[Xenofobia] Sebait Kidung Lawas

Sosok itu menikam kami dengan tatapan tak suka yang teramat nyata.

“Siapa yang ngijinin ngaji di sini?”

Aku dan adik-adikku terpaku. Apa yang salah dengan berkumpul di sini, di masjid? Bukankah masjid memang tempat yang sangat tepat untuk mengeja kalam Ilahi? Lalu, mengapa kami diusir? Kami keluar dari masjid dengan hati pedih dan mata panas, menahan  genangan air di dalamnya.

*****

Xenofobia. Kosa kata yang asing di telingaku. Sesuatu yang terasa jauh dari sisi waktu dan jarak geografi. Namun, ketika mengetahui artinya, xenofobia tidak seasing yang kuperkirakan. Menurutku, ia penyakit yang sangat lekat dalam perjalanan peradaban manusia. Peradaban manusia dibangun oleh ideologi, isme, nilai atau apapun istilahnya. Sesuatu yang secara sadar atau tak sadar, membungkus erat cara berpikir, cara memandang sesuatu, cara memilih gaya hidup dalam diri seseorang. Sesuatu yang wajar jika friksi terjadi di antara berbagai paham tadi. Menjadi tidak wajar jika individunya mengalami fobia.

Adalah Rasulullah Muhammad saw, manusia yang hidupnya diselubungi para xenofobik. Ajarannya yang mulia dianggap asing, aneh, mengancam eksistensi dan menceraiberaikan yang bersatu (suami dari istrinya, ayah dari anaknya, dll). Para xenofobik, dengan hati berlumuran daki dengki, dengan prasangka yang membabi buta, dengan kedangkalan pemahaman melancarkan aksi intimidasi, halus hingga anarki.

Seperti sejarah yang berulang, begitupula xenofobia dengan para ‘penderitanya’. Abad berganti bukan berarti mereka mati. Sepanjang ajaran yang mulia ini tampil dalam pribadi-pribadi yang teguh, sepanjang itu pula ia dianggap asing dan menggelisahkan oknum-oknum yang tidak menyukainya. Jika ada yang baru dari xenofobia, bukan isinya, melainkan kemasan atau baju atau senjata para penderitanya.

Perasaan asing atau takut terhadap ajaran mulia ini terjadi di berbagai tempat dan bisa menimpa berbagai orang. Meski, yang paling menyedihkan ialah jika sang xenofobik adalah orang yang di kartu identitasnya menulis keyakinan yang sama dengan keyakinan orang yang dibenci atau dicurigai karena ‘keasingannya’.

Seperti yang kualami belasan tahun silam…

Hari itu, aku dan adik-adikku sepakat untuk mengadakan kajian rutin di sebuah masjid yang berada di luar kampus. Baru beberapa menit kami duduk melingkar di dalam masjid, seorang ibu menghampiri kami. Tanpa tedeng aling-aling, bertanya berbagai hal dengan nada tak ramah dan memojokkan kami. Pendeknya, ia tak suka kami berkumpul dan mengadakan pengajian di situ. Bagai disambar geledek, kami terperangah. Bagaimana mungkin saudara kami mengusir kami dari rumah Allah? Apakah wajah kami tampak seperti pembuat onar?

Ketika jilbab belum sesemarak sekarang, kami, para muslimah berjilbab yang lebih senang menghabiskan waktu istirahat di mushala, kerap dicurigai pihak sekolah. Seolah-olah kami adalah alien yang akan menghancurkan bumi. Begitu pula ketika kuliah, gerak-gerik kami diawasi. Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang akan kami adakan untuk adik-adik angkatan tidak luput dari pengawasan dosen. Seakan-akan kami hendak mencuci otak para mahasiswa baru dengan pemahaman brutal dan beringas.

Yang dialami kakak-kakak kelasku jauh lebih mengenaskan. Mereka berjilbab rapi dari rumah, tapi harus melepas jilbab setibanya di sekolah. Tindak-tanduk mereka disoroti dari berbagai sisi. Jika melakukan sedikit kesalahan, maka berbagai cap disematkan kepadanya. Namun, jika berhasil dan berprestasi, pelit pujian. Proses kelulusan yang seharusnya menjadi masa membahagiakan, kembali menggurat duka ketika foto di selembar ijazah menyaratkan untuk menampakkan telinga, yang berarti harus membuka jilbab. Demikian dahsyatnya dampak dari penyakit hati: xenofobia.

*****

Keteguhan pendahulu-pendahuluku dalam memegang ajaran ini dan juga pertolongan Allahlah yang membuat aku kini bisa melenggang kangkung di jalanan, di sekolah, di berbagai keadaan, dengan jilbab tersampir di kepala. Kerja keras mereka menampilkan kesantunan dalam memeluk ajaran ini dan juga pertolongan Allahlah yang membuatku bebas hadir di pengajian-pengajian di berbagai tempat. Walau, pasti di beberapa bagian bumi Allah, masih ada mereka yang mengalami kepahitan-kepahitan karena kekokohannya melaksanakan ajaran ini. Sebab konsekuensi dari berpegang teguh terhadap ajaran ini  ialah mereka nampak asing, berbeda, tak sama, tak lazim, unusual dengan tradisi, kebiasaan dan keumuman yang ada di sekitarnya. Bahkan, jika mereka telah tampil santun dan simpatik sekalipun, mereka akan tetap nampak asing. 

Hal ini telah dinukilkan dalam sebuah hadits: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim [145] dalam
Kitab al-Iman.Syarh Muslim, 1/234).* 

Ke’asing’an ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah ribuan tahun silam. Selama ribuan tahun itu pula xenofobia bercokol di muka bumi, bahkan mungkin lebih lama lagi. Jadi, xenofobia ternyata ‘cuma’ sekedar lagu lama. Ia,’hanya’ sebait kidung lawas.


*****


Kuikutkan coretan ini di lomba menulis bertema Xenofobia yang diadakan oleh Lessy.    

Tanda bintang berarti mengopast dari sini .

[Lomba Omaliman] Happy Ending

HAPPY ENDING


“Bella!” seru Omaliman kaget.

“Sudah lama sekali…!” nada suaranya sangat gembira. “Berapa tahun kita tak jumpa?” Omaliman masih terpana pada sosok di hadapannya. Sosok yang sering menjadi bunga dalam mimpi-mimpinya. Sedang ia adalah kumbang yang selalu kalah saing dengan kumbang lain jika hendak menghampiri sang bunga. Kini, bunga itu hadir di hadapannya.

Bella tersenyum canggung.

“Begini, Oma…” suara Bella terdengar ragu. Bella tampak gelisah. Ia berjalan mondar-mandir.

“Katakan saja, Bella…” Omaliman berharap Bella akan mengatakan kangen atau kesepian tanpanya atau menanti-nanti kehadirannya selama ini atau…

“Aku memerlukan bantuanmu!” tegas suara Bella memotong khayalan Omaliman. Meski kecewa, Omaliman tersenyum. Tak ingin Bella membaca kekecewaannya. Selalu, sejak dulu, sejak mereka masih sama-sama satu sekolah, Bella datang hanya untuk meminta bantuannya. 

“Edward dan seluruh penduduk di kecamatan Forks menderita penyakit aneh. Kamu harus menengok dan menolong menyembuhkan mereka!” sahut Bella tanpa tedeng aling-aling.

Omaliman termenung. Jadi…Edward alasan Bella ke sini. Mengapa nama itu selalu mengikuti Bella?

“Aku bersedia, Bella, tapi…” sejak dulu Omaliman selalu membantu Bella tanpa syarat. Namun, kali ini Omaliman tak ingin melepas Bella begitu saja. 

“Tapi kenapa Oma?” seru Bella tak sabar. Tidak biasanya Omaliman mengatakan tapi untuk setiap permintaan Bella.

“Aku hanya minta satu syarat padamu jika aku berhasil menyembuhkan mereka…”

“Apa itu?”

Dan Bella ternganga mendengar persyaratannya.

*****

Omaliman mendatangi PUSKESVAM setempat. Benar kata Bella, Edward dan seluruh penduduk di sana terserang penyakit yang aneh. Gusi mereka bengkak dan berdarah. Tidak sedikit yang mengalami demam.

Ketika memeriksa gusi Edward,

“Ini sih kurang vitamin C! Dasar vam…” sungut Omaliman.

“Apa?” tanya Bella.

“Oh, tidak. Bukan apa-apa,” kata Omaliman kikuk.

Selain masalah gusi berdarah, mereka pun banyak yang memiliki karang gigi. Omaliman bekerja keras membersihkan karang gigi yang menempel kuat pada gigi Edward dan penduduk di sana.

“Gini nih kalo ga perhatian ama gigi. Bella…Bella, cowok punya karang gigi kok didemenin?” gerutu Omaliman pelan ketika mencangkul karang gigi Edward.

“Apa?” tanya Bella.

“Eh, tidak. Bukan apa-apa, kok.” Omaliman ingin menepuk jidatnya. Lupa kalau orang yang berdiri di dekatnya saat ini adalah Bella. Menjadi asisten sementaranya.

Bukan cuma karang gigi, gigi taring mereka pun bermasalah. Kecoklatan, berlubang dan aus. Sesuatu yang jarang terjadi pada gigi taring. Kasus ini yang paling berat untuk ditangani Omaliman. Sebab ia harus menambal dan membuat gigi yang aus menjadi tajam lagi. Kalau tidak, Edward dan seluruh masyarakat di kecamatan ini akan pensiun dari pekerjaannya mengisap darah. Perlu diketahui, Omaliman bersedia menolong sebab mereka para pengisap darah baik hati. Mereka hanya mengisap darah orang-orang tertentu. Misalnya, orang yang dipatuk ular, digigit lintah, disengat kalajengking, yang kecanduan narkoba, dll. Mereka mengisap darah untuk mengeluarkan racun ular atau racun lintah atau racun kalajengking atau racun narkoba pada tubuh orang tersebut. Mereka para pengisap darah yang berjiwa sosial.

*****

“Edward, aku telah berjanji padanya,” suara Bella serak. Edward Cullen menusuk Bella dengan tatapan luka.

“Aku…berjanji… memenuhi persyaratan yang diajukannya untuk menyembuhkanmu… dan masyarakat di kecamatan ini…” kalimat Bella patah-patah. Airmata tumpah membasahi pipinya. 

“Aku tak tahan melihatmu menderita, Edward…” ujar Bella sambil menghapus airmatanya.

“Dia bukan lelaki idamanku, sungguh!” seru Bella.

Sosok Omaliman yang kurus, hitam, berjenggot dan suka ngupil melintas dalam pikirannya. Tanpa sadar Bella bergidik ngeri. Mengapa manusia asli malah seperti jejadian? Sedang Edward yang vampir malah terlihat sempurna? Batin Bella sedih.

“Tapi, aku tak punya pilihan lain, hanya Omaliman yang bisa membantu kalian kemarin,” sentak Bella.  Edward membisu.

“Aku, kau dan semua orang di sini berhutang budi pada Omaliman…” kata Bella di sela-sela tangisnya.

“Maafkan aku, Edward…” Bella memeluk Edward lalu berlari pulang.

*****

Omaliman memang dokter gigi yang mumpuni. Edward dan seluruh penduduk di Forks sembuh lewat tangan dinginnya. Omaliman  dan Bella mendatangi mereka tiga setengah minggu kemudian. Menemui Edward dan beberapa penduduk di sana untuk menyerahkan undangan.

Edward menatap masygul undangan itu. Di dalamnya terukir nama Bella dan Omaliman dengan tinta emas.

Akan menikah:

Isabella Swan

(Putri Bapak dan Ibu Swan)

Dengan

Drg. Omaliman, Sp. Givam

(Putra Bapak Oma dan Ibu Liman)

*****

Keterangan: 

PUSKESVAM: Pusat Kesehatan Vampir

DRG: dokter gigi

Sp. Givam: Spesialis Gigi Vampir

*****

Tulisan ini disertakan dalam lomba fanfic yang diadakan oleh carrotsoup, bagi yang mau ikutan lomba, silakan mampir ke http://carrotsoup.multiply.com/journal/item/245/Perlombaan_Omaliman

Perhatian:

Nama tokoh, singkatan dan gelar akademik dalam kisah ini adalah fiksi.

(Xenofobia) A Letter To L

A LETTER TO L

 

L…,

Bisa dibilang, aku tidak pernah terganggu ketika menghadapi sesuatu yang asing atau baru (misalnya: baju baru, sepatu baru, buku baru, laptop baru. Yuhuu, L: dilarang protes! :D). Baiklah, maksudku sesuatu yang baru tuh, sekolah baru, teman baru, komunitas baru, hingga tempat tinggal baru yang benar-benar asing bagiku (misalnya: kota baru, pulau baru, negara baru).

Sejak kecil, hidupku nomad dari satu kota ke kota lain. Bukan karena persediaan makanan keluargaku habis sehingga kami harus mencari lahan baru untuk menyambung hidup (itu nomad zaman Flintstone :D. Yang kumaksud adalah nomad era Dian Pishesa. L, kenal dia, kan? Kalo aku tidak kenal, bukan sepupuku soalnya =D). Kami nomad sebab orangtuaku dipindahdinaskan. Melanglangbuanalah aku dari Medan ke Palembang ke Serang ke Pandeglang ke Jakarta ke Bandung, ke Pinrang di Sulawesi Selatan (orang tuaku lebih jauh lagi, hingga ke Balikpapan dan Manado).

Dari sekian kali pindah dan menghuni lingkungan baru, aku tidak pernah merasa sangat takut dan sedih.

Pernah sedih, sekali. Baruuu aja masuk SMP di Bandung, dapat teman baru, tahunya harus bedol desa ke Pinrang. Nama Pinrang sangat asing di telingaku. Belum-belum, aku sudah menciptakan tameng kasat mata yang akan melindungi diriku di sana kelak. Apalagi, kalau bukan pikiran-pikiran buruk tentang Pinrang dan orang-orang di dalamnya. Ketika akhirnya kakiku menjejak di bumi Anging Mammiri, kekhawatiranku pada Pinrang dan segala perangkatnya menjadi-jadi. Segalanya nampak asing di mataku. Kotanya, penduduknya, bahasanya, makanan khasnya dan alamnya. Namun, alih-alih merasa asing, aku justru dianggap asing oleh teman-teman sekolahku. Pertama kali masuk sekolah, teman-teman memandangiku dari ujung rambut ke ujung kaki. Mereka mengerubungiku seolah-olah aku adalah alien dari negeri antah berantah. Hati dan tubuhku mengerut dikerubuti orang yang menatapku heran. “Aku tidak akan betah tinggal di sini!” rutukku dalam hati. Tapi, perkiraanku salah. Setelah adaptasi beberapa lama, aku malah kerasan dan sangat terkesan dengan pengalamanku tinggal di kota itu. Rasa takut dan sedih menguap dengan sendirinya.

Kurasa orang tuaku memegang peranan penting yang membuatku mudah menerima lingkungan yang asing. Mamaku apalagi. Beliau pandai bawa diri. Mudah beradaptasi. Kadang, baru tinggal sepuluh hari di tempat tinggal baru, bahasa daerah sana sudah menempel di lidah dan gigi. Tanpa kusadari, hal ini membentuk pandanganku bahwa memasuki lingkungan baru, teman-teman baru, sikon yang baru adalah menyenangkan.

Aku merasa pemahaman tadi, tanpa kukehendaki dengan sengaja, menjadi bekal untukku bersosialisasi di kemudian hari. Namun, (untuk orang sepertiku), pemahaman itu perlu disertai usaha untuk belajar menjadi pribadi yang terbuka, penyabar dan pemberani (harus kuakui bukan hal yang as easy as you blink your eyes untuk mewujudkannya, apalagi soal menjadi berani). Tapi, seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit aku mulai menuai hasil dari usahaku tadi. Contohnya, aku pernah lho L, ke Garut sendirian (menghadiri sebuah acara selama beberapa hari). Mungkin bagi sebagian orang, “Yah…Bandung-Garut, cemen!” Tapi, untuk orang sepenakut aku, ini adalah prestasi. Aku tidak tahu situasi di sana. Tidak kenal tempat yang akan kusambangi. Cuma kenal segelintir orang di acara itu. Ketika akhirnya aku sampai dengan selamat di tempat itu, bahagiaaa sekali. Rasanya, aku berhasil menaklukan sesuatu. Apa? Ya, diriku sendiri. Jadi, persoalan merasa asing adalah persoalan menaklukan ketakutan yang menyelimuti diri sendiri.

 

Tiga Frasa

(Seharusnya) tidak takut, tidak cemas, tidak khawatir.  Tiga frasa ini cukup ampuh untuk membuatku lebih mudah menjalani kehidupan di tempat asing. Sewaktu akan menikah, calon suamiku mengajukan satu pertanyaan, “Kalau saya bekerja di tempat-tempat jauh, apakah kamu bersedia ikut.” Kujawab, “Ya.” Setelah menjawab, baru mikir. Kalau jauhnya itu Ambon, atau Irian, gimana dong? Ternyata, jauhnya adalah Singapura. Sebelum pindah, kami mencari info tentang negeri ini. Sayangnya, 10 tahun lalu, internet belum seperti sekarang. Dengan informasi minim, kami bismillah. Migrasi ke sana. Hal yang kurasakan ketika pertama kali menginjak negeri ini dan setelah 10 tahun kemudian adalah sama: menyenangkan (semoga keadaan menyenangkan ini berlanjut terus hingga aku kembali ke Indonesia). Padahal, situasi-kebiasaan-aturan-makanan-cuaca-karakter masyarakat di sini berbeda dengan di tanah air. Alhamdulillah, aku menikmati ‘keasingan’ ini.

Maka, jika aku bisa enjoy menjalani kehidupanku di tempat asing. Apalagi untuk ‘sekedar’ berlibur yang cuma beberapa hari.

 

Jegeg, masih ingat ‘nasihat’mu waktu aku mau ke Bali?

 

Katamu, “Bali itu tergantung persepsi pertamamu. Kalo dari awal kamu udah love, kamu akan suka. Tapi, kalo sejak mula kamu hate, ya kamu ga akan suka di sana.”

Sebelum ke sana, informasi tentang Bali yang berseliweran di telingaku tidak melulu indah. Geli ah, di sana banyak b*b*, susah cari makanan halal, bawa aja ind*mie, masak sendiri. Itu salah satu info yang mampir ke gendang telingaku. Tapi, aku memilih love meski aku belum pernah menginjakkan kaki di sana. Ternyata nasihatmu manjur, L. I really love Bali (setidaknya sampai aku mengetik ini).

Begitu juga waktu aku ke negeri Panda. Moslem minority country, No Speak English Country, Hanzi Character Country. Tak bisa kupungkiri, busana muslimah yang aku dan anakku kenakan menarik perhatian mereka. Kemanapun kami melangkah, sosok kami mengundang perhatian. Tapi, aku tidak resah sebab aku bisa merasakan arti pandangan mata mereka, yakni pandangan ingin tahu, bukan pandangan melecehkan, membenci apalagi meneror dan mengancam. Sepuluh hari di negeri tirai bambu tidak membuatku bosan, justru ingin lebih lama lagi.

Secuil Tips

Tentu saja, pengalamanku bukan parameter kebenaran untuk mengatakan bahwa perasaan tidak suka pada sesuatu atau seseorang yang asing adalah soal yang mudah. Tidak sama sekali. Hanya, berangkat dari pengalamanku, xenofobia bisa terjadi karena:

1.      Tidak tahu dan tidak mengerti tentang sesuatu yang ia anggap asing.

2.      Mendahulukan prasangka daripada fakta untuk menilai sesuatu yang asing.

3.      Sengaja tidak mencari tahu kebenaran sesuatu yang asing itu.

 

Jadi, menurutku, xenofobia adalah penyakit hati. Agar tidak terjebak menjadi xenofobik, harus membuka hati dan akal pikiran untuk menerima informasi yang benar tentang sesuatu yang asing agar tahu cara menyikapinya. Terus memotivasi diri dengan pikiran-pikiran yang positif tentang sesuatu yang asing.

Begitu juga untuk menghadapi para xenofobik, perlu hati yang asih, legawa dan mental yang kuat. Bisa jadi, ketakutan mereka terhadap sesuatu yang asing karena mereka belum mengenal sesuatu itu. Mereka perlu didekati dengan lembut dan santun. Kalau mereka sudah tahu tapi masih ngeyel bahkan bertindak anarkis, pendekatan yang perlu dilakukan lain lagi.


Suratku panjang sekali ya, L.

Mudah-mudahan manfaatnya lebih banyak dari jumlah paragrafnya :D.

*****

Kedua kalinya ikut lomba yang diadakan Lessy 🙂 

Kali ini lomba menulis dengan tema Xenofobia. Ayo ikutaan: http://wayanlessy.multiply.com/journal/item/470/Xenophobia_Lomba_menulis_tentang_Xenophobia