Berapa Buku Di September?

Duh…udah akhir september aja!
Jadi ingat untuk menuliskan buku-buku (fiksilah, apalagi? :D) yang dibaca selama bulan September. Secara nominal ga banyak, tapi angka yang terekam di Goodreads, menunjukkan bulan ini buku yang dibaca lebih banyak dari bulan lalu. Jadi, tetap September cerialah judulnya :D.

1. Bliss (Livaneli, O.Z.)***
Tertarik sama covernya, maka dibeli. Penulisnya cukup berani mengangkat masalah ‘sensitif’ salah satu budaya di sebuah tempat di Turki.

2. Corat Coret di Toilet (Kurniawan, Eka)***
Kumpulan cerpen yang kubeli di library book sale. Salut banget dengan ide cerpen Corat Coret di Toilet! Hebat deh penulisnya. Jeli menangkap kejadian biasa, sederhana dan terpampang di depan mata menjadi cerpen ciamik!

3. Don’t Look Now (Briant, Ed)***
Buku anak-anak.
Bener ya, jadi penulis cerita fantasi anak tuh harus kuwaya imajinasi.

4. Merjan-merjan Jiwa (Effendi, Kurnia)***
Jalinan ceritanya sinetron pisan. Tapi, sinetron yang islami. Lumayan menghiburlah.

5. Travelers’ Tale, Belok Kanan: Barcelona! (Mulya, Adhitya*, dkk)***
Aditya Mulya memang jagonya ‘ngocol’ ya? Tulisannya bikin sakit perut karena ketawa (bukan karena ngerujak). Baca buku ini, jadi membandingkan dengan Negeri Van Orange. Menurut saya NVO lebih unggul dalam beberapa hal seperti karakter tokoh dan jalan cerita.

6. Sumpah Ompong Di Sekolah (Mulchias, Asa)****
Sumpah, lucu banget! Padahal covernya pake gambar pocong. Pocong ompong, hihi. Angkat topi (pinjem topi anak dulu) untuk Asa. Dia penulis hebat. Fiksi, nonfiksi, berbahasa Indonesia atau English, semua bisa. Soklah pada baca! ๐Ÿ˜€

7. Ketika Cinta Bersujud (al-Kailani, Najib) **1/2
Katanya kisah perjuangan cinta. Tapi, cinta siapa pada siapa ya? Ada yang sudah baca?

8. Butterfly Dream (Quddous, Ihsan Abdel)***
Tentang pencarian jati diri yang berujung pada pemahaman akan kebebasan yang salah kaprah.

9. Thumbelina (Little Golden Book)- Kassirer, Sue***
Buku anak anak. Tentang Barbie yang berperan sebagai Thumbelina. Tahu sendirilah jalan ceritanya Barbie hehehe.

10. Fandi Penjual Kue (Tri, Ryu)****
Ryu, tulisanmu bagus! Anak saya suka minta saya membacakan buku ini sebelum tidur ๐Ÿ™‚

11. Don’t Talk to Strangers, Pooh! (Zoehfeld, Kathleen W.)****
Pesan-pesannya bukan cuma baik untuk anak-anak, tapi juga untuk orangtuanya-tantenya-pengasuhnya anak-anak ๐Ÿ˜€

12. Pitaloka: Cahaya (Tasaro)****
Ahhhhhhhhhhh…akhirnya! Saya bisa menuntaskan penasaran pada PITALOKA-CAHAYA. Dududu…baguuusss. Suka banget dengan fiksi sejarah. Jadi berkhayal, bisaaa ga ya saya menulis fiksi sejarah sebaik TASARO? Atau SINTA YUDISIA? Atau AFIFAH AFRA? Mimpi dulu kali yeee ๐Ÿ˜€
Pingin baca PITALOKA-MAHKOTA, tapi dimana bisa mendapatkannya? Nyari di google ga ketemu ๐Ÿ˜ฆ

13. Cool Crustaceans (Ayesha Abdullah Scott)****
Buku pengetahuan Islami bilingual, Melayu dan Inggris. Buku anak-anak. Anak saya juga suka dibacakan, berkali-kali ๐Ÿ™‚

14. dll buku anak-anak yang dibaca lebih dari sekali ;))

Yah…sedikit buku saja di September ceria, seceria Syawal yang mengawal sebagian Oktober ๐Ÿ™‚

Advertisements

[ACEH] Catatan Pelangi Pengabdian di Blang Pidie

Catatan Pelangi Pengabdian di Blang Pidie

(oleh: Yudith Fabiola)

Bandung, November 2006

Hadiku masih demam. Namun, keberangkatan tim dokter PTT Jabar tak bisa ditunda lagi. โ€œKau harus kuat, Sayang, seperti para pahlawan di tanah itu,โ€ bisikku padanya, โ€œKita akan terbang ke negeri para syuhada besok,โ€ kukecup keningnya. Panas. Kuhela napas. Semoga ada keajaiban besok.

Kudekap suamiku erat. Perpisahan ini memang sementara karena ia akan segera menyusulku sebulan kemudian. Kepergianku pun tak sendiri. Ada ibu dan khadimat yang menemani. Namun, pindah ke tempat yang sama sekali asing sambil memboyong putra pertama kami yang baru 6 bulan, terasa berat. Kukuat-kuatkan hati. Menahan airmata yang siap meluncur sedari tadi.

Sriwijaya Air membelah angkasa. Mendaratkan kami sementara di Polonia Medan untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan utama. Hadiku tertidur pulas selama perjalanan. Dan…oh, demamnya tertinggal di tanah Jawa. Kulantunkan tasbih lalu mengusap keningnya yang tak lagi membara.

Paman Ibrahim, sahabat ayahku, menyambut kedatangan kami di bandara Iskandar Muda, Aceh. Bandara yang kecil dan serba terbatas. Selama dua hari kami menginap di rumah Paman Ibrahim. Hari pertama kupakai untuk mengurus surat-surat dan biaya perjalanan ke DINKES. Sungguh, hari yang melelahkan. Di hari kedua Paman mengajak kami berkeliling Banda Aceh. Menapak tilas tempat-tempat pasca tsunami. Berkali kulihat mata Paman mengembun ketika ia menceritakan teman-temannya yang hilang tergerus amuk gelombang. Hatiku pun selalu bergetar setiap teringat katastrofa tsunami.

Perjalanan sesungguhnya kumulai esok hari. Berangkat menuju tempat mengabdi, Blang Pidie. L300 membawa kami menuju ibukota kabupaten Aceh Barat Daya lewat jalur Guhang. Seharusnya bisa melalui jalur pantai barat namun karena porak-poranda oleh tsunami dan belum selesai direnovasi maka perjalanan yang seharusnya 7 jam, kami tempuh selama 12 jam! Beruntung, pemandangan menuju Blang Pidie menakjubkan. Perpaduan antara jurang, sawah, pegunungan, sungai-sungai yang lebar pun panjang. Dan airnya, duhai…alangkah jernihnya. Penat yang menyengat terbabat oleh pemandangan indah dan udara yang segar.

Disinilah aku kini. Blang Pidie, ibukota kecamatan Aceh Barat Daya. Sebuah kota kecil. Tak terlalu ramai. Tanpa kemacetan, bahkan tanpa lampu merah. Beberapa kecamatan yang jauh dari kota terlihat kosong. Benar-benar lahan kosong. Hanya ditumbuhi tanaman liar. Blang Pidie memang belum semeriah Meulaboh di Aceh Barat ataupun Pidie, Bireun dan Lhoksumawe di Aceh Utara. Sebab Blang Pidie adalah kota kecil yang lahir dari pemekaran Kabupaten Aceh Selatan. Kebanyakan penduduk bermatapencaharian PNS dan pedagang. Sedangkan penduduk di kecamatan sekitar Blang Pidie bekerja sebagai petani. Para wanitanya berladang juga berjualan.

Blang Pidie, Maret 2007

RSUD Tipe D tempatku kini membaktikan ilmu. Rumah sakit yang minim peralatan. Tanpa fasilitas laboratorium tes darah, hanya laboratorium tes urine. Tanpa radiologi dan ruang operasi. Bagaimana akan mendapat diagnosa akurat untuk penyakit-penyakit berat semacam DB dan TB kalau peralatan tidak memadai?

Suatu saat sedang musim sakit demam berdarah. Banyak pasien suspect demam berdarah dari hasil pemeriksaan tes Rumple Leed (bendungan). Mungkin sekitar 70 pasien. Mereka dirawat berhari-hari. Bahkan perlu mendirikan tenda untuk merawat mereka. Ketika datang fasilitas cek laboratorium dari DINKES, pasien-pasien tadi dicek darah. Hasilnya? Yang sakit DB cuma 1 orang. Duh…andai diketahui dari awal, tak perlu sampai heboh mendirikan tenda.

Aku tidak seharian penuh bekerja di rumah sakit. Melainkan bergantian jaga. Pagi, siang atau malam. Di masa-masa awal bertugas, aku dan rekan sejawatku menangani semuanya: poliklinik hingga pasien-pasien UGD. Terbayang kan betapa hebohnya jika harus menangani pasien poliklinik dan UGD secara bersamaan?

Ada sebuah pengalaman yang melekat terus dibenakku hingga kini. Aku sedang shift siang ketika tiba-tiba pasien datang berombongan. Empat orang. Dua orang dalam keadaan meninggal. Dua orang lagi menunjukkan gejala yang sama: muntah, kejang-kejang, pupil mengecil, denyut jantung melambat. Setelah kuanamnesa, kemungkinan disebabkan keracunan makanan. Namun, aku belum pernah menemukan kasus ini sewaktu koass dulu. Oh Allah…apa yang harus kulakukan? Akhirnya kurawat para pasien tersebut sepengetahuan dan sebisaku saja. Dari dokter spesialis penyakit dalam kuketahui bahwa pasien-pasien itu keracunan organophosphate (zat yang biasa dipakai untuk insektisida). Setelah diberi antidotumnya, kondisi pasien terlihat membaik, walaupun akhirnya salah satu meninggal karena terlalu banyak kejang. Aku sangat menyayangkan hal ini. Andaikan penanganan bisa lebih cepat dan tepat…

Ada hal lain yang kuperhatikan selama aku tinggal disini yakni perkara mistik, takhayul dan khurafat yang ternyata masih akrab dengan keseharian masyarakat. Penyakit keyakinan ini merambah semua strata. Tidak pandang tingkat pendidikan ataupun status sosial. Aku jadi teringat anak paman Ibrahim. Ia lulusan S1. Sebelum aku pergi ke Blang Pidie, ia berpesan agar aku membawa bawang putih supaya di jalan tidak โ€˜digangguโ€™, terutama menjelang memasuki daerah Aceh Barat (Meulaboh) yang tersohor praktek sihir dan perdukunannya. Aku pun teringat pada tetanggaku. Seorang gadis berjilbab lulusan teknik universitas ternama di Aceh. Suatu hari dia sakit. Saat menjenguknya, kudapati bawang putih di atas Al-Qurโ€™annya. Tentunya tidak mungkin ia salah meletakkan bawang di situ, kan? Bahkan owner tempatku bermalam di awal-awal ketibaanku di Blang Pidie mengatakan bahwa dalam sebulan itu dibagi 4 minggu. Masing-masing ada peruntungannya. Ada satu minggu yang harus dihindari jika mau melakukan hal-hal tertentu, karena kalau melakukan sesuatu di minggu tersebut hasilnya tidak akan baik atau gagal. Dan katanya, kami masuk dan pindahan kontrakan dahulu, d
i saat minggu โ€œlangkahโ€. Minggu yang cukup baik, menurutnya. Dari berbagai penyakit yang pernah kutangani selama mengabdi disni, ‘penyakit’ inilah yang paling kukhawatirkan. Yang membuatku gundah berkepanjangan. Ingin rasanya melakukan sesuatu untuk membersihkan penyakit aqidah ini, namun apa dayaku? Pada akhirnya, hanya doa yang bisa kupanjatkan ke hadiratNya agar Allah mengampuni dan menuntun saudara-saudaraku disini supaya tidak menduakanNya dengan perbuatan syirik. Kuharap dahsyat tsunami bertahun silam menjadi pelajaran untukku dan mereka. Kuharap tidak perlu tsunami jilid dua untuk sekedar menerangi hati-hati yang berkubang dalam kegelapan.

Ada lagi penyakit lain yang sering kujumpai. Penyakit karena tingkat stres tinggi. Beberapa kasus percobaan bunuh diri, biasanya dilakukan gadis remaja. Ada yang coba minum obat overdosis, minum Baygon. Juga penyakit-penyakit yang berhubungan dengan stress seperti maag, hiperventilasi (sesak dan nafas cepat tanpa kelainan paru-paru pun jantung) dan…kerasukan!

Blang Pidie, Awal Oktober 2007

Tiba saatku mengucapkan saleum pada kota ini. Suka sekaligus duka. Suka karena akan menginjakkan kaki lagi di Bandung, tanah kelahiranku. Tapi juga duka. Blang Pidie menawanku dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Penduduk Blang Pidie ramah. Belum lagi jika kuingat tetangga sebelah dan depan rumah yang sering mengirim makanan. Cik Lena kirim ikan, kak Jar kirim sayur. Bergantian Cik Lena, Kak Jar dan Bu Nur kirim taโ€™jil untuk kami berbuka. Kak Jar bahkan ikut membantu menjaga Hadi jika suamiku harus mengantarku ke rumah sakit. Hadi senang bermain dengan sahabat kecilnya, Ririn dan Alfi, anak-anak kak Jar. Kenangan akan mereka membuat arimataku menitik.

Meninggalkan Blang Pidie berarti meninggalkan kenangan pelangi. Merah, kuning, hijau bahkan hitam dan abu-abu. Pelangi yang mendewasakan kami. Menjembatani kami kepada Allah Rabb Semesta. Menyaksikan jejak KuasaNya tentang negeri yang penduduknya pernah di’sapa’ dengan teguranNYA yang keras…

Blang Pidie, beujeut meurumpoek lom…

Coretan yang ditulis berdasarkan penuturan seorang dokter PTT yang ditempatkan di Blang Pidie, Abdya. Terimakasih untuk dek AKP Yudi atas bahasa Acehnya.
Coretan ini meramaikan “ Lomba Menulis tentang Aceh”

Merayu Itu Sulit, Jendral!

Mengikuti voting pemilihan pemenang Lomba Menulis Paling Ajaib Abad Ini membuat saya jadi berempati pada mereka yang berprofesi sales. Terlebih sales skala kecil, yang biasa mendatangi rumah ke rumah atau yang menghampiri kita ketika kita sedang di mall, di jalan atau di pasar. Tidak sedikit yang menolak produk mereka sejak awal. Tapi, ada juga yang melayani promosinya meski ga jadi beli produknya. Ada juga yang akhirnya membeli. Entah karena kasihan sama si sales, ingin cepat pergi atau sedang kelebihan uang. Pendeknya merayu konsumen untuk membeli produk si sales itu tidak mudah.

Begitu juga yang saya alami seminggu terakhir ini. Mendulang suara dari rekan-rekan MPers itu tidak gampang. Ada yang langsung klik link diatas tanpa minta penjelasan dulu. Pokoknya loyal banget dah, langsung pilih saya. Baca tulisan saya pun belum :D. Ada yang mikir-mikir dulu, terus milih. Ada juga yang sudah baca dan tidak milih. Ihiks. Gapapa sih. Namanya hak pemilih, bebas-bebas ajalah mau milih kontestan pujaannya. Ya gak?

Selain itu, kesulitan saya pun tidak sebandinglah dengan kesulitan sales keliling itu. Mereka terpapar terik matahari, mungkin juga terkena tempias hujan, atau harus mendorong motor karena kehabisan bensin. Kalau saya cuma duduk depan komputer. Terlindung dari panas dan hujan. Tinggal ketak-ketik-ketak-ketik. Merayu (merayu tanda kutiplaaaahhh)-memelas-memaksa-menodong para contact lewat tulisan. Terus send. Tunggu jawaban. Positif? Berarti milih tulisan saya ๐Ÿ˜€

Tapi, teuteuuub saya jadi tahu bahwa merayu itu sulit, Jendral!

*trus jendralnya bilang: ngapain bawa-bawa nama saya? yang sulit situ!…xixixi*

Jadi, tahu kan maksud saya nulis ini?
Iyaaa.
Bennnerr!
Cukup kllik link di atas, terus copast ini http://annidalucu.multiply.com/journal/item/233 letakkan kolom reply.
Satu suara sangat berarti, teman! ๐Ÿ™‚

Ah…merci.

Kepincut Lomba Menulis Daripada Gosip Artis

Sudah beberapa hari ini, saya mendadak tidak peduli dengan detikhot :D. Saya tidak tahu siapa artis yang mau cerai, siapa yang mau nikah, siapa yang baru melahirkan. Blank ๐Ÿ˜€
Apa pasal? lomba menulis paling ajaib abad inilah yang punya pasal

Klik saja link itu. Lebih asyik mengamati perkembangan hasil voting di link itu daripada kolom gosip. Acara idol-idol juga lewat dah! :D.

Sekarang posisi 5 besar bisa berubah sewaktu-waktu. Jadi, saya yang sudah dalam lingkaran 5 besar kandidat yang akan mendapat peta tidak boleh jingkrak-jingkrak dulu. Segalanya masih bisa berubah. Huhu serem, padahal pingin pisan peta dan satu paket buku traveling plus hadiah lainnya tentu.

Maka, dengan memohon-meminta-memaksa-menodong (lho?) sudilah teman-teman menyumbangkan suara lewat ID teman-teman atau ID anaknya-istrinya-tantenya-ibunya-mertuanya-tetangganya *maruk niy :D* untuk memilih no.10 http://annidalucu.multiply.com/journal/item/233 di kolom reply link di atas.

Haturnuhun, xie-xie, gracias yaaa .

Lomba Menulis Paling Ajaib Abad Ini

Dari sekian banyak lomba menulis yang saya ikuti di jagat multiply, baru kali ini bertemu dengan lomba menulis paling ajaib plus kocak abad ini :D.
Sebenarnya, lombanya biasa. Normal :D.
Tapi proses pemilihan pemenangnya itu lho yang ruarrrr biazaaa. Pemilihan pemenang bukan ditentukan oleh sang penyelenggara lomba aka presiden MP Indonesia aka jeng Ari. Tapi diserahkan ke keyboard para MPers.

Para finalis pun berlomba-lomba mengumpulkan suara. Berbagai cara dilakukan untuk menggemukkan suaranya. Kitik-kitik sana, tuwal-towel sini. Kampanye di blog, menghimbau di note. Ha ha, seruuuu!
Bukan cuma itu, ada yang merayu voter untuk memilih dirinya dengan imbalan suvenir, hhihi, mantab abis manuvernya. Yang paling ajaib namun menyenangkan adalah beberapa finalis menghibahkan suaranya untuk finalis lain! Wooowwww, langka tapi nyata, kaaan?
Maka, beberapa finalis pun berlomba memohon hibahan suara, termasuk saya, xixixi, geliii! *Makasiii Teh Ari, makasiii mba Aan…:-*

Nah, teman-teman, mau yaa bantu saya? *teuteuuub promosii*
Silakan mampir kesini klik link ini saja yaa
Lalu mengetik link tulisan saya http://annidalucu.multiply.com/journal/item/233 di kolom reply.

Eh iya, kata jeng Ari, untuk voter juga ada hadiahnya lhoo ๐Ÿ˜‰

Super Finalis Lomba Menulis Traveling

Kalau 18 besar tulisan yang lolos dikatakan sebagai finalis, maka apa sebutan yang pas untuk kelompok 5 besar?

Super Finalis! *ngarang abis!* ๐Ÿ˜€

Alhamdulillah sampai sore ini tulisan saya masuk dalam kelompok 5 besar lomba menulis trveling yang diadakan presiden MP Indonesia disini

http://srisariningdiyah.multiply.com/journal/item/578?mark_read=srisariningdiyah:journal:578&replies_read=591

Tapi, saya tidak boleh hepi dulu rupanya. Sebab persaingan semakin ketat. Para super finalis saling kebut-kebutan jumlah suara dan…dengan segala kerendahan hati, saya mohon bantuan teman-teman MPers untuk mendongkrak suara saya.

Caranya? Cukup mengetik link tulisan saya ini

http://annidalucu.multiply.com/journal/item/233 di kolom reply.

4 tulisan lain, up to you.

Terimakasih tak terhingga untuk teman-teman nan baik hati .

Inilah Finalis Lomba Menulis Traveling

Siapakah mereka? Inilah ini mereka itu *gaya Pidi Baiq :D*

  1. http://rumahijau.multiply.com/journal/item/116
  2. http://myshant.multiply.com/journal/item/412
  3. http://bundaelly.multiply.com/journal/item/345
  4. http://tiarrahman.multiply.com/journal/item/612
  5. http://telaphia.multiply.com/journal/item/68
  6. http://ikkens.multiply.com/journal/item/45
  7. http://lovusa.multiply.com/journal/item/170
  8. http://ibujempol.multiply.com/journal/item/201
  9. http://ungguls.multiply.com/journal/item/596
  10. http://annidalucu.multiply.com/journal/item/233
  11. http://asifortwins.multiply.com/journal/item/93
  12. http://cambai.multiply.com/journal/item/202
  13. http://diansya.multiply.com/journal/item/192
  14. http://bruziati.multiply.com/journal/item/156
  15. http://arynsis.multiply.com/journal/item/104
  16. http://sepasangmatabola.multiply.com/journal/item/194
  17. http://omhanif.multiply.com/journal/item/303
  18. http://diananovita.multiply.com/journal/item/73

Alhamdulillah tulisan saya ikut ‘nangkring’ di atas.
Lalu apa yang terjadi? Ternyata sang Presiden MP Indonesia bimbang memilih pemenang. Maka…penjurian diserahkan ke tangan eh ke keyboard para MPers.
Caranya? 5 tulisan yang meraih suara terbanyak yang akan mendapat hadiah dari sang Presiden.

Oleh karena itu, sudilah sudi teman-teman singgah ke link sang presiden, sebagai penyelenggara lomba ini:

http://srisariningdiyah.multiply.com/journal/item/578?mark_read=srisariningdiyah:journal:578&replies_read=136

Kemudian mengetik link tulisan saya: http://annidalucu.multiply.com/journal/item/233 di kolom reply. Empat tulisan lain, up to you-lah ๐Ÿ™‚

Terimakasih temaaans.