[Kuis Bagi-Bagi Buku] Berkat Terdampar Di Singapura

Sejak Kapan Menyukai Buku?

Setelah menggali-gali memori, ingatan saya terlempar ke masa lebih kurang seperempat abad lampau. Masa ketika saya masihlah bocah lima tahun. Di usia itu saya sudah bisa membaca. Judul-judul headline surat kabar, potongan-potongan koran, menarik mata untuk di baca. Kesukaan membaca berubah menjadi hobi ketika saya SD. Nampaknya, kebiasaan baik ini ditunjang oleh kebiasaan papa yang gemar membaca dan mengoleksi buku-buku ensiklopedia. Suatu hari, tanpa diminta, papa juga membelikan buku ensiklopedia Widya Wiyata Pertama Untuk Anak-Anak untuk saya (buku-buku pengetahuan umum yang colourful dan penuh gambar menarik itu). Saya menenggelamkan diri dalam lautan paragraf di dalamnya. Perasaan saya berbunga-bunga jika saya bisa mendapati sesuatu yang baru lewat buku. Seperti ketika saya menemukan kata eureka sewaktu membaca buku Widya Wiyata itu. Rasanya luar biasa bangga sebab bisa menemukan hal baru karena membaca buku bukan karena diberitahu orang lain. Sejak saat itu saya merasa membaca buku adalah kegiatan yang sangat bermanfaat.

 

Buku-buku Enid Blyton, majalah Nina, Majalah Asterix, Smurf, buku Hans C. Andersen, majalah Donald Bebek, majalah Bobo, buku dongeng rakyat semisal Malin Kundang; Legenda Situ Bagendit; Timun Mas; Legenda Danau Toba sampai komik Petruk Gareng menjadi cemilan yang mengasyikkan hingga saya sering lupa waktu, hingga mama harus memanggil berkali-kali sebelum saya datang menghampirinya. Tak jarang saya mengintip-intip majalah dewasa seperti Femina, Kartini, Sarinah milik mama.

 

Sewaktu SMP kebiasaan membaca buku menjadi tersendat-sendat. Kala itu, saya tinggal di kabupaten kecil di Sulsel. Di sana minim toko buku. Kalaupun membaca, lebih sering majalah remaja semisal Gadis, Mode, Hai, Anita Cemerlang. Lagi pula, saya yang saat itu ABG, lebih senang main dengan teman daripada memelototi buku. Kesibukan di masa-masa SMA dan kuliah juga mengurangi frekuensi membaca buku. Namun, rutinitas bulanan membeli buku di kios di belakang masjid Salman ITB atau di even diskon Gramedia atau di pameran buku Landmark Braga tetap berlanjut. Tentu saja membelinya dengan uang saku yang diberikan orang tua. Maka, ketika saya menerima 100.000 ribu sebagai gaji pertama (dan cuma sekali-kalinya) hasil mengajar privat anak SD, tak ada hal lain yang saya pikirkan kecuali membelanjakannya untuk buku. Seratus ribu ludes, berganti empat buku.

 

Sejak Kapan Buku Menjadi Sangat Berarti?

Namun, meski suka membaca buku, saya justru baru menyadari betapa saya tak bisa jauh dari buku sejak terdampar di Singapura (baiklah saya haluskan kalimatnya, berkat terdampar di Singapura).

Tahun ini genap 10 tahun saya bermukim di Singapura. Tapi, saya menyadari jika ada buku maka saya akan baik-baik saja, sekitar delapan tahun silam. 

Awal mula tinggal di Singapura, saya terkena euphoria. Saya menamakannya Sindrom-orang-yang-tinggal-di-luar-negeri. Dalam hal ini negeri yang terkenal dengan shopping centrenya pula. Maka, hari-hari saya lalui dengan mengunjungi mal ke mal. Berburu sale ini, sale itu. Jarang beli sih, cuci mata saja. Lama-lama bosan juga. Setelah anak lahir, waktu bagai berlari, habis untuk mengurus anak dan membereskan pekerjaan rumah. Aktivitas saya hanya dalam sebuah ruang 60 meter persegi. Tuntas pekerjaan rumah, leyeh-leyeh depan TV. Hampir setiap hari seperti itu. Bisa kau bayangkan kebosanan yang melanda saya? Lama-lama saya merasa ada yang kurang. Merasa useless. Tinggal di luar negeri tapi tidak menambah nilai manfaat untuk saya. Di tengah ‘kekeringan’ itu saya bertemu dengan milis FLP. Milis ini seperti pemantik kesadaran saya akan hobi yang sempat mati. Hobi membaca buku. Bagaimana mungkin dalam dua tahun ini saya tak sempat membaca buku? Tak ingin dilibas waktu, saya mendatangi library terdekat. Seperti menemukan oase di Gurun Gobi, saya memandangi buku-buku di library dengan rakus. Ternyata banyak buku berbahasa Indonesia di library itu yang belum saya baca (buku English lebih banyak lagi yang belum saya baca). Andai bisa berjingkrak-jingkrak di ruang nan sunyi tapi terang, bersih dan adem itu, tentulah sudah saya lakukan. Sayangnya tak bisa.

Sejak saat itu hingga hari ini, library menjadi tempat yang paling sering saya kunjungi di Singapura. Saya ingin meminjam buku sesering mungkin, saya ingin membaca buku sebanyak mungkin. Buku membuat hidup dan waktu yang saya lalui di Singapura lebih berarti dan bermakna. Saya tak pernah merasa bosan tinggal di negeri mungil ini sebab bukunya, sebab librarynya, yang nyaman; dengan koleksi up to date. Saya tak terlalu didera rindu tanah air dan kangen sanak saudara di Indonesia, sebab buku. Saya tak nelangsa jika tak bisa mudik asal ada buku. Saya tak lagi terlalu berhasrat mengejar salesale di Singapura sebab buku. Sale yang paling saya tunggu justru cuma satu, National Library Book Sale. Buku juga menjadi tempat istirahat usai mengerjakan pekerjaan rumah. Buku menjadi sumbat telinga ketika anak-anak bertengkar.

Saya semakin ‘gila’ buku sejak sekitar tiga tahun lalu tak ada lagi TV dalam rumah. Bagi saya lebih baik tak ada TV daripada tak ada buku.

Kegilaan saya akan buku makin meningkat sejak memiliki virtual library di Goodreads. Semangat saya membaca buku semakin menyala-nyala. Senang rasanya melihat koleksi buku di GR bertambah. Sedih rasanya melihat jutaan buku di GR yang belum saya baca. Ngapain aja saya selama ini sampai hanya secuil buku yang berhasil saya tamatkan? Akibatnya, jadwal anjang sana ke library semakin kerap saya lakukan. Tak ada yang lebih saya sedihkan jika harus meninggalkan Singapura nanti selain librarynya. Namun juga tak ada yang lebih menggembirakan jika pulang ke Indonesia  kelak sebab bukunya. Saya tak akan ketinggalan membaca buku-buku terbaru.


Saya berhutang budi pada sang penemu kertas. Paman Tsai Lun, xie-xie ni. Terima kasih untuk ide dan kerja kerasmu

Saya tak gundah pada sunyi, tak cemas pada ramai sebab ada buku yang setia menemani.

Saya hanya berharap memiliki lebih melimpah detik dan menit dan kesempatan untuk membaca buku.

Saya bahkan telah tahu apa yang akan saya lakukan kelak, ketika anak-anak dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri, ketika kerut-merut menghiasi kulit ari.

Saya telah tahu apa yang akan saya lakukan kelak…menggenggam sebuah buku dan melarutkan waktu bersamanya.


Singapore, menjelang akhir April 2010

Terimakasih telah membaca coretan sepanjang ini. Lega rasanya bisa berbagi rasa lewat kuis ini: http://bruziati.multiply.com/journal/item/178?mark_read=bruziati:journal:178&replies_read=52