[Sahabat] Meski Kini Statusku Emak

15 tahun silam

Aku baru saja hendak keluar mushalla, ketika berjumpa denganmu. Tampangmu tak terlalu ceria saat itu. Mungkin karena kamu lecek. Padahal itu pertemuan pertama. Beberapa waktu lampau. Lima belas tahun lalu. Namun, meski penampilanmu cenderung lusuh kala itu, kamu tetap menarik bagiku. Mungkin karena aku menyukai cerita. Dan dari perkenalan singkat denganmu saat itu, aku langsung tahu bahwa kamu piawai sekali dalam bercerita. Sayang, aku harus segera kembali ke kelas jadi tidak bisa lama-lama bercengkerama denganmu.

*****


Kamu membuatku kangen. Sejak pertemuan pertama itu, sungguh!
Aku teringat cerita-ceritamu. Kamu pintar menghibur. Kadang aku tersenyum geli ketika menyimak ceritamu. Tapi, tak jarang kalimat-kalimat yang meluncur darimu membuatku tercenung sesaat. Pendeknya, selalu ada yang tersisa di hati setiap usai berduaan denganmu (meminjam kalimat Gola Gong, gapapa kan?).
Maka, setiap mampir ke mushalla sekolah aku selalu menyempatkan bertegur sapa denganmu. Meski cuma sebentar tapi cukup untuk membuat hatiku segar.
Sayangnya lagi, kamu tak selalu datang ke mushalla sekolahku. Sesekali saja. Kamu membuatku dibetot rindu. Biasanya, ketika rindu itu memuncak baru kamu datang. Membawa segudang cerita yang sesuai dengan suasana hatiku saat itu. Ah…aku semakin menyukaimu.

*****

“Kau dan dia memang tidak jalan berdua. Tak pernah juga saling berpegangan tangan. Apalagi bersitatap mata. Namun, hatimu dan hatinya saling terpaut, dirimu dan dirinya dipagut rindu. Dan Allah tidak menginginkan itu. Allah ingin dirimu dan dirinya suci dari mencintai selain diriNya…”
Aduh…kata-katamu terus terngiang dibenakku. Menyertaiku kemanapun aku melangkah dan jujur saja, mempengaruhiku! Namun, aku tak menyesal mendapatkannya. Nasihatmu justru menjadi penjelasan paling masuk akal tentang mengapa aku tak perlu menjalin ikatan apapun dengan seorang lelaki kecuali dalam ikatan suci pernikahan.
Seribu…tidak…sejuta…eh, tidak…sedunia terima kasih untukmu atas pencerahan ini.


*****

Antara 13 sampai 9 tahun silam

Hore…statusku mahasiswi sekarang. Aku kuliah! Kamu pasti senang, kan? Aku juga senang melihatmu yang semakin hari semakin cantik. Kamu memang selalu berbenah diri. Kamu selalu merasa harus memperbaiki diri. Sayang beribu sayang, kegiatan di kampus membuatku jarang bertemu denganmu. Tak sesering dulu ketika aku masih berseragam putih abu-abu. Tapi kamu percaya kan kalau aku tak melupakanmu? Nasihatmu pun terus melekat dibenakku. Selalu.

9 tahun silam

Aku tak lagi menetap di tanah air. Aku memasuki babak baru dalam kehidupanku. Peranku bertambah kini. Menjadi istri. Menjadi ibu.
Dua tahun pertama di perantauan, tak sekalipun aku bertemu dengamu. Aktivitasku dalam rumah tangga, dari pagi ke pagi, dari bangun tidur sampai kembali tidur perlahan-lahan membuatku tak lagi memikirkan dirimu. Seperti ada yang hilang, walau aku tak tahu apa. Mungkin cerita-ceritamu? Nasihat-nasihatmu?
Ah…bagaimana keadaanmu kini? Bagaimana caraku bertemu denganmu?

Sekitar 5 tahun silam hingga kini

Wahai…kamukah yang berada dihadapanku ini? Aku benar-benar pangling. Cantiknya kamu. Tak bosan-bosan aku memandangmu. Kudekap dirimu erat. Akhirnya, kita kembali bertemu. Atas kebaikan seorang teman, ia membawamu kesini. Ke rumahku. Tak cukup kata-kata untuk menggambarkan sukacitaku.

*****

Kita kembali sering bertemu. Aku kembali menyimak cerita-ceritamu. Semakin hari kecerdasanmu semakin memikat. Informasi darimu semakin beragam. Wawasanku semakin luas sejak berinteraksi denganmu beberapa waktu belakangan ini. Aku juga angkat topi untuk kekuatanmu hingga hari ini. Disaat orang lain berlomba-lomba menyuguhkan pemandangan tak senonoh untuk meraup penggemar, kamu teguh menghidangkan kebaikan. Kamu memang layak menyandang sebutan itu, “Inspirasi Tak Bertepi.”

Kamu harus bertahan, Annida sahabatku, meski banyak ujian menghadang langkahmu. Kehadiranmu di blantika media massa negeri kita mencerahkan banyak hati. Menyelamatkan banyak pemuda. Memberi alternatif lain untuk mata dan jiwa mereka.
Aku salah satu contoh mantan remaja yang tercerahkan olehmu. Tetap setia padamu meski kini statusku emak-emak dan akan senantiasa setia selama kamu tetap mengusung cahaya.
Janji, ya?

Annida sahabatku,

*****
Lombaan yoook 😀
http://bundaelly.multiply.com/journal/item/221?mark_read=bundaelly:journal:221&replies_read=372

google