Perjalanan Panjang Royalti

Tidak terasa sudah lima tahun saya merintis karir penulisan *adeuh, serasa penulis aja :D. Yah, setidaknya saya menulis di Multiply kan?*

Ketika memutuskan untuk sungguh-sungguh ‘berenang di dunia ini’, saya tidak memusingkan soal kompensasi atas tulisan saya itu. Saya menulis karena saya suka, saya ingin ‘menjadi saya’, saya ingin berguna. Tidak terpikir tentang hadiah, honor apalagi royalti. Maka, ajakan-ajakan menulis saya ikuti. Menulis untuk antologi kasih yang honornya untuk menyumbang apalah, hayuuuk. Menulis untuk penerbit baru yang penuh idealisme ingin mencerdaskan anak bangsa, meski penulisnya ‘tidak dapat apa-apa’, mariii. Menulis untuk lomba yang hadiahnya ‘cuma buku’, okeee.

Sampai suatu hari saya tersentil oleh kata-kata seseorang, “Dapat apa dari menulis?”
Saya tersentak. Hey, saya dapat banyak, tau! Protes yang hanya terlontar dalam hati, sejatinya upaya membela diri saja sebab kalimat yang meluncur dari mulut orang itu membayangi hari-hari saya.
Dapat apa dari menulis?
Dapat kepuasan.
Beroleh kebahagiaan.
Tapi, bukan itu yang dimaksud olehnya.
Materi, itulah pesannya.
Penulis kok materialistis? Saya menolak idenya. Menulis bukan untuk materi. Titik. Tapi, lama direnungkan, justru saya yang egois ketika menganggap materi tak penting bagi penulis.

Adalah saya yang menulis karena mengisi waktu luang, karena ingin mencoba sesuatu yang berbeda, karena…karena-karena lainnya. Yang jelas bukan karena mencari penghasilan utama untuk kesinambungan dapur saya. Nah, bagaimana dengan penulis yang ‘menggantungkan’ hidupnya dari untaian aksara yang disusunnya? Teori saya tentang materi tak penting bagi penulis, terpatahkan oleh kenyataan ini.

Jadi, bukan materialistis jika penulis ingin rupiah untuk tulisan-tulisan yang ia rilis.

Problemnya, perjalanan materi hak si penulis tidak selalu mengalir lancar. Prosesnya sungguh panjang. Bermula dari penyerahan naskah ke penyusun naskah atau ke penerbit hingga royalti terparkir di nomor rekening. Ada yang dalam hitungan bulan, tidak jarang makan masa tahunan. Secara nominal pun, tidak selalu ‘menguntungkan’ penulis. Hanya segelintir penulis yang ‘kualitas hidupnya’ membaik berkat bilangan angka royalti. Mengajukan naskah ke penerbit saja seperti berada di arena judi. Penulis bermain dengan harapan. Akankah tulisannya diterima? Jika ya, bagaimana pasar menerimanya? Akankah best seller? Penulis hanya bisa menunggu dan…berdoa.

Dari sepuluh antologi dalam lima tahun ini *huh, tidak produktif!* hanya setengahnya yang memberi saya kompensasi materi. Saya tidak menyesal, sungguh! Saya hanya teringat pada penulis-penulis yang dompetnya hanya bisa tebal dari kucuran royalti. Langkah royalti tersendat-sendat sedangkan perjalanan kehidupan melesat tanpa rehat. Penulis membutuhkan uang untuk biaya susu dan popok anaknya, untuk membayar perawatan penyakitnya, untuk tagihan listrik, telepon dan internet yang jadi tumpuan pekerjaannya. Dan perjalanan panjang royalti menjadi ‘duri’ sehingga penulis harus jeli mencari pintu samping untuk menafkahi orang-orang dalam payung kehidupannya.

Cuma celoteh di pagi hari…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s