tak suka, aku mesti berurusan dengan kolam renang. Yakni masa SMA. Renang menjadi salah satu olahraga yang dipelajari dan diamalkan di sekolah. Bukannya hepi mendengar kabar ini, aku malah mengerut cemas. Sudahlah tak punya pengalaman sedikitpun nyebur ke kolam renang, sudahlah berjilbab, sudahlah kolam renangnya jauh, sudahlah praktek renang cuma beberapa kali dalam satu semester…eh, disuruh ujian renang. Duh, mamaaa…

Hari H untuk ujian tiba. Jantungku sudah bertalu-talu sejak pertama datang ke kolam renang. Ketika giliranku tiba, aku diam di pinggir kolam. Bu guru memintaku nyemplung.

“Saya tidak bisa, bu.”

“Masa tidak bisa?” guruku tak percaya. Mungkin karena melihat tubuhku yang lumayan tinggi dibanding teman-teman?

“Iya bu, saya tidak bisa…” jawabku dengan tampang memelas. Bukan pura-pura, suer! (ga pake disamber gledek apalagi sampe bibir dower).

 “Ya sudah, kerjakan apa yang kamu bisa saja!” Haaa? Yang bener, nih? Batinku girang.  Lha, tapi, gaya apa yang bisa kupamerkan pada bu guru? Gaya katak? Kupu-kupu? Dada? Punggung? Walah…kok ngomongi gaya? Bernapas dalam air pun aku tak tahu. Akhirnya, dengan doa restu bu guru, kupilih ‘gaya bebas’. Jika teman-temanku bisa mengarungi kolam renang dengan mendayungi lengan dan kakinya, kulalui ujian renang dengan menyeret kakiku perlahan-lahan di dalam air. Itu pun rasanya gamang. Takut jatuh, takut kepeleset, takut bla…bla…bla. Ketika aku sampai ke tepi kolam dengan selamat, rasanya legaaa sekali. Waktu melihat senyum ridho di wajah bu guru yang mengijinkan muridnya berenang berjalan menyebrangi kolam renang, rasanya plooong sekali. Waktu tahu aku dinyatakan lulus ujian renang, rasanya bahagiaaa sekali. Lulus, kok bisa…? Ha ha ha (tidak pake kkn, lho…:D).

Sejumput Tekad

Setiap naik pesawat. Jantungku bekerja lebih berat daripada jika aku di darat. Pikiran buruk tentang kecelakaan pesawat selalu menghantuiku. Ketika pesawat melintasi lautan, hatiku makin kebat-kebit. Huhu…bagaimana kalau pesawat menukik ke laut? Nau’dzubillah…

Sejak saat itu, aku bertekad, harus belajar berenang. HARUS!

Berbekal keberanian yang seupil (ups, maaf), aku pun turun ke kolam renang. Hoooi…asyik ternyata! Gak gamang pula! Ya iyalah, wong airnya cuma setinggi lututku. Bagiku, ini permulaan yang baik. Minggu-minggu berikutnya, aku mulai berani mampir ke kolam renang yang airnya sebatas pinggangku. Suami, yang menjadi guru privat anakku, menjadi guru untukku juga. Ia mengajari teknik bernapas di dalam air. Oalaaa…begini tho cara bernapas di dalam air? Ck ck ck…kemana aja aku selama ini, kok baru bisa bernapas dalam air di abad milenium? Aku juga diajari untuk PD mengambang di air dan…aku bisa! Horeee…horeee…horeee aku bisa mengambang di air! Meski hanya beberapa menit sebab sejurus kemudian aku gelagapan, takut tenggelam!

Nah, ini jeleknya aku. TAKUT. Takut tenggelam, takut airnya masuk hidung, takut…, macam-macamlah. Bagaimana akan bisa berenang kalau ketakutan lebih menguasai kemauan? 

Pelan-pelan aku akan berusaha untuk mengenyahkan si takut keparat ini. Supaya tidak sia-sia tiga baju renang yang tergantung pasrah di lemari bajuku, supaya tabungan pahalaku yang cuma secuil bisa bertambah, supaya aku benar-benar bisa berenang dengan gaya bebas. Bukan gaya bebas yang kuanut sekarang.

“Memangnya seperti apa renang gaya bebasmu?”

“Ngngng…ya gaya bebas. Bebas  aja*, mau duduk pinggir kolam, mau nontonin orang yang renang, mau…” belum selesai menjelaskan, dia menoyor jidatku lalu pergi. Siapa dia? Teman imajinerku.

*****

Ditulis dalam rangka mengincar dan (berharap) mendapat DICAPAC .

*: joke jaman jadul.

[Lomba Ulang Tahun] Lovely Roses

Aku punya seorang teman yang juwagooo buwangeeet bikin kue ulang tahun dan menghiasnya. Macam-macam dekorasi kue ulang tahun bisa dia buat. Coba, mau bentuk apa? Bentuk tas LV? Gitar? Taman bermain? Laptop? Baju Manchester United? Padang golf? Boneka bebek? Robot? Hello Kitty? Ada semuanya! Geleng-geleng kepala deh lihatnya. Dekorasinya rapi dan cantik. Warnanya menarik. Bentuknya unik-unik. Rasanya? Ciamik!

Biasanya, kue-kue itu ia buat untuk memenuhi pesanan pelanggannya. Bisa juga sebagai hantaran darinya untuk acara-acara di keluarga besarnya. Biasanya lagi, pelanggan memesan kue untuk acara ulang tahun anaknya. Tapi, banyak juga yang memesan untuk memberikan kejutan pada teman yang akan berulang tahun. Siapa yang tidak gembira dapat kejutan menyenangkan di hari ultahnya? Begitu juga denganku. Entah mengapa, aku ingiiin sekali, seseorang memberiku kejutan dengan kue cantik bikinan temanku itu.

“Tok tok tok…”

“Ya?”

“Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…”

“Surpriseee…!”

Sebuah kue tart dari temanku yang juwagooo buwangeeet bikin kue ulang tahun diangsurkan padaku.

TLING!

Kembali ke dunia nyata. Di atas itu cuma khayalan. Siapa juga yang bakal ngasih kue untukku yang sudah bangkotan ini?

30 Janurai 2009

Beberapa hari lagi ultahku. Sebenarnya, tidak ada yang istimewa di hari ultah ini karena sejak beberapa belas tahun lalu, aku tak lagi merayakan ultah. Tapi, menjelang satu Februari, aku kok jadi sering deg-degan, ya? Bukan deg-degan khawatir, cemas atau takut. Tapiii, deg-degan Gede Rasa. Apakah akan ada kejutan untukku?

31 Januari 2009

Kamu tuh udah tua, udah sih, ga usah pikirin kejutan di hari ultah, batinku. Tapi, benakku kok dipenuhi bayangan kue ultah terus?

Ih…malu-maluin aja, kayak anak kecil, pingin punya kue ultah. Lagian, siapa jugaaa yang bakal ngasih kue ultah ke kamu? Lha wong kamu cuma ibu RT thok, ga kerja kantoran, bukan guru, bukan dokter, bukan siapa-siapa yang bisa bikin hati seseorang tersentuh untuk ngasi kejutan bahagia di hari ultah kamu. Betul kan?

Aku tak mau melayani bisik-bisik dalam hati.  Bikin cape aja, blogwalkinglah aku ke sana sini hingga nyangkut di Multiply temenku yang juwagooo buwangeeet bikin kue ultah. Eh, dia memosting foto kue terbaru. Dia menamakan kue itu Lovely Roses. Cantiiik sekali. Lagi-lagi, hatiku ribut, “Andai kue itu untukku…”

Eh, ini kan akhir Januari? Jangan-jangan, kue itu untukku? Huuu, GR!

Gimana ga GR coba? Salah satu komen Mpers yang juga adalah tetanggaku, ia bilang, 

“Ini buat tetanggaku yg ultah besok yaa?:) *sok tau.com*”

Huwaaa…aku GR ga ketulungan. Tapi, karena pengendalian diri cukup baik (ehm…), aku mereply komen tetangga seperti ini saja,

 “Neng Lidya, husnuzhan pisan hehehe.” Padahal, aslinya aku pingin nyeletuk,

 “Iya iya iya, kasih aja kue cantik ini padakuuu!” Husy, ga sopan!

1 Februari 2009

“Tok tok tok…” suara ketukan pintu. Aku mengernyit heran, malam-malam begini, siapa yang bertamu?

“Assalamualaikum Ummi…” salam si tamu. Eh, seperti kenal dengan suaranya. Begitu pintu terbuka, sosok temanku yang juwagooo buwangeeet bikin kue itu, sedang tersenyum. Tangannya menenteng kotak kue. Ia menyerahkan kotak  itu padaku yang masih terbengong-bengong tak mengerti.

“Da…dari siapa? Untuk saya?” Kenapa juga aku mendadak pilon?

“Ada deh…”

“Lho, kok ga ngasi tau pemberinya? Biar kuucapkan terima kasih padanya.”

Temenku mengukir lengkung rembulan di bibirnya, “Ti abdi kanggo Ummi…”

Haaa? Jadi, kue ini khusus dibuatkannya untukku! Oh Allah…mimpi apa aku semalam, dapat kue runtuh?

Aku cepat-cepat membuka kotak kue setelah teman pulang dan…sebuah kue ulang tahun berbentuk bundar, berwarna putih dengan hiasan bunga mawar diatasnya, ‘menatapku’ penuh cinta. Kue itu bernama Lovely Roses.

Seneng sekali bisa meramaikan lomba ulang tahun dengan salah satu tulisanku 🙂

(Flash Fiction Contest) D I L E M A

D I L E M A

(Yudith Fabiola)

“Ma…”

“Sshhh…diamlah!”

“Bagaimana bisa diam?”

Mama berhenti menjinjit, menatapku.

“Adikmu sekarat…” mata mama mengembun, “Mama ingin ia makan enak, sekali ini saja. Sebelum ia pergi…”

“Dengan mencolong…?”

Mama menunduk.

“Bukan saatnya untuk diskusi.” jawab mama parau, lalu meninggalkanku. Dengan enggan, kuikuti mama menyusuri meja makan.

“ AWAS…!” seru mama. Fyuuuh…hampir saja kusenggol setumpuk piring.

Dua ekor ikan mas goreng terhidang di meja. Tak tahan, air liurku menetes juga melihatnya. Kapan terakhir kali kami menyantap makanan lezat? Aku tak ingat. Kami lebih sering keroncongan daripada kekenyangan. Jangankan bergizi, perut kami kerap penuh dengan lauk basi. Tak heran jika aku kurus dan adikku sakit-sakitan.

Namun, mencolong…?

Adikmu sekarat. Mama ingin ia makan enak, sekali ini saja. Sebelum ia pergi…

Tapi, kata ustad kemarin…

“CEPAT!” seru mama. Aku tergeragap mendengarnya. Keseimbanganku oleng. Sekaleng kerupuk jatuh tanpa bisa kucegah.

KLONTRAAANG…!

Mati aku!

“LARI!” teriak mama sebelum  kabur ke luar jendela. Seekor ikan berhasil digondolnya. Kakiku mendadak berat. Jantungku berdetak cepat.

Ambil…tidak…ambil… tidak…am…bil…ti…dak. 

Adikmu sekarat…, ambil!

Tepat saat ikan kucomot, segagang sapu mendarat di kepalaku.

“Miauuuw…” jeritku.

Pandanganku masih berkunang-kunang ketika gagang itu menyodok perutku.

“Miauuuw…” ampuuun!

Gagang kembali terayun menghantam kepalaku.

Mamaaa…!

Aku tak mau mencolong, Ma…

*****

199 kata.

FF ini diikutsertakan di Lomba FF Blogfam-MPID.

BlogFam Community

[Random-Snippets-AIR] Muter-Muter di NEwater

Acara akhir pekan kami, setahunan yang lalu…

Mau jalan-jalan ke mana hari ini?

Mall?

Mall lagi-mall lagi, bosen.

Pantai?

Asyik sih…tapi, sudah sering.

Kami pun berkeliling-keliling. Dari Tampines, ke Simei lalu melewati Expo dan…nah, di dekat Expo, mata kami tak sengaja melihat papan petunjuk arah menuju NEwater. Eh, apaan, tuh? NEwater? Kayak pernah denger. Bagai dikomando, kemudi berbelok ke sana. Penasaran. Kalau tempat itu menarik, alhamdulillah. Kalau tidak, tinggal berbalik arah. Ternyata…

*****

Singapore yang memang luar biasa dalam soal kecanggihan teknologi, membuktikan dirinya semakin pantas diacungi jempol dengan inisiatifnya mendaur ulang air. Sumber daya air yang minim, membuat negara ini memaksimalkan potensi air yang dimilikinya.

Bahasa sederhana untuk NEwater ialah air buangan (wastewater) yang dibersihkan lewat serangkaian proses hingga hasil akhirnya aman dikonsumsi manusia (meski kebanyakan dipakai oleh industri).

Wastewater? Huaaa!

Bayangan sungai yang hitam, bau, penuh sampah, limbah pabrik dan hajat manusia menari-menari di benak ketika mendengar kata itu. Bergidik membayangkannya. Bukan hanya itu, bayangkan adegan selanjutnya: air kotor tadi di’suci’kan hingga bisa dikonsumsi, mengalir membasahi bibir, gigi, lidah, kerong…, glek…merinding!

Eh…tapi, jangan eneg dulu! Setelah tahu proses produksi NEwater, tak akan ada ragu menyelip di hati untuk menuntaskan dahaga dengan air ini .

*****

Gedung (dengan logo NEwater tertera besar-besar di dinding dekat pintu masuk) nampak sederhana, tapi ketika berada di dalamnya, kami terpesona. Aroma kemutakhiran tercium di setiap ruang. Ada maket gedung, botol-botol NEwater yang terpajang rapi di lemari dinding, penjelasan tentang NEwater yang disajikan lewat piranti-piranti multimedia modern, games untuk pengunjung, hingga pengalaman berada di ‘pabrik’ NEwater (seorang guide bertugas menjelaskan proses produksi NEwater).

Rupanya, proses air kotor menjadi Newater adalah sebagai berikut:

1.      Rintangan pertama: Proses konvensional pembersihan air kotor: air yang telah digunakan diproses di Water Reclamation Plants.

2.      Rintangan kedua atau tahap pertama proses produksi NEwater yakni menggunakan mikrofiltrasi/ultrafiltrasi untuk menyaring benda padat, partikel koloid, bakteri-virus-protozoa. Air yang tersaring melewati membrane, mengandung garam larut dan molekul organik.

3.      Rintangan ketiga dan tahap kedua proses produksi NEwater dengan Reverse Osmosis (apa ya istilah Indonesianya?). Dalam RO, membran semi permiabel menyaring kontaminan yang tidak diinginkan seperti bakteri, virus, logam berat, nitrat, klorida, sulfat, pestisida dll. Pada tahap ini, NEwater bebas dari virus, bakteri dan mengandung garam dengan level rendah juga zat organik. Pada step  ini, air sudah dalam kualitas dapat diminum.

4.      Rintangan keempat dan tahap ketiga proses produksi NEwater adalah langkah keselamatan. Pembersihan dari kuman dengan memakai UV guna memastikan semua organisme inaktif dan kemurnian produk air terjamin. Dengan penambahan zat kimia alkalin untuk menjaga keseimbangan PH, NEwater is ready for use.

Wow…proses yang luar biasa! Butuh keyakinan dan biaya yang digdaya untuk mewujudkannya. Bagi Singapore, proyek NEwater bukan proyek instan. Wacana tentang mendaur ulang air telah dilontarkan sejak tahun 70an, namun baru diresmikan di 1998. Butuh 20 tahunan untuk meyakinkan diri bahwa Singapore bisa mewujudkan proyek besar ini. 

Setelah mendengar keterangan guide dan melihat ‘pabrik’ NEwater, kami lanjut memasuki ruang-ruang lain hingga berakhir di pintu keluar. Sebelum keluar, sebuah dispenser berisi NEwater berdiri di dekat gerbang exit. Para pengunjung bisa mencicipi NEwater sepuasnya. Hmm…segar. Tidak ada perbedaan dengan air biasa.

Sebuah kafe terbuka menunggu para pengunjung yang ingin berleha-leha seusai menjelajahi gedung NEwater. Tidak jauh dari pintu keluar, ada lemari pendingin berisi botol-botol NEwater yang diperuntukkan cuma-cuma bagi pengunjung.

*****

Hhhh…(menarik napas panjang).

Ketaksengajaan kaki kami membelok ke NEWater Visitor Centre (yang masuknya gratis tanpa bayar sesen pun!) memberi kami pengalaman luar  biasa. Kagum dan iri menyeruak dalam hati.

 Pikiran langsung terbang ke tanah air tercinta. Inginnya menahan diri untuk tidak membandingkan sikon di sini dengan di tanah air, tapi tak bisa. Batin berisik mengusik,
Jangankan untuk menyucikan air kotor menjadi bersih. (Di beberapa tempat) air malah mengalir tersendat….”

 Jiwa saya pun berenang ke pinggiran kali Ciliwung. Menatap warna gelap sungai itu. Memandang sampah yang menjulang di tepiannya. Mengendus bau khas yang menguar darinya. Bertanya-tanya, “Bilakah saya, kamu, rakyat negeri kita dapat meneguk air sungai Ciliwung, dengan aman, nyaman dan tenang?”

*****

Muter-muter di Newater memberi pelajaran berharga pada kami bahwa persoalan air tidak sesederhana yang diperkirakan…

*****

Alhamdulillah, bisa nyelesein tulisan pertama untuk lombanya Vina…

Beberapa informasi untuk tulisan ini, mencomot dari sini.

Ingin tahu lebih banyak tentang NEwater? Klik tautan ini.

(Xenofobia) Sebab Kita Sama

Fragmen #1

Dia sedang berjalan santai. Bayinya yang lucu tidur nyaman di kereta dorong. Ia berpapasan dengan seorang ibu. Papasan yang membuahkan percakapan, sekejap namun menohok.

“Lawanye budak ni. Anak majikan awak? Baek ye majikan awak, kasih awak ijin keluar rumah…”

Ia terbengong namun sesaat kemudian berhasil mengendalikan  suasana hatinya dengan baik dan menjawab dengan percaya diri.

“Ini anak saya, bukan anak majikan saya.”

Bukan sekali dua saya mendengar kisah kawan-kawan saya yang diduga sebagai PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga) oleh warga negeri ini. Ah…tak ada yang salah dengan PLRT. Bukan karena berpredikat PLRT maka ia lebih rendah dari saya, tidak! Tidak seperti itu. Kawan-kawan saya menyesalkan sikap (sebagian besar) warga negeri ini yang memandang sebelah mata pada orang-orang berpaspor hijau. (Sebagian besar) dari mereka menganggap kami adalah PLRT, berpendidikan rendah dan karenanya berhak direndahkan.

Sekali lagi, ini bukan soal profesi PLRT. Tokh, tanpa perlu melamar pekerjaan sebagai PLRT, sejak menikah, tugas saya tidak jauh-jauh dari tugas PLRT: membenahi rumah dan segala pernak-perniknya. Kami hanya menyesalkan sikap sebagian besar orang yang under estimate terhadap kami. Memang, harus diakui, warga negara kita yang datang ke negeri ini sebagian besar bekerja sebagai PLRT. Jumlahnya sangat fantastis. Puluhan ribu orang! Tidak bisa dipungkiri pula, tidak semua PLRT bisa menjaga diri dan nama bangsanya dengan baik. Jadi, karena nila setitik itu, rusak susu sebelanga. Padahal, saya cukup sering pula menjumpai mbak PLRT yang bersikap santun, mengisi off day-nya dengan kegiatan bermanfaat. Namun, mungkin jumlah mereka hanya segelintir sehingga dalam pandangan (sebagian) besar masyarakat negeri ini PLRT adalah jelek. Kebanyakan (atau semuanya?) peran PLRT digeluti oleh perempuan. Jika mereka memiliki pandangan negatif terhadap PLRT, hampir-hampir mereka mengeneralisir kejelekan tersebut pada perempuan-perempuan dari tanah air kita. Contoh sederhana tapi nyata adalah kisah teman saya. Bertahun-tahun ia tinggal di Singapura, belum pernah sekali pun ke Batam. Apa pasal? Gosip! Gosip yang dihembuskan saudaranya bahwa perempuan di sana bukan perempuan baik-baik. Jadi, daripada suaminya ‘kenapa-kenapa’ lebih baik tidak melancong ke Batam (fyi, Singapore-Batam tak kurang dari 1 jam dengan transportasi laut). 

Saya sendiri tidak ambil pusing jika dilabeli sebagai PLRT. Tidak juga merasa perlu untuk mengubah penampilan agar nampak berbeda dengan mereka. Tokh, mereka saudara-saudara saya. Saya dan mereka sama di mata Allah. Mereka para pahlawa devisa. Pahlawan selayaknya dibanggakan, bukan diremehkan apalagi dianiaya. Sepatutnya, mereka yang berprasangka hitam pada kamilah yang harus diubah. Diubah cara pandangnya agar adil dalam menilai seseorang. Tidak melabeli, menyepelekan bahkan merendahkan seseorang. Oknum-oknum seperti ini harus disikapi dengan cerdas dan elegan. Bukan dengan reaksioner apalagi kekanak-kanakan. Sebab, walau bagaimanapun, memang masih banyak yang perlu dibenahi dari diri saya, diri kita, bangsa kita, agar tak dipandang sebelah mata oleh negeri tetangganya….  

Detik-detik menjelang diterkam deadline lombanya Lessy 😉

Firts October, it comes so fast, really! (Makasih untuk menyelenggarakan lomba dengan deadline yang lama, ya L…, tapi dasar aku biasa SKS, menjelang deadline baru muncul ide…:”>)