A Comment For My Flash Fiction

Ada yang memberi komentar untuk Flash Fiction saya di Batam Pos Online. Ternyata sang pemberi komentar adalah tante saya. Hiyaaa…jadi malu. Tapi senang juga bacanya. Jadi tahu ‘hikmah’ yang di dapat seseorang ketika membaca coretan saya. Sengaja juga dipajang di sini supaya tidak hilang. Gapapa deh norak. Norak-norak bergembira :D.

Here it is:

#1 nani sagitha ns 2010-02-24 10:16

ya pembelajaran biar kita2 tdk termakan isue ..akhirnya merugikan diri sendiri.jantung yg berdetak kencang membuat peredaran darah yg terlalu cepat membahayakan jiwa …n yg d sayangkan hilang kesempatan makan nasi kuning bersama..hhhhh
yg pasti kita terlihat …

Advertisements

[KOPDAR] Mati Kutu di Depan Helvy Tiana Rosa

Siapa yang tidak tahu Helvy Tiana Rosa? Penyuka fiksi Indonesia pasti tahu beliau. Termasuk saya. Sudah lama saya kenal beliau lewat buku-buku hasil karyanya. Rasanya seperti mimpi jika suatu hari bisa bertemu. Maka, saya tidak mau bermimpi. Ketika akhirnya bisa menjumpai beliau meski cuma lewat dunia maya (yakni milis FLP), duuuh…perasaan saya melambung saking senangnya.  Jadi, saat saya benar-benar bersua dengannya di suatu hari di Singapore. Saya terpana, mimpi itu nyata. Saya bertukar pandang dengan sang HAMASAH!

Ternyata pertemuan itu bukan pertemuan terakhir. Saya kopdar lagi dengan beliau di sekitar tahun 2007. Kopdar yang tidak biasa sebab tidak hanya diisi oleh ngobrol-ngobrol dan makan-makan, melainkan sharing knowledge. Mba Helvy menyempatkan waktunya untuk berbagi soal kepenulisan bersama saya dan teman-teman di Singapore. What a wonderful KOPDAR kan? .

Jadi, begini ceritanya:

Alhamdulillah Kamis (3 tahun lalu) lalu kami berkesempatan bertemu dengan ‘pentolan’nya komunitas penyuka buku dan tulis menulis, FLP. Siapa lagi kalau bukan Helvy Tiana Rosa? Bertempat di Masjid Istiqomah KBRI Singapura, mba Helvy duduk bersila dihadapan kami, emak-emak sibuk dan PLRT. Bagaimana tidak sibuk, pergi ke acara sambil menuntun anak-anak. Ada yang bawa satu anak, dua anak bahkan tiga anak. Belum mulai acara, sudah kucing-kucingan sama anak. Lengah sedikit, sang anak yang masih balita, melesat menghampiri pinggiran tangga. Bikin jantung berolahraga, tapi ada gunanya juga karena membakar sedikit kalori saya, makasih ya Nak.

Acara bincang-bincang bersama mba Helvy didahului dengan pembukaan oleh Bpk. Lanang, staf di KBRI Singapura. Pak Lanang dapat oleh-oleh buku dari mba Helvy euy, dua pula (dilarang sirik ah!). Berikutnya, Mba Helvy langsung mengisi waktu dengan obrolan seputar penulisan. Meski ditingkahi suara nyaring anak-anak, para ibu dan calon ibu serta PLRT yang hadir tetap menyimak dengan antusias.

Meski lebih banyak lari-lari mengejar jagoan saya daripada mendengarkan dengan khusyu, saya tetap berusaha pasang telinga. Inginnya tidak melewatkan sepatah katapun yang disampaikan mba Helvy, tapi apa daya. Hanya secuil yang saya ingat. 

Menurut mba Helvy, biasanya seseorang sulit menulis karena merasa tidak punya ide. Padahal ide bisa didapatkan darimana saja, terutama dari membaca. Membaca maksudnya bukan hanya membaca buku, tapi membaca semesta. Contoh sederhana, disamping Mba Helvy saat itu, ada sekotak Teh Sosro. Beliau mengangkat tinggi-tinggi teh kotak itu. “Ada bertrilyun cerita yang bisa ditulis dari membaca sekotak teh Sosro ini.” seru beliau. Membaca seseorang. Membaca majikan. Membaca daun (nah lho, bagaimana tuh membaca daun?).

Mba Helvy memberi beberapa tips agar kita terbiasa menulis. Sayang saya lupa urutannya. Yang pertama, baca, seperti yang sudah dijelaskan tadi. Berkorespondesi. Berdiskusi. Kalau bisa mengakses internet dengan mudah, menulislah di blog. 

Mba Helvy juga bercerita masa kecilnya lho, ketika dia menjawab pertanyaan seorang ibu tentang membiasakan menulis pada anak. Ternyata, beliau bisa seperti sekarang karena didukung oleh lingkungan yang kondusif untuk menjadi seorang penulis. Padahal hidup Helvy kecil adalah 7S alias sangat sangat sangat sangat sangat sangat sederhana. Ditengah kesederhanaan dan kesulitan hidup, orangtuanya tetap mengupayakan buku untuk mereka. Ibunya selalu mendongeng untuknya. Dan setiap malam, Mba Helvy selalu melihat ibunya menulis.

Sedangkan tentang Faiz, anaknya yang cemerlang itu, beliau dengan rendah hati bilang, tak ada bedanya dengan orangtua yang lain dalam mendidiknya. Hanya memang, beliau dan suaminya membiasakan diri untuk ekspresif dalam membahasakan cinta. Baik antara dirinya dengan suaminya maupun mereka dengan Faiz. Dimulai sejak Faiz kecil. Dari mulut mungil Faiz sering keluar kalimat-kalimat yang mencengangkan sehingga Bundanya berkesimpulan Faiz seorang anak yang cerdas kata.

Beralih lagi ke soal penulisan, Mba Helvy bilang setiap orang punya gaya penulisan masing-masing. Dan tidak ada yang bisa membuat seseorang mahir menulis selain latihan. Meskipun ibunya, neneknya, buyutnya bukan seorang penulis, dengan latihan, seseorang bisa menjadi penulis. Juga sebaliknya, walaupun bapaknya seorang penulis, belum tentu anaknya bisa menulis.

Oya, kalau ada yang bilang pekerjaan penulis adalah pekerjaan penghayal, tidak perlu sedih, malu, marah karena menurut Mba Helvy menulis memang kerja kreatif yang membutuhkan khayalan. Terserah orang mau bilang apa, buktikan saja dengan hasil tulisan kita. Terserah orang mau memberi penghargaan atau penghinaan, hanya satu yang perlu kita punya untuk tetap menulis. Kekuatan tekad.

Ah…mati kutu saya di depan Helvy Tiana Rosa. Malu.

Tulisan lama yang diposting ulang untuk meramaikan lomba menulis bertema KOPDAR yang diadakan oleh http://bundaelly.multiply.com