Buku Untuk November

Ternyata, 15 buku dari 23 buku yang saya baca bulan ini adalah buku anak-anak!
Lumayanlah untuk pelajaran bahasa Inggris :D.
Buku anak-anak yang itu tuuuh. Ya, betul! Yang ditebalkan hurufnya.

1. The Messenger UYET, JAF – TUTEH – SA

2. Dongeng Semusim Khairil, Sefryana

3. The Old Man and the Tree Wisenfeld, Vicki

4. The Rich Man and the Shoemaker Fontaine, Jean de La

5. Wishbones: A Folk Tale from China Wilson, Barbara Ker

6. How the Birds Got Their Colours: An Aboriginal Story Albert, Mary

7. Perfect Pancakes If You Please Wise, William

8. Princess Pearl Andreae, Giles

9. Yikes, It’s a Yeti! Wallace, Karen

10. The Amazing Trail of Seymour Snail Hazen, Lynn E.

11. We Are All Born Free: The Universal Declaration of Human Rights in Pictures International, Amnesty

12. Horned Lizards Sirota, Lyn A.

13. La Princesa Dragon/the Loathsome Dragon Wiesner, David

14. The Ugly Duckling Andersen, Hans Christian

15. Pandaya Sriwijaya Herwibowo, Yudhi

16. Yin Galema Sancin, Ian

17. Nyai Dasima: Tragedi wanita asal Desa Kuripan Ali, Rahmat

18. Dongeng Untuk Seorang Wanita Redana, Bre

19. Harry with Spots on Powling, Chris

20. Perahu Kertas Dee*

21. Here Comes the Night Rockwell, Anne F.

22. In November Rylant, Cynthia

23. Long Night Moon Rylant, Cynthia

Advertisements

Perjalanan Panjang Royalti

Tidak terasa sudah lima tahun saya merintis karir penulisan *adeuh, serasa penulis aja :D. Yah, setidaknya saya menulis di Multiply kan?*

Ketika memutuskan untuk sungguh-sungguh ‘berenang di dunia ini’, saya tidak memusingkan soal kompensasi atas tulisan saya itu. Saya menulis karena saya suka, saya ingin ‘menjadi saya’, saya ingin berguna. Tidak terpikir tentang hadiah, honor apalagi royalti. Maka, ajakan-ajakan menulis saya ikuti. Menulis untuk antologi kasih yang honornya untuk menyumbang apalah, hayuuuk. Menulis untuk penerbit baru yang penuh idealisme ingin mencerdaskan anak bangsa, meski penulisnya ‘tidak dapat apa-apa’, mariii. Menulis untuk lomba yang hadiahnya ‘cuma buku’, okeee.

Sampai suatu hari saya tersentil oleh kata-kata seseorang, “Dapat apa dari menulis?”
Saya tersentak. Hey, saya dapat banyak, tau! Protes yang hanya terlontar dalam hati, sejatinya upaya membela diri saja sebab kalimat yang meluncur dari mulut orang itu membayangi hari-hari saya.
Dapat apa dari menulis?
Dapat kepuasan.
Beroleh kebahagiaan.
Tapi, bukan itu yang dimaksud olehnya.
Materi, itulah pesannya.
Penulis kok materialistis? Saya menolak idenya. Menulis bukan untuk materi. Titik. Tapi, lama direnungkan, justru saya yang egois ketika menganggap materi tak penting bagi penulis.

Adalah saya yang menulis karena mengisi waktu luang, karena ingin mencoba sesuatu yang berbeda, karena…karena-karena lainnya. Yang jelas bukan karena mencari penghasilan utama untuk kesinambungan dapur saya. Nah, bagaimana dengan penulis yang ‘menggantungkan’ hidupnya dari untaian aksara yang disusunnya? Teori saya tentang materi tak penting bagi penulis, terpatahkan oleh kenyataan ini.

Jadi, bukan materialistis jika penulis ingin rupiah untuk tulisan-tulisan yang ia rilis.

Problemnya, perjalanan materi hak si penulis tidak selalu mengalir lancar. Prosesnya sungguh panjang. Bermula dari penyerahan naskah ke penyusun naskah atau ke penerbit hingga royalti terparkir di nomor rekening. Ada yang dalam hitungan bulan, tidak jarang makan masa tahunan. Secara nominal pun, tidak selalu ‘menguntungkan’ penulis. Hanya segelintir penulis yang ‘kualitas hidupnya’ membaik berkat bilangan angka royalti. Mengajukan naskah ke penerbit saja seperti berada di arena judi. Penulis bermain dengan harapan. Akankah tulisannya diterima? Jika ya, bagaimana pasar menerimanya? Akankah best seller? Penulis hanya bisa menunggu dan…berdoa.

Dari sepuluh antologi dalam lima tahun ini *huh, tidak produktif!* hanya setengahnya yang memberi saya kompensasi materi. Saya tidak menyesal, sungguh! Saya hanya teringat pada penulis-penulis yang dompetnya hanya bisa tebal dari kucuran royalti. Langkah royalti tersendat-sendat sedangkan perjalanan kehidupan melesat tanpa rehat. Penulis membutuhkan uang untuk biaya susu dan popok anaknya, untuk membayar perawatan penyakitnya, untuk tagihan listrik, telepon dan internet yang jadi tumpuan pekerjaannya. Dan perjalanan panjang royalti menjadi ‘duri’ sehingga penulis harus jeli mencari pintu samping untuk menafkahi orang-orang dalam payung kehidupannya.

Cuma celoteh di pagi hari…

Pemandangan Keren Kedua Kalinya

Sering melihat gerombolan orang menanti pembagian sembako gratis? Beberapa kali di TV, ya kan?

Pernah melihat gerombolan orang menunggu pintu gerbang perpustakaan di buka? Nah, ini pemandangan langka yang baru dua kali saya lihat sejak hampir satu dasawarsa tinggal di Spore. Di kemudian hari saya tahu pemandangan itu langka karena saya membandingkannya dengan tanah air. Sementara di Spore, pemandangan itu sudah biasa.

Pekan kemarin saya jalan ke library. Benar-benar jalan kaki dari rumah. Lumayanlah jalan barang ratusan meter, sekalian olahraga. Saat itu sudah lewat waktu Dzuhur. Matahari Spore yang biasanya terik, kemarin nampaknya rehat sejenak. Cuaca mendung, angin bertiup semilir, enaklah untuk jalan kaki. Meski begitu, saya ingin cepat sampai ke library. Duduk di salah satu sudut dalam ruangan yang sejuk ber-AC.

Mendekati library, saya lihat gerombolan orang memenuhi pintu utama library. Ada yang duduk berselonjor di koridor, ada yang jongkok, ada yang bersandar ke tiang. Eh, ada apakah? Bukankah sekarang sudah jam 2 lebih? Seharusnya library sudah buka dong. Jadi, ini gerombolan orang yang melakukan aksi apa? Demo? Demo di Spore? Menuntut apa? Ternyata Sabtu kemarin, library buka lebih siang, entah karena apa. Dan gerombolan orang tadi adalah orang-orang yang menunggu pintu library dibuka. WOW! Sungguh pemandangan langka bagi saya. Jarang-jarang kan lihat orang antusias mengunjungi library seperti antusiasnya orang menanti jatah sembako atau antusiasnya orang menyerbu sale di mall?

Itu belum selesai. Ketika pintu dibuka, mereka masuk dengan tertib dan…mereka disambut oleh pegawai-pegawai perpustakaan yang berbaris layaknya pagar ayu di acara pengantin. Benar-benar penyambutan yang luar biasa terhadap ‘rakyat biasa’ untuk rutinitas yang sudah biasa.
Nah…yang begini ini yang bikin betah tinggal di Spore. Librarynya jadi oase untuk orang-orang penyuka buku-buku terbaru, best seller, terbitan luar, terbitan bahasa Indonesia tapi…ga perlu keluar banyak duit 😀
Sayangnya saya bukan orang yang bersahabat dengan kamera jadi tidak terabadikanlah pemandangan keren tadi.