(Xenofobia) A Letter To L

A LETTER TO L

 

L…,

Bisa dibilang, aku tidak pernah terganggu ketika menghadapi sesuatu yang asing atau baru (misalnya: baju baru, sepatu baru, buku baru, laptop baru. Yuhuu, L: dilarang protes! :D). Baiklah, maksudku sesuatu yang baru tuh, sekolah baru, teman baru, komunitas baru, hingga tempat tinggal baru yang benar-benar asing bagiku (misalnya: kota baru, pulau baru, negara baru).

Sejak kecil, hidupku nomad dari satu kota ke kota lain. Bukan karena persediaan makanan keluargaku habis sehingga kami harus mencari lahan baru untuk menyambung hidup (itu nomad zaman Flintstone :D. Yang kumaksud adalah nomad era Dian Pishesa. L, kenal dia, kan? Kalo aku tidak kenal, bukan sepupuku soalnya =D). Kami nomad sebab orangtuaku dipindahdinaskan. Melanglangbuanalah aku dari Medan ke Palembang ke Serang ke Pandeglang ke Jakarta ke Bandung, ke Pinrang di Sulawesi Selatan (orang tuaku lebih jauh lagi, hingga ke Balikpapan dan Manado).

Dari sekian kali pindah dan menghuni lingkungan baru, aku tidak pernah merasa sangat takut dan sedih.

Pernah sedih, sekali. Baruuu aja masuk SMP di Bandung, dapat teman baru, tahunya harus bedol desa ke Pinrang. Nama Pinrang sangat asing di telingaku. Belum-belum, aku sudah menciptakan tameng kasat mata yang akan melindungi diriku di sana kelak. Apalagi, kalau bukan pikiran-pikiran buruk tentang Pinrang dan orang-orang di dalamnya. Ketika akhirnya kakiku menjejak di bumi Anging Mammiri, kekhawatiranku pada Pinrang dan segala perangkatnya menjadi-jadi. Segalanya nampak asing di mataku. Kotanya, penduduknya, bahasanya, makanan khasnya dan alamnya. Namun, alih-alih merasa asing, aku justru dianggap asing oleh teman-teman sekolahku. Pertama kali masuk sekolah, teman-teman memandangiku dari ujung rambut ke ujung kaki. Mereka mengerubungiku seolah-olah aku adalah alien dari negeri antah berantah. Hati dan tubuhku mengerut dikerubuti orang yang menatapku heran. “Aku tidak akan betah tinggal di sini!” rutukku dalam hati. Tapi, perkiraanku salah. Setelah adaptasi beberapa lama, aku malah kerasan dan sangat terkesan dengan pengalamanku tinggal di kota itu. Rasa takut dan sedih menguap dengan sendirinya.

Kurasa orang tuaku memegang peranan penting yang membuatku mudah menerima lingkungan yang asing. Mamaku apalagi. Beliau pandai bawa diri. Mudah beradaptasi. Kadang, baru tinggal sepuluh hari di tempat tinggal baru, bahasa daerah sana sudah menempel di lidah dan gigi. Tanpa kusadari, hal ini membentuk pandanganku bahwa memasuki lingkungan baru, teman-teman baru, sikon yang baru adalah menyenangkan.

Aku merasa pemahaman tadi, tanpa kukehendaki dengan sengaja, menjadi bekal untukku bersosialisasi di kemudian hari. Namun, (untuk orang sepertiku), pemahaman itu perlu disertai usaha untuk belajar menjadi pribadi yang terbuka, penyabar dan pemberani (harus kuakui bukan hal yang as easy as you blink your eyes untuk mewujudkannya, apalagi soal menjadi berani). Tapi, seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit aku mulai menuai hasil dari usahaku tadi. Contohnya, aku pernah lho L, ke Garut sendirian (menghadiri sebuah acara selama beberapa hari). Mungkin bagi sebagian orang, “Yah…Bandung-Garut, cemen!” Tapi, untuk orang sepenakut aku, ini adalah prestasi. Aku tidak tahu situasi di sana. Tidak kenal tempat yang akan kusambangi. Cuma kenal segelintir orang di acara itu. Ketika akhirnya aku sampai dengan selamat di tempat itu, bahagiaaa sekali. Rasanya, aku berhasil menaklukan sesuatu. Apa? Ya, diriku sendiri. Jadi, persoalan merasa asing adalah persoalan menaklukan ketakutan yang menyelimuti diri sendiri.

 

Tiga Frasa

(Seharusnya) tidak takut, tidak cemas, tidak khawatir.  Tiga frasa ini cukup ampuh untuk membuatku lebih mudah menjalani kehidupan di tempat asing. Sewaktu akan menikah, calon suamiku mengajukan satu pertanyaan, “Kalau saya bekerja di tempat-tempat jauh, apakah kamu bersedia ikut.” Kujawab, “Ya.” Setelah menjawab, baru mikir. Kalau jauhnya itu Ambon, atau Irian, gimana dong? Ternyata, jauhnya adalah Singapura. Sebelum pindah, kami mencari info tentang negeri ini. Sayangnya, 10 tahun lalu, internet belum seperti sekarang. Dengan informasi minim, kami bismillah. Migrasi ke sana. Hal yang kurasakan ketika pertama kali menginjak negeri ini dan setelah 10 tahun kemudian adalah sama: menyenangkan (semoga keadaan menyenangkan ini berlanjut terus hingga aku kembali ke Indonesia). Padahal, situasi-kebiasaan-aturan-makanan-cuaca-karakter masyarakat di sini berbeda dengan di tanah air. Alhamdulillah, aku menikmati ‘keasingan’ ini.

Maka, jika aku bisa enjoy menjalani kehidupanku di tempat asing. Apalagi untuk ‘sekedar’ berlibur yang cuma beberapa hari.

 

Jegeg, masih ingat ‘nasihat’mu waktu aku mau ke Bali?

 

Katamu, “Bali itu tergantung persepsi pertamamu. Kalo dari awal kamu udah love, kamu akan suka. Tapi, kalo sejak mula kamu hate, ya kamu ga akan suka di sana.”

Sebelum ke sana, informasi tentang Bali yang berseliweran di telingaku tidak melulu indah. Geli ah, di sana banyak b*b*, susah cari makanan halal, bawa aja ind*mie, masak sendiri. Itu salah satu info yang mampir ke gendang telingaku. Tapi, aku memilih love meski aku belum pernah menginjakkan kaki di sana. Ternyata nasihatmu manjur, L. I really love Bali (setidaknya sampai aku mengetik ini).

Begitu juga waktu aku ke negeri Panda. Moslem minority country, No Speak English Country, Hanzi Character Country. Tak bisa kupungkiri, busana muslimah yang aku dan anakku kenakan menarik perhatian mereka. Kemanapun kami melangkah, sosok kami mengundang perhatian. Tapi, aku tidak resah sebab aku bisa merasakan arti pandangan mata mereka, yakni pandangan ingin tahu, bukan pandangan melecehkan, membenci apalagi meneror dan mengancam. Sepuluh hari di negeri tirai bambu tidak membuatku bosan, justru ingin lebih lama lagi.

Secuil Tips

Tentu saja, pengalamanku bukan parameter kebenaran untuk mengatakan bahwa perasaan tidak suka pada sesuatu atau seseorang yang asing adalah soal yang mudah. Tidak sama sekali. Hanya, berangkat dari pengalamanku, xenofobia bisa terjadi karena:

1.      Tidak tahu dan tidak mengerti tentang sesuatu yang ia anggap asing.

2.      Mendahulukan prasangka daripada fakta untuk menilai sesuatu yang asing.

3.      Sengaja tidak mencari tahu kebenaran sesuatu yang asing itu.

 

Jadi, menurutku, xenofobia adalah penyakit hati. Agar tidak terjebak menjadi xenofobik, harus membuka hati dan akal pikiran untuk menerima informasi yang benar tentang sesuatu yang asing agar tahu cara menyikapinya. Terus memotivasi diri dengan pikiran-pikiran yang positif tentang sesuatu yang asing.

Begitu juga untuk menghadapi para xenofobik, perlu hati yang asih, legawa dan mental yang kuat. Bisa jadi, ketakutan mereka terhadap sesuatu yang asing karena mereka belum mengenal sesuatu itu. Mereka perlu didekati dengan lembut dan santun. Kalau mereka sudah tahu tapi masih ngeyel bahkan bertindak anarkis, pendekatan yang perlu dilakukan lain lagi.


Suratku panjang sekali ya, L.

Mudah-mudahan manfaatnya lebih banyak dari jumlah paragrafnya :D.

*****

Kedua kalinya ikut lomba yang diadakan Lessy 🙂 

Kali ini lomba menulis dengan tema Xenofobia. Ayo ikutaan: http://wayanlessy.multiply.com/journal/item/470/Xenophobia_Lomba_menulis_tentang_Xenophobia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s