Berapa Buku di Juli?

Jujur, ini nyontek abis kebiasaan Mba Dee (http://deeyand.multiply.com) dan Teh Rini (http://rinurbad.multiply.com). Nyontek yang baik-baik gapapa kan Mbak, Teh?

Keinginan nyontek sudah lama, tapi baru terwujud sekarang.

Yah, berapa buku yang berhasil dilahap di bulan Juli? Uhm…cuma sedikit buku. Kebanyakan fiksi dewasa. Nonfiksi secuil saja, itu pun yang ringan dicerna. Sisanya, puluhan buku anak-anak, yang mungkin di bulan-bulan selanjutnya, tidak akan ditulis lagi judulnya. Kenapa? Karena hampir tiap hari saya membaca buku anak-anak. Kenapa? Sebab begitulah kebiasaan balita saya setiap mau tidur ataupun melihat saya tengah berduaan dengan buku :D.

Jadi, ini beberapa judul yang sempat saya tamatkan di bulan Juli:

1. ****SAMITA, Bintang Berpijar di Langit Majapahit. Saya pingin cari lagi buku TASARO. Adakah yang tahu dimana saya bisa mendapatkan GALAKSI KINANTI, SETELAH ITU MATI?, PITALOKA, TAKHTA NIRWANA?

2. ****KATASTROFA CINTA. Afifah Afra memang top! Penulis handal. Penulis cerdas.

3. ***Because She Can (Bos Dari Neraka). Imho, temanya biasa. Setting penerbitan membuatnya jadi tak terlalu biasa.

4. **MI FAMILIA

5. ***THE REMAINS OF THE DAY (Puing-Puing Kehidupan). Ceritanya lambat.

6. ***PARIS LUMIERE de l’Amour. Bikin pingin ketemu Kak Ita:)

7. ***LUKA DI CHAMP ELYSSES. Bikin pingin ke Paris 😀

8. *****THE ROAD TO THE EMPIRE. Alhamdulillah, buku yang mengatar saya menjadi pemenang hiburan lomba menulis resensinya.

9. ***LA TAHZAN FOR MOTHERS. Alhamdulillah, ikut kuis mengomentari buku ini dan menang.

10. ****GADING-GADING GANESA. Segar, asyik bacanya. Yang bukan anak ITB perlu baca ini, apalagiiii…yang duduk di bangku ITB 😉

11. ***DRUNKEN MOLEN.

12. *****SERENADE DUA CINTA. Gimana ya kelanjutan Hening?

13. ***WEEDFLOWER (BUNGA LIAR).

14. ****JODOH DARI NEGERI SEBERANG. Kisah-kisahnya menakjubkan!

Buku anak-anak, nanti ajalah nulisnya 😀

Oh…Begini Menulis Resensi

Saya ‘mencatut’ dari MP mba Dee (http://deeyand.multiply.com), hehe, gapapa ya Mbak, mencatut tanpa ijin 😀

Kriteria resensi yang komprehensif, antara lain:
– Menberi ulasan yang singkat dan padat mengenai isi buku
– Memaparkan kelebihan dan kelemahan buku
– Mengulas perbandingan buku dari penulis yang sama atau buku sejenis dari pengarang lain
– Mengulas manfaat buku bagi pembaca
– Mengoreksi kelengkapan karya (EYD, dsb)

Sepintas, nampaknya kriteria itu sederhana. Tapi…mewujudkannya dalam bentuk tulisan? Aduhai…gampil-gampil syusyah ternyata yaaa…? 😉

Saya memang belum pintar menulis resensi, masih harus banyak belajar. Belum rajin juga menulis resensi, harus banyak mencontoh teman-teman saya yang rajin menulis resensi seperti Teh Rinurbad, Leilaniwanda, lovusa, mba Nita Chandra dll (maaf ya, beberapa ditulis MP ID-nya, karena lebih ingat dengan MP IDnya daripada nama aslinya :”>).

Mudah-mudahan semangat mereka tertular kepada saya .

Ikut Kuis 1 LPPH dan…Menang!

Alhamdulillah…seneeeeeng banget. Kirim komentarnya di hari terakhir deadline kuis, ditulis dari laptop tetangga pula, secara komputer di rumah sedang sakit, uhuks.
Tahunya jadi pemenang setelah mampir ke Multiply salah satu pemenang, makasi ya Mba Eka 🙂
*****
Ini beritanya:

dari posting Mbak Rahmadiyanti Rusdi di FB niy…

Sebelumnya, turut berduka untuk korban Bom Marriot & Ritz Carlton.
Bukan bermaksud “senang-senang di atas derita orang lain”, tapi memang hari ini harus diumumkan pemenang Kuis Buku gratis tahap 1 (duh, nggak enak banget ya intro-nya… abis i’m numb… bom tadi pagi, saya baru aja tahu, telmi banget dah… jadi langsung baca berita yang bererot deh)

Oke, berikut pemenang komentar tentang buku La Tahzan for Mothers:
1. Eka Natasha
2. Stefani Fadinata
3. Yudith Fabiola

3 pemenang mendapat buku terbaru LA TAHZAN FOR WORKING MOTHERS

Dan, ini komentar tentang buku LA TAHZAN FOR MOTHERS yang menang:

“Buku LA TAHZAN FOR MOTHERS menjadi pemicu semangat bagi semua ibu agar bisa menemukan hikmah dari pengalaman hidup diri sendiri dan orang lain, belajar bersabar dalam kehendak Allah Swt., berbuat demi kebaikan menuju ridha-Nya dan ikhlas menjalani kehidupan karena sesungguhnya Allah Yang Maha Tahu segala yang terbaik bagi umat-Nya, mengingatkan supaya bertambah rasa syukur dan menghargai segala nikmat dan rahmat-Nya di kehidupan kita.”
-Eka Natasha

“Menjadi ibu bukanlah hal yang mudah, apalagi jika sambil bekerja. Harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan keperluan setiap hari, mengurus suami dan juga anak. Jika saya dan suami lelah, terkadang tingkat emosi menjadi tinggi. Buku “LA TAHZAN FOR MOTHERS” memberi saya inspirasi untuk tetap bersabar dan menikmati tiap rutinitas. Tapi, selama kita ikhlas dan menyerahkan tiap problem kepada Rabb, insya Allah langkah kita akan semakin mudah. Jangan pernah mengeluh dan bersedih, ada Dia yang selalu melihat serta mendengar tiap doa kita, memilihkan yang terbaik meski kadang kita kurang suka.”
– Stefani Fadinata

“Buku dengan sampul didominasi warna hitam dan jilbab ceria Mbak Asma, seolah-olah ingin mengatakan kepada saya, begitulah perasaan seorang ibu dalam menjalani perannya. Berganti-ganti warna hati, dari ceria kepada gundah, dari bahagia menjadi duka. Perasaan saya teraduk-aduk membaca buku ini. Isinya mewakili suara hati para ibu, mungkin perasaan para ibu di hampir segala penjuru ruang bumi. Kekalutan saat menghadapi rumah seperti kapal pecah-tidak ada masakan-segunung setrikaan, kecemasan menghadapi anak yang sering sakit, ketegangan menghadapi berbagai komentar orang-orang terdekat tentang berbagai hal yang menyangkut perihal mengurus anak, kekesalan menghadapi pertengkaran antar anak. Sungguh, semua benar adanya. Tidak mengada-ada. Dari mereka, para kontributor buku itu, saya belajar dan menyentil diri saya untuk selalu bersyukur untuk ujian ‘kecil’ yang mungkin pernah mengisi hari-hari saya.”
– Yudith Fabiola

[Cernak 100 Kata]: NASIB NATALIA

Nasib Natalia

“Aku kesal!”
“Kepada?”
“Natalia karena sering mengejekku Si Pesek…”
“Lalu?”
“Aku tidak mau sekolah!”

Mama membelai rambutku.

“Kalau tidak sekolah, tidak ketemu Bu Rinda…”

Bayangan Bu Rinda menari-nari dipelupukku. Guru yang baik.

“Aku mau sekolah deh.”

*****


“MAMAAA…,” Teriakku.

Sepulang sekolah, aku berlari agar segera sampai rumah.

“Minum dulu. Lihat keringatmu, bercucuran.”
Segelas minuman kutandaskan.
“Natalia tidak sekolah!” kataku bersemangat.
“Kenapa?”
“Bu Rinda bilang tulang hidung Natalia patah!”
“Innalillaah…”
“Dia jatuh tersungkur sewaktu bermain sepeda. Hidungnya harus dioperasi. Natalia tidak bisa sekolah selama sebulan.”

“Kamu masih kesal dengannya?”

Aku terdiam lama lalu menggelengkan kepala.

“Kasihan Natalia ya, Ma.”

*****

Alhamdulillah, pas 100 kata.
Tulisan ini diikutsertakan di lomba menulis cernak 100 kata yang diadakan disini:
http://arynsis.multiply.com/journal/item/89?mark_read=arynsis:journal:89&replies_read=58

*****

Ketika Annida membaca tulisan ini, dia bilang, “Ummi, ini story untuk anak-anak ya?”
Senang deh Ummi mendengarnya karena berarti coretan Ummi ‘berbau’ anak-anak *PeDe* hehe