2009: Tahun Kuis dan Lomba Menulis

Ini tahun yang menggairahkan.

Setidaknya itulah yang saya rasakan sejak berkecimpung di dunia tulis menulis dan sejak saya nyemplung di MP.
Jika dulu saya mendapat informasi undangan menulis dari milis-milis penulisan yang saya ikuti. Sekarang saya bisa mendapatkannya dari teman-teman di MP. Lebih banyak. Lebih bervariasi.
Jika dulu saya menulis dengan tujuan diterbitkan, sekarang masih sama sih, ingin menerbitkan buku juga, tapi saya mulai ikut-ikutan lomba. Meski ‘hanya’ lomba menulis skala kecil tapi merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Dari beberapa lomba yang saya ikut itu, sebagian berhasil saya menangi. Efeknya, saya kecanduan lomba menulis dan kuis-kuis :D.

Kalau suhu saya (Teh Rinurbad) dan suhu-suhu yang lain seperti Teh Arynsis, Teh Tethy Ezokanzo, Mba Aan dll (mohon maaf mengaku-ngaku murid tanpa dilantik lebih dulu :D) mempunyai deret panjang karya-karya mereka yang terbit tahun 2009, maka saya cuma bisa nyungsep dibalik bantal. Menyadari amal saya yang tidak ada seujung kuku dibanding mereka. Padahal, katanya saya ingin terjun bebas di kepenulisan, nyatanya…
Rasa PD saya yang akut tiba-tiba jadi mengkerut, lisut lalu hanyut terhembus angin yang berkesiut-kesiut. Maka, tak jadilah saya tuliskan ‘karya’ saya yang pernah terukir di tahun 2009 karena memang masih jauh dari berprestasi. Mudah-mudahan di tahun 2010, saya tetap bisa menulis dan menghasilkan karya seperti mereka, para suhu saya.

Ah ya, saya hidangkan saja satu tulisan saya yang saya ikutkan di lomba memberi ilustrasi foto. Lomba ‘kecil-kecilan’ yang diadakan oleh salah satu MPer di sini http://wayanlessy.multiply.com/photos/album/313/iseng-iseng_berhadiah_sampul_buku_Judulnya_apa_ya_Bagaimana_ilustrasinya_ya

Ternyata, tulisan saya yang berjudul Pasangan Sunyi merebut hati ‘juri’, sang wanita Bali dan layak mendampingi foto hasil jepretannya yang ciamik 🙂


PASANGAN SUNYI
Oleh: Yudith Fabiola

Aku patah. Terbelah. Berdarah
Namun, kau bergeming pongah.
Tapi, bukankah kita memang demikian?
Kita bahagia dalam senyap. Dalam hening
Kita sumringah tanpa aksara. Tanpa alinea.

Foto oleh: Wayan Lessy