[Berbagi Cerita Dengan Kata] Husnuzhaner

 

Singapore, Sembilan Tahun Lalu

“Aku pingin memperbaiki bacaan qur’anku,” katamu.

“Dengan dia, yang lebih muda umurnya darimu?” aku heran.

“Lho, memangnya kenapa kalau dia lebih muda dariku? Yang penting, bacaannya lebih baik daripada aku, kan?” sahutmu bersikeras. Aku tertegun. Setitik kagum menyelinap ke hatiku saat menyaksikan kemauan kerasmu. Setitik itu berubah menjadi sebongkah kagum ketika menyaksikan dirimu membuktikan ucapanmu. Kamu benar-benar belajar pada sosok yang baru kamu kenal dan lebih muda usianya darimu. Tidak hanya itu, kamu rela menempuh jarak yang jauh demi mewujudkan keinginanmu. Bertolak dari rumahmu di Buona Vista menuju rumah ‘calon’ gurumu di Chai Chee st. Dari hampir ujung barat Singapura menuju hampir ujung timur Singapura. Detik itu juga, aku didera malu. Seharusnya, aku yang lebih muda yang memiliki semangat menyala-nyala seperti dirimu. Harusnya, aku yang belajar lebih rajin daripada dirimu.

Kamu berhasil mendatangi rumah calon gurumu. Wajahmu berseri-seri ketika bercerita padaku bahwa hanya Surat Al Fatihah yang berhasil kamu baca di pertemuan pertama. “Ternyata, bacaan Al Fatihahku juga perlu dikoreksi,” ujarmu tanpa emosi. Justru aku yang termangu mendengarnya. Jauh-jauh datang untuk belajar, ‘hanya’ membaca satu surat yang sudah hafal di luar kepala, dilengkapi dengan kritikan dan kamu tak marah? Hatiku merunduk malu. Ceritamu belum usai. Ternyata, pertemuan kedua, ketiga dan keseterusnya dengan gurumu belum pasti. Sebab ‘sang guru’ akan melahirkan di kampung halamannya. Entah kapan kembali ke Singapore. Tak tergurat kesal sedikitpun di wajahmu. Sebaliknya, senyum maklum menghiasi parasmu. Berbaik sangka bahwa sang guru akan kembali ke Singapore dan akan mengajarmu lagi. Duh Puang…kamu membuatku malu hati sekaligus mantap hati untuk bersahabat denganmu.

 

Singapore, Dalam Kurun Delapan Tahun

Pertemanan kita semakin rapat. Kita cukup sering bertemu. Saling bertukar cerita. Tentang anak kita yang sulit makan, yang harus sudah bisa baca sebelum sekolah dasar, yang kita perlu semakin sabar menghadapi ulahnya. Tentang resep masakan, tentang nostalgia masa silam, tentang tumpukan setrikaan yang semakin menjulang. Aku senang dengan topik obrolan kita. Tak pernah menyinggung sesiapa, tak juga menggunjing tetangga. Kalau salah dua diantara kita nyerempet-nyerempet ke tema yang berbahaya. Kamu akan menggiringku dan mereka untuk berbaik sangka.

Sayang, semakin hari kita semakin jarang berjumpa. Anak kita sekolah di waktu yang berbeda-beda. Tidak ada yang bisa mengawasi mereka. Bagaikan tinggal di dua benua yang berjauhan, kita tak lagi bersua. Kesibukan dan jarak rumah yang jauh membuat kita hanya saling bertukar cerita lewat suara dan HP saja. 

 

Bandung, Juni 2009

Kalau ada yang membuatku semakin gembira mudik tahun ini adalah karena kita bisa sama-sama mudik ke kampung halaman. Bayangkan, kita menghabiskan tahun-tahun bersama di Singapura, tapi untuk ketemu sulitnya minta ampun (dan kamu seperti biasa selalu berhusnuzhan. Memaklumi keadaanku yang sok sibuk sehingga jarang sekali bisa berkunjung ke rumahmu). Eh…ndilalah kok ya tahun ini kita bisa liburan bareng! Ke toko buku bareng (padahal udah borong buku di Bazar Murah Mizan). Nyalon bareng (kayaknya cuma kita pelanggan unik di salon itu. Mana ada orang bercreambath-meni-pedi sambil nuntun-nuntun bocah?) trus nyari guru ngaji bareng. Untuk yang terakhir ini aku benar-benar angkat topi untukmu. Mana ada orang pergi liburan tapi tiap hari (catat: TIAP HARI) manggil guru ngaji untuk ngajar dirinya dan anak-anaknya mengaji? Mana ada? Eh…ada. Ya, kamu. Duh….maluku di Ambon tak terkira rasanya.

 

Singapore, Sebulan Setelah Mudik 2009

Aku kembali bertemu denganmu setelah pertemuan terakhir kita di Bandung. Pertemuan yang kembali membuatku terperangah karena kagum. Kamu, yang sembilan tahun lalu ingin memperbaiki bacaan quranmu, tak ragu memulainya dari Al Fatihah, tak sungkan berguru pada yang lebih muda (dan bau kencur), tak mangkel jika diminta membacanya berulang-ulang, kini hadir di auditorium Masjid Mujahidin Queenstown untuk menghadiri acara penerimaan sijil Guru Qiraati. Subhanallah… what a miracle! 

Tiba-tiba aku teringat pada kalimat mutiara man jadda wa jada. Barang siapa bersungguh-sungguh, ia akan menuai hasilnya. Kamu telah membuktikannya. Semangatmu berlipat kuadrat untuk mencari ilmu qiroat. Anak, suami dan pekerjaan rumah tak mampu menggoyahkan semangatmu untuk meraup hikmah.

Hatiku gerimis ketika mendengar namamu dipanggil ke panggung untuk menerima ijazah guru. Sitti Kemala Pagista. Mungkin, tak banyak yang mengenal sosokmu. Mungkin, kamu tak tenar di kalangan orang banyak. Namamu masih asing di telinga. Waktumu habis untuk mengurus empat cahaya mata dengan berbagai tingkah pola. Siang dan malammu padat dengan urusan rumah tangga.

(Aku ingat sms-sms yang kau kirim tengah malam untukku.

Sender: Puang

+65xxx

Ededeh…sedang apa ko? Sedang sibuk mengetik pastinya.

Aku tersenyum membacanya. Tuh kan, kamu berbaik sangka lagi padaku.

 

Sender: Aku

+65xxx

Ededeh, siapa bilang sedang mengetik ka? Duduk-duduk ji depan computer.

Lalu sms balasanmu datang. Kita saling bersahut-sahutan sms di tengah malam.

What a sweet memory!).

 Dengan segala kesibukan itu, kamu masih bisa menghadiri talaqqi rutin, mengikuti kursus, menyempatkan diri reuni denganku dan teman-teman lamamu. Kamu tak marah, tak menuduhku sombong, tak ambil masalah jika lama aku tak mengontakmu. “Yang penting, walau jauh di mata, tetap dekat di hati,” begitu katamu, berbaik sangka selalu.

Aku menjulukimu husnuzhaner, si baik sangka. Julukan ngarang, tapi, ga apa kan? Peluk hangat dariku untuk saudara sebaik dirimu…

Naskah ini diketik untuk diikutsertakan di lomba: http://ivoniezahra.multiply.com/journal/item/718?mark_read=ivoniezahra:journal:718&replies_read=59

Dikirimnya mepet deadline :”>. Doain yang terbaik yaaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s